Typo kabarin ya ngap~
•
•
•
>> Di Apartemen Erwin-Ata
"Hampir saja ya, Kapten!" seru Jean iseng memancing kejadian di cafe tadi. Ata hanya mengabaikannya saja. Jika diladeni, maka itu tidak akan pernah berakhir sampai Jean merasa bosan.
"Jenderal Besar, ada apa Anda menghubungi saya tiba-tiba seperti ini?" tanya Ata ke alat komunikasi khususnya. Membuat Jean seketika diam dan kembali bersikap serius.
"Apa kau sungguh berniat mengambil misi yang berkaitan dengan kelompok pengikut aliran sesat itu?"
"Kemungkinannya seperti itu. Saya dan rekan juga masih mengumpulkan beberapa informasi yang sekiranya akan kami butuhkan. Informasi apapun mungkin akan berguna nantinya. Apa Anda mengetahui beberapa informasi tentang kelompok tersebut?" tanya Ata.
"Kau tidak perlu menjaga kata-katamu saat berbicara denganku, karena aku senang jika kau bersikap arogan. Akan kuceritakan padamu tentang kejadian dua puluh dua tahun lalu."
"Akan saya dengarkan," jawab Ata. Jean langsung mendekatkan kepalanya dengan kepala Ata karena ingin ikut mendengarkan cerita itu.
"Kelompok tersebut bernama Meiosei. Aku tidak tahu sejak kapan kelompok itu didirikan, namun mereka sudah ada sejak lama. Mereka selalu mencari seseorang dengan tanda lahir yang sama di setiap generasi. Karena mereka percaya pemilik tanda tersebut adalah pembawa keberuntungan."
"Apa? Itu sangat gila!"
"Dahulu, mereka akan menangkap pemilik tanda tersebut dan membunuhnya. Kemudian mereka akan memakan daging serta meminum darah orang yang memiliki tanda itu. Karena mereka semua percaya hal itu akan memberi mereka keberuntungan. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan mereka sekarang."
"Yah, sepertinya kita berurusan dengan sekelompok orang yang sakit jiwa," balas Ata dan diangguki Jean. "Tapi bagaimana Anda bisa mengetahui informasi sampai sebanyak ini? Bahkan kami sedikit kesulitan karena petunjuk yang sangat minim."
"Aku tahu kau pernah melihat informasi bahwa kejadian serupa membuat seorang prajurit pasukan khusus menjadi korban, dan prajurit itu adalah adik kandungku. Dia diburu karena tanda lahir aneh yang dimilikinya dan harus mati dengan alasan itu. Bahkan aku tidak bisa melihat mayatnya."
Mendengar kenyataan itu membuat Jean terkejut. Dia hampir tidak percaya dengan kenyataan yang didengar oleh telinganya sendiri. Lagipula tidak ada gunanya Jenderal Besar berbohong kepada mereka.
'Jadi informasi yang sebelumnya diberikan Kak Seigen benar. Tapi aku tidak menyangka jika orang itu adalah adik Jenderal,' pikir Ata.
"Baik, terimakasih informasinya Jenderal. Saya akan menyiapkan peralatan dan mengumpulkan unit M7A1 sembari mengumpulkan beberapa informasi lagi," ucap Ata.
"Good luck, A-01!"
Komunikasi tersebut terputus begitu saja. Jean hanya menatap Ata menunggu keputusannya, sedangkan Ata masih berpikir tentang beberapa hal ke depan.
----------------------
Helaan napas berat Sang Jenderal terdengar hingga ke penjuru ruangan. Mengakhiri komunikasi dengan Ata membuatnya teringat kembali dengan kejadian yang lama. Dia harap Ata akan baik-baik saja dan berhasil dengan misinya.
***
Hari itu, di sebuah kamar apartemen. Seorang wanita berdiri di hadapannya dengan bibir yang tersenyum, namun matanya jelas-jelas menangis. Tangan kanan wanita tersebut menggenggam erat tangan kecil bocah laki-laki, yang berwajah sangat mirip dengannya.
"Kakak! Sepertinya aku akan mati!" seru wanita tersebut pelan dengan bibir yang bergetar dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Apa yang kau katakan? Hentikan semua omong kosongmu! Aku pasti bisa melindungimu jadi percaya saja padaku!" teriak Jenderal muda tersebut pada adiknya dan mendekat ke arah adiknya.
"Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan lain! Jika aku terus bersama kalian, kalian juga akan menjadi korban kebrutalan mereka!" teriak wanita itu membalas teriakan kakaknya membuat bocah kecil di sampingnya terkejut.
"Aku tidak peduli dengan nyawaku selama aku bisa terus melindungi kalian!" teriak Jenderal muda tersebut frustasi.
Wanita itu menggeleng dan tertawa keras karena merasa frustasi. Dia tahu betul kenyataan yang harus dihadapinya berkat tanda lahir di tubuhnya itu. Dimana hal yang dikatakan dapat membawa keberuntungan? Yang bisa dimiliki olehnya hanya penderitaan.
Akhirnya wanita itu menatap dalam manik mata kakaknya dan tersenyum. Kemudian berkata, "Kakak, bahkan mereka sudah membunuh suamiku sejak aku masih mengandung anak ini." Lagi-lagi wanita itu menangis membuat kakaknya semakin khawatir.
"Kak, tolong kabulkan dua permintaanku!" pinta wanita itu serius. Mungkin itu adalah kata-kata paling serius yang pernah diucapkan selama hidupnya. Sang Jenderal muda saat itu hanya bisa mengangguk mengiyakan keinginan adik semata wayangnya.
"Baiklah. Katakan saja apapun yang kau inginkan!" jawab Jenderal muda itu dan menatap adiknya dengan pandangan khawatir. Namun dia bertekad akan mengabulkan apapun permintaan adiknya itu.
"Tolong rawat putraku dengan baik! Gunakan saja nama keluarga kita padanya, karena mulai hari ini dia menjadi putramu. Dan yang kedua, tolong lindungi penerusku di generasi putraku nanti!" pinta wanita itu dan tersenyum kemudian menyerahkan tangan anak kecil yang sejak tadi digenggam pada kakaknya.
Wanita itu tersenyum getir dan bersimpuh untuk menyejajarkan tingginya dengan bocah laki-laki itu. Kemudian mengusap kepala bocah itu dengan sayang dan memeluknya erat sebelum melepasnya.
"Mulai hari ini kamu akan tinggal disini bersamanya. Orang ini adalah pamanmu dan dia pasti akan menjagamu dengan baik. Oh, kamu juga bisa memanggilnya 'ayah' jika mau. Jadilah anak yang penurut ya, Sayang!" pintanya dan diangguki bocah itu.
"Ibu tidak akan tinggal bersamaku disini?" tanya bocah empat tahun itu akhirnya bersuara. Tenggorokan wanita itu tercekat mendengar pertanyaan putranya. Meninggalkan anaknya dan berjalan sendirian menuju kematian adalah keputusan terberat yang terpaksa dipilihnya.
"Ibu harus kembali bekerja jadi tidak bisa tinggal bersamamu disini. Kamu paham kan, Sayang?" tanyanya pelan mencoba membuat putra kecilnya mengerti. Bocah itu mengangguk dan dan menggenggam tangan besar ibunya. Kemudian berkata, "Aku akan menunggumu kembali. Ibu akan kembali lagi untuk menemuiku, 'kan?"
Wanita itu dengan berat hari memaksa untuk tersenyum kemudian memeluk putranya lagi. Bahkan untuk menjawab pertanyaan terakhir dari putranya dia sudah tidak sanggup. Dia kemudian berdiri dan berpamitan pada kakaknya dan pergi dari tempat tersebut.
Jenderal muda tersebut sangat menyesal karena dulu tidak bisa mencegah kepergian adiknya, dan tidak menyangka jika itu adalah terakhir kalinya dia bisa melihat dan berbicara dengan wanita itu. Wanita itu memilih mengorbankan diri dengan menyisakan harapan kedua permintaannya akan dikabulkan.
***
Kembali mengingat memori tersebut membuat jenderal besar kembali bersedih. Dia bertahun-tahun terus berpikir dan berusaha mengabulkan harapan yang kedua dari adiknya.
"Aku tentu bisa memenuhi harapanmu yang pertama, tapi aku tidak yakin dengan harapanmu yang kedua. Karena aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya untuk menemukan penerusmu. Dari semua kandidat, tidak ada satu pun yang memiliki tanda sepertimu," ucap pria itu frustasi dan mengusap wajahnya kasar.
•
•
•
Sekian dulu ya ngap~
Silakan vote dan krisarnya~
-Ataaa
KAMU SEDANG MEMBACA
I'll Fix It [Levi x OC]
FanfictionLevi Ackerman, dokter tampan berumur 26 tahun yang sekaligus pemilik Rumah Sakit ternama. Dia terus hidup dengan penyesalan karena menganggap diri sebagai penyebab kepergian kekasihnya. Ketika dia tahu bahwa Ata-kekasihnya- kembali, dia lagi-lagi be...
![I'll Fix It [Levi x OC]](https://img.wattpad.com/cover/247680839-64-k788255.jpg)