42 - Hubungan yang Membaik

189 31 4
                                        

Beritahu jika ada typo!
•
•
•

Setelah Levi memindahkan nampan makanan yang sudah dihabiskan Ata, semua pria langsung keluar dari kamar membiarkan Ata beristirahat. Awalnya Ata ingin protes, namun ketiga pria itu menunjukkan raut wajah tidak ingin dibantah.

Setelah membereskan semuanya, ketiga pria itu berkumpul di ruang tv. Jean dan Eren menatap Levi intens membuat yang ditatap merasa risih.

"Ck, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Levi membuat kedua orang itu menghela napas gusar.

"Kenapa kau bisa tau Aurel sakit?" tanya Eren to the point dan menatap Levi penuh selidik.

"Mikasa," jawab Levi tenang membuang Eren menepuk kepalanya pelan dan Jean mengangguk.

"Aku lupa kalian bersaudara!" seru Eren menyadari kebodohannya.

"Lalu, apa tujuanmu? Siapapun yang melihat ekspresi Ata tadi, pasti sadar kalau gadis itu tidak nyaman dengan keberaanmu," jelas Jean yang tanpa disadari menusuk hati Levi.

"Ada kesalahpahaman diantara kami, dan aku berniat untuk meluruskannya. Tapi sepertinya dia terlanjur membenciku," jawab Levi mengundang simpati orang yang mendengarnya.

"Aurel tidak pernah menuduh sembarangan. Jadi jika dia membencimu, kau pasti melakukan kesalahan besar untuk itu. Persis seperti kata-katanya, 'ada alasan untuk setiap tindakan'. Aku benar 'kan, Jean?" jelas Eren dan diakhiri pertanyaan.

Jean mengangguk mantap membuat wajah Levi semakin muram. Levi sangat sadar akan kesalalahannya, namun masih mengharapkan kesempatan kedua dari gadis itu.

"Apa menurut kalian aku bisa mendapat kesempatan kedua?" tanya Levi tiba-tiba membuat Eren tersedak dan Jean melotot.

"Entahlah, kami tidak bisa menebak pikiran gadis itu. Tapi aku berharap kesalahpahamannya segera diselesaikan," jawab Eren dan dibalas senyum pertamda setuju dari Jean.

"kalian kan menyukainya? Kukira kalian senang jika kami terus berselisih," balas Jean mengundang gelak tawa dari kedua pria di dekatnya.

"Tentu saja kami menyukainya! Tunjukkan padaku laki-laki mana yang bisa menolak pesona seorang gadis sepertinya!" seru Eren heboh membuat Levi mengernyit tidak suka.

"Kau tidak perlu menyipitkan matamu yang tajam itu!" lanjut Eren lagi dan masih tertawa.

"Kami menyayanginya, dan itu fakta yang tak terbantahkan. Tapi, seperti yang kau lihat, dia menganggap kami layaknya saudara. Jadi kau tidak perlu menganggap kami sebagai saingan. Kami sudah dianggap kalah bahkan sebelum sempat bertanding," jelas Jean dengan nada getir di ujungnya.

"Yak, cukup! Apa kalian tidak merasa bosan terus membicarakanku?" tanya Ata dengan suara lantang sambil menuruni tangga.

"Eh? Kenapa kau bangun? Seharusnya kau beristirahat saja!" seru Eren panik dan berjalan menghampiri Ata.

"Aku sudah sembuh dan baik-baik saja sekarang, jadi tenanglah!" jawab Ata dan memilih duduk di posisi kosong dekat Jean, tepat di samping Levi.

"Mendekatlah!" perintah Jean yang diangguki Ata. Jean membuat Ata menyandarkan kepala ke bahunya. Bahu Ata dirangkul dan ditepuk pelan untuk memberikan rasa nyaman.

Ata hanya diam diperlakukan seperti itu, sedangkan yang berada di sampingnya hampir positif mengeluarkan api dari neraka. Membuat Eren diam-diam terkikik geli karena keisengan Jean.

Tak berapa Lama, Erwin pulang dan terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Tapi karena wajah Levi yang terlihat semakin kusut, membuat Erwin ikut terkekeh bersama Eren.

"Besok aku akan pergi dengan Levi, karena aku sudah berjanji padanya," ucapan Ata yang pelan namun tiba-tiba itu mengejutkan semua orang yang ada disana, bahkan Levi sekalipun. Dan membuat ekspresi wajahnya terlihat jauh lebih baik.

"Tentu. Hanya kalian berdua?" tanya Erwin memastikan dan dibalas anggukan. Erwin melirik Levi dan mengacungkan jempolnya membuat Jean menggelengkan kepala.

"Itu namanya kencan, 'kan?" tanya Eren iseng mengundang decakan Ata. "Aku tidak peduli, bagiku ini hanya sebatas menepati janji," ucapnya lagi.

-----------------------------

Keesokan harinya, Levi menjemput Ata menggunakan sepeda motor. Dia sengaja agar Ata tidak bisa menghindar ataupun sengaja duduk jauh darinya

Ata sudah menunggu kedatangan Levi, bahkan sudah terlebih dahulu izin kepada tiga pria jomblo di rumah sebelum berangkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ata sudah menunggu kedatangan Levi, bahkan sudah terlebih dahulu izin kepada tiga pria jomblo di rumah sebelum berangkat. Begitu Levi tiba, Ata hanya mendengus pelan melihat pakaian Levi. Karena pakaian mereka sekarang sangat kompak, seolah mereka sudah berjanji sebelum memakainya.

Ata mendekat ke arah Levi dan malah berdecak. Dia segera memakai helm berwarna hitam miliknya, dengan model yang juga hampir persis seperti milik Levi. Pada dasarnya mereka berdua memang memiliki selera yang sama.

"Maaf," ucap Ata sebelum menyentuh pundak Levi dan menaiki motornya. Levi mengangguk dan tersenyum tipis dari balik helm berwarna hitam miliknya. Ata masih persis seperti dulu, tidak ada yang berubah kecuali hubungan mereka.

Di perjalanan, karena kesal tidak ada pembicaran apapun, Levi sengaja mempercepat laju motornya dengan tiba-tiba, membuat Ata refleks memeluk pinggang pria itu. Levi terkekeh pelan membuat Ata gusar dan langsung melepaskan pelukannya dan memukul punggung Levi pelan.

"Kamu ingin ke mana?" tanya Levi dan dibalas gelengan pelan Ata. "Aku tidak punya tujuan, jadi terserah Kakak saja," jawab Ata membuat Levi tersenyum. Dia suka setiap kali Ata memanggilnya 'kakak'. Walau Ata tidak lagi memeluk Levi, tapi sekarang fokusnya sudah teralihkan.

"Apa Erwin menetapkan batas waktu untukmu?" tanya Levi berbasa-basi yang hanya dibalas gelengan Ata. Padahal sudah jelas Levi tau Erwin tidak akan melakukan hal itu, kecuali Ata sedang bersama orang-orang yang tidak dikenal olehnya.

"Kalau begitu aku akan mengantarmu kembali sebelum tengah malam," ucap Levi lagi membuat Ata terkejut. "Kenapa begitu?" tanya gadis itu.

"Agar kita punya banyak waktu. Lagipula aku tidak ingin kereta kudamu menghilang," lanjut Levi membuat Ata melongo bingung. Detik kemudian dia sadar dan terkekeh pelan.

"Aku bukan bagian dari dongeng Cinderella, jika Kakak lupa. Lagipula karakternya tidak cocok untukku, dan aku juga bukan seorang Princess," jelas Ata dan kembali mengalihkan perhatiannya ke pemandangan.

"Kamu memang bukan seorang Putri, tapi kamu akan selamanya jadi Ratuku," ucap Levi membuat wajah Ata menunjukkan eskpresi tidak peduli dan dilanjut kekehan Levi.

"Kamu masih membenciku?" tanya Levi pelan namun bisa didengar Ata dengan jelas. Ata terdiam beberapa saat sebelum menjawanya, "Aku tidak membencimu, Kak. Aku hanya kecewa padamu, itu saja."

"Dan untuk seterusnya, tolong  perlakukan pasanganmu dengan semestinya. Kuharap hubungan kita memberimu banyak pesan," jelas Ata membuat Levi tersentak.

"Bagiku, kamu satu-satunya yang akan menjadi Ratu-ku," balas Levi membuat Ata lagi-lagi mengabaikannya.

Ya, segini sudah cukup. Walau tidak kembali menjadi sepasang kekasih, paling tidak mereka sekarang akur. Levi merasa bersyukur untuk itu. Untuk kelanjutan hubungan mereka kedepannya, biarkan saja mengalir seperti semestinya. Namun Levi terus saja berharap agar penantiannya tidak sia-sia.

•
•
•
Cukup dulu ya ngantuk banget
Makasih yang baca semoga enjoy
-Ataaa

I'll Fix It [Levi x OC]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang