Levi juga ikut bersama Erwin membawa barang-barangnya masuk ke vila. Setelah meletakkan barang tadi, Erwin pergi sebentar karena ada urusan. Jadinya hanya ada Levi dan Ata yang sedang tidur di sofa. Ata tidur dengan kondisi resleting jaket yang tertutup rapat, ditambah selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
'Kenapa dia tidur disini?' batin Levi saat melihat Ata.
Ata bergerak. Dia duduk tiba-tiba dan menatap Levi. Dia melepas jaket yang digunakan dan meletakkannya ke sembarang tempat. Kemudian melipat selimut yang sebelumnya menutupi kakinya hingga bisa dijadikan bantal dan kembali tidur. Levi terperangah melihatnya.
Levi kemudian mendekat ke kepala Ata dan langsung menyentuh keningnya. Ternyata yang dikatakan Erwin benar, Ata tidak demam, dia hanya mengantuk. Ata yang terkejut disentuh seperti itu refleks menepis tangan Levi dengan keras dan langsung terduduk.
"Apa yang senior lakukan?" tanya Ata pelan.
"Kukira demam," gumam Levi dan hendak beranjak pergi. Punggung tangan Levi terlihat sedikit memerah bekas pukulan Ata.
"Maaf... Dan terimakasih," ucap Ata tulus.
"Untuk apa?" tanya Levi bingung.
"Maaf karena sudah memukulmu. Dan terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku," jawab Ata.
Levi hanya mengangguk dan pergi. Dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Dia benci karena hubungannya dengan Ata sekarang terasa sangat canggung. Tapi dia juga bingung harus bagaimana untuk memulainya lagi.
"Tolong tunggu sebentar!" teriak Ata membuat Levi menoleh.
"Apa senior tau dimana Erwin?" tanya Ata dan melihat-lihat sekitarnya. Kemudian beranjak dari duduknya dan kembali memungut jaket yang tadi dilemparnya.
"Katanya ada urusan. Butuh sesuatu?" tanya Levi.
"Hm... Tidak. Terimakasih," ucap Ata sedikit menunduk dan mulai pergi.
Entah muncul keberanian dari mana, Levi mencegat tangan Ata. Ata tersentak dan seketika berbalik.
"Ada apa?" tanya Ata.
"Namaku," gumam Levi.
"Hah? Apa?" tanya Ata bingung.
"Panggil namaku," ucap Levi menatap Ata. Tatapannya memang sekilas terlihat seperti sedang mengintimidasi, namun Ata tahu Levi tidak berniat seperti itu.
" ... "
"Panggil namaku, Aurel!".
" ... "
Melihat reaksi Ata yang hanya diam menatapnya, Levi semakin frustasi. Apa gadis didepannya ini tidak mengerti? Levi ingin Ata memanggilnya dengan namanya, bukan senior atau apapun yang sejenisnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ata.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" teriak Levi frustasi membuat Ata berjengit karena terkejut.
"Panggil namaku, seperti dulu!" ucap Levi terdengar seperti memohon dan menggenggam kedua tangan Ata. Dia menatap wajah Ata yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Baiklah. Tolong lepaskan tanganku, Levi!" ucap Ata tanpa emosi.
Ata menyentak tangannya tidak terlalu keras dan membuat genggaman Levi terlepas. Levi yang masih terkejut tidak bereaksi. Setelah itu Ata langsung berbalik ingin pergi. Karena tak hati-hati, kepalanya jadi terantuk saat berbalik. Levi ingin melihat apakah Ata terluka atau tidak, namun Ata menahannya.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit tergores," ucap Ata dan berlalu ke kamarnya.
Setelah tiba di kamar yang akan digunakan para gadis, Ata jadi ingin menganti pakaiannya. Dia memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dan tetap dengan celana yang sama. Kemudian membersihkan luka goresan yang ada di pelipisnya, dan kembali tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'll Fix It [Levi x OC]
FanfictionLevi Ackerman, dokter tampan berumur 26 tahun yang sekaligus pemilik Rumah Sakit ternama. Dia terus hidup dengan penyesalan karena menganggap diri sebagai penyebab kepergian kekasihnya. Ketika dia tahu bahwa Ata-kekasihnya- kembali, dia lagi-lagi be...
![I'll Fix It [Levi x OC]](https://img.wattpad.com/cover/247680839-64-k788255.jpg)