Kabari kalo typo!
•
•
•
"Apa maksud Anda? Sungguhkah Karl Trovy benar-benar punya adik perempuan?" tanya Reiner memastikan dan diangguki Mr. Leonhardt dengan mantap.
"Aku yakin, karena aku sendiri pernah melihatnya. Karena aku tidak bisa melindunginya sendiri, jadi aku meminta Annie untuk melakukannya."
"Bagaimana wajahnya? Maksudku apa Anda mengingat ciri-cirinya?" tanya Mikasa tidak sabar.
"Entahlah, aku sudah tidak ingat. Terakhir aku melihatnya adalah lima belas tahun yang lalu. Apa yang kau harapkan dari pria yang terus terjebak disini dalam jangka waktu yang begitu lama?" tanya Mr. Leonhardt balik membuat Mikasa sedikit kesal.
"Jadi maksud dari semua kata-kata Anda adalah—"
"Annie ditangkap kelompok Meiosei karena mereka mengira dia adalah Kai. Jadi Annie mengorbankan dirinya untuk gadis itu?" tanya Mikasa lagi dan diangguki Mr. Leonhardt.
"Dimana kami bisa bertemu dengan Kai? Kenapa mereka terus mencarinya? Dan bagaimana nasib Annie yang ditangkap oleh mereka?" tanya Reiner bertubi-tubi.
"Pertanyaan pertama, aku pun tidak tau. Mungkin hanya Annie dan Karl yang tau keberadaannya. Pertanyaan kedua, karena dia adalah pemilik tanda. Mudahnya adalah orang yang akan ditumbalkan. Dan yang ketiga... kemungkinan besar Annie akan dibunuh karena dianggap sudah menipu mereka," jelas Mr. Leonhardt pasrah.
Mr. Leonhardt sudah tidak mengharapkan apapun karena kecil kemungkinan Annie akan selamat. Dia memang meminta Annie melindungi gadis itu, tapi dia tidak menyangka Annie akan mengorbankan nyawa untuk itu. Dia merasa sangat bersalah terhadap putrinya.
"Kami akan berusaha menyelamatkan Annie, Mr. Leonhardt!" janji Mikasa dan dibalas senyum teduh pria tua itu.
"Lalu apa Anda juga tau perihal Armin Arlert? Dia juga ikut menghilang bersama Annie," lanjut Reiner.
"Arlert? Hm... Sebentar, biar kuingat dulu!"
Mikasa sangat berharap akan jawaban dari Mr. Leonhardt. Karena sejauh yang telah mereka selidiki hanya Mr. Leonhardt yang bisa memberikan informasi sampai sebanyak ini. Mikasa yakin satu-satunya informan mereka sekarang hanyalah Mr. Leonhardt.
"Seingatku Arlert itu nama keluarga yang menjadi budak. Tapi aku lupa budak dari keluarga mana. Intinya mereka mejadi pesuruh seumur hidup karena kesalahan di masa lalu," jelasnya.
"Apa Anda tau kesalahan apa yang mereka perbuat?" tanya Reiner dan dibalas gelengan kepala. Mikasa menghela napas pasrah karena jawaban yang diinginkan tidak ada.
"Tapi bagaimana Anda bisa tau semua informasi ini?" tanya Mikasa.
"Jika kau melakukan pekerjaan sepertiku, kau akan tau semua rahasia gelap dari keluarga para bangsawan meski tidak menginginkannya," jelasnya lagi membuat Reiner manggut-manggut.
Mikasa sedikit sangsi akan hal itu sehingga berniat menanyakan pertanyaan terakhir. Dia sengaja ingin memancing pengetahuan pria di hadapannya itu. Apa memang pengetahuannya sehebat pengakuannya?
"Apa Anda tau beberapa informasi tentang keluarga Ackerman?" tanya Mikasa sambil tersenyum kecil.
Reiner terkejut sontak menoleh ke arah Mikasa. "Mikasa, kau—"
Tapi tatapan tajam Mikasa langsung membungkam mulutnya. Mr. Leonhardt menyaksikan hal tersebut hanya memasang wajah bingung. Namun dia segera menjawab pertanyaan Mikasa.
"Sejauh yang kutau, keluarga Ackerman adalah keluarga yang khusus melahirkan banyak petarung. Mayoritas anak-anak yang lahir dari keluarga tersebut menjadi pengawal. Kau juga putri dari keluarga Ackerman, 'kan?" tanyanya kembali membuat Mikasa tersentak.
"Bagaimana Anda bisa tau?" tanya Mikasa mulai curiga.
"Kau mirip dengan Nyonya Kuchel, sahabat dari Nyonya Elena. Apa kau mengenalnya? Aku ingin tau bagaimana kabarnya sekarang," jelas Mr. Leonhardt lagi.
"Bibi Kuchel sudah meninggal," jawab Mikasa lirih membuat kedua pria itu tersentak.
"Oh, jadi kau keponakannya? Lalu bagaimana kabar putranya? Aku ingat dulu mereka ingin menjodohkan anak mereka haha."
"Putranya baik-baik saja. Dia telah menjadi dokter hebat sekaligus pewaris dari rumah sakit milik paman," jelas Mikasa dan dibalas anggukan.
"Lagipula sekarang dia sudah punya calon istri, kurasa dia akan menikah dalam waktu dekat ini," ucap Mikasa sambil tersenyum.
"Begitu kah? Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya," kekeh pria tua itu.
"Tenanglah, jika Anda melihatnya Anda pasti akan langsung mengenalinya. Garis wajahnya benar-benar seperti duplikat bibi," ucap Mikasa sambil tersenyum.
"Ah! Apa kalian ada pertanyaan lain? Jika tidak ada kalian harus segera pergi. Sebelum mereka bergerak untuk mengusir kalian," tanya Mr. Leonhardt sambil melirik penjaga yang ada disana.
"Mereka tidak akan pernah berani mengusir kami. Tapi Anda benar, kami harus pergi sekarang," jawab Reiner sedikit angkuh dibalas kekehan pria parubaya itu.
"Tunggu! Aku masih punya pertanyaan terakhir. Boleh?" tanya Mikasa.
"Katakanlah!"
"Apa anda tau markas kelompok Meiosei? Tolong beritahu saya!" pintanya lirih dibalas gelengan pelan Mr. Leonhardt.
"Aku tidak tau. Mereka sering kali berpindah tempat. Dulu aku mengintai mereka demi melindungi Nona Kai. Tapi sejak datang kemari, aku tidak bisa melakukannya lagi. Kemungkinan besar Annie mengetahuinya. Dan jika itu benar, dia pasti akan meninggalkan petunjuk," jelas pria tua itu dna diangguki Mikasa.
"Hm... Menilik dari kepribadian Annie, sepertinya dia hanya akan meninggalkan petunjuk kepada orang terdekatnya. Apa diantara kalian ada yang memenuhi kualifikasi tersebut?" tanyanya membuat kedua orang yang dimaksud menggeleng pelan.
Sungguhkan hanya sampai ini? Semua informasi yang ada terasa sia-sia. Bagaimana bisa petunjuknya hanya ada pada Annie? Kenapa bisa dia tidak mengatakan apapun selama ini?
Setelah berpikir beberapa waktu, meraka masih tak kunjung menemukan titik terangnya. Membuat Reiner berkali-kali menghela napas pertanda putus asa. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali.
Setelah berpamitan, mereka segera keluar dari sel tersebut dan pergi dari tempat itu. Mereka berniat untuk segera kembali dan melaporkan semua informasi tersebut kepada Ata.
Di perjalanan, Mikasa tiba-tiba terpikirkan sebuah pertanyaan yang sejak awal mengganjal di hatinya. Dia langsung bertanya pada Reiner mengenai hal tersebut.
"Kenapa Om itu di tahan disini? Bukankah dengan gangguan kejiwaan yang dimilikinya, dia bisa dirawat di RSJ?" tanya Mikasa membuat Reiner terkekeh pelan.
"Aku mengerti maksudmu. Tapi dia bersikap seperti itu hanya pada orang asing," jawab Reiner tenang.
"Apa maksudnya?"
"Aku tidak pernah melihatnya berteriak ataupun bersikap seperti tadi saat bersama Annie. Dia selalu berbicara dengan lembut dan tenang padanya. Dan hari ini aku juga melihat sisi yang berbeda darinya," jelas Reiner membuat rasa ingin tahu Mikasa semakin tinggi.
"Sisi yang berbeda?"
"Benar. Biasanya dia akan berteriak jika ada orang asing yang mengajaknya berbicara. Tapi dia begitu tennag saat berbicara denganmu. Bahkan aku yang sudah lama mengenalnya tidak pernah diperlakukan seperti itu," jawabReiner sambil tersenyum tipis.
"Meski kau menjelaskan sepanjang apapun, kau masih tidak menjawab pertanyaan yang kutanyakan. Kenapa dia tidak dirawat di RSJ saja?" tanya Mikasa mulai jengah.
"Karena Annie tidak menginginkannya. Kapten juga sudah pernah membujuknya untuk itu. Bahkan Kapten sangat ingin agar ayahnya bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik, tapi kau jelas tau sifat keras kepalanya itu," ucap Reiner dan diangguki pelan oleh Mikasa.
"Sekarang tugas kita adalah mencari keberadaan markas mereka dan melaporkan semuanya pada Kapten," ucap Mikasa dan dianggukin Reiner dengan senang hati.
•
•
•
Akhirnya kelar chapter ini~
The real membesarkan anak sendiri ini mah namanya wkwkwk
Semoga kalian menikmatinya dan jangan lupa tinggalkan jejak
Bye~
-Ataaa
KAMU SEDANG MEMBACA
I'll Fix It [Levi x OC]
FanfictionLevi Ackerman, dokter tampan berumur 26 tahun yang sekaligus pemilik Rumah Sakit ternama. Dia terus hidup dengan penyesalan karena menganggap diri sebagai penyebab kepergian kekasihnya. Ketika dia tahu bahwa Ata-kekasihnya- kembali, dia lagi-lagi be...
![I'll Fix It [Levi x OC]](https://img.wattpad.com/cover/247680839-64-k788255.jpg)