26 - Senjata!

344 49 2
                                        

Setelah menguncir tinggi rambutnya, Ata langsung berjalan ke arah mereka berkumpul dengan aura ingin membunuh. Eren dan Jean yang melihat Ata sontak berlindung di belakang Erwin, sedangkan yang lainnya masih berdiri di tempat masing-masing.

Hanji kebingungan melihat reaksi kedua orang itu yang terkesan sangat berlebihan. Padahal Ata masih berada di depan vila, tapi kedua pria itu sudah berjongkok sempurna sambil memeluk kaki Erwin. Mikasa yang melihat hal itu terbungkam karena jelas tahu alasannya, sedangkan yang lain terutama Erwin jadi kebingungan. Setakut itu kah mereka terhadap Ata?

"Reaksi kalian berlebihan sekali! Ata tidak akan membunuh orang lain, jadi tenanglah! Sejak dulu dia terkenal memiliki kepribadian yang sangat baik dan juga ramah, jadi kalian tidak perlu berlebihan seperti itu. Lagipula aku penasaran, kenapa juga kalian setakut itu padanya?" tanya Hanji.

"Dibanding yang lain, hanya kami berdua yang pernah dihajar olehnya dengan aura membunuh seperti itu. Tentu saja kami takut, kekuatannya itu seperti monster! Dia bahkan bisa melumat kami hanya dengan tangan kosong. Seluruh tubuhnya adalah senjata! SENJATA!" jelas Jean sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ata dengan sangat berlebihan dan diangguki Eren dengan wajah pucat.

Mikasa menghela napas pasrah. Dia akhirnya menceritakan pengalaman kedua pria itu, yang akhirnya malah menjadi mimpi buruk bagi mereka. Mungkin saat itu mereka berdua hanya sedang sial saja.

Mereka salah memasuki ruangan, dan malah masuk ke ruangan Ata yang saat itu sedang berganti pakaian. Tentu saja Ata mengamuk dan langsung menghajar mereka berdua sekaligus sampai babak belur, dan harus dirawat selama berhari-hari oleh yang lainnya. Sejak hari itu, mereka berdua bersumpah tidak akan mengulangi hal yang sama di kemudian hari, baik secara sengaja maupun tidak.

Dan kali ini, Ata mengeluarkan aura yang sama seperti saat itu. Bahkan di medan pertempuran, Ata tidak mengeluarkan aura mengerikan seperti ini. Dia hanya akan mengamuk jika dirasa kesalahan itu sudah tidak bisa ditolerir lagi olehnya. Dan perbuatan Levi sudah menghabiskan parameter kesabaran Ata hingga ke titik terendah.

Ata mendekat dengan napas yang bergemuruh. Tangannya gemetaran karena berusaha mengontrol emosinya. Dia mendekat ke hadapan Levi dan menatapnya tajam dengan wajah merah padam menahan amarah yang akan meluap. Kemudian menampar kedua pipi Levi dengan sangat keras. Hanji refleks meringis mendengar suara tamparannya.

Semua orang terkejut melihat hal itu. Bahkan Jean sampai ternganga karena pemandangan yang tidak biasa itu. Hanya ditampar? Tentu saja tidak. Ata kemudian menendang Levi dengan kuat berkali-kali dan juga menghajarnya. Levi hanya berdiri saja memasang kuda-kuda pertahanan miliknya, yang sialnya malah tidak berguna karena semua serangan Ata memporak-porandakan seluruh pertahanannya.

Setelah menyerang Levi dengan brutal tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ata kemudian berdiri dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi di tempatnya dan menatap Levi. Wajah Ata terlihat sangat datar namun masih memerah karena amarahnya.

"Bertarunglah denganku!" ucap Ata dengan suara dingin dan tenang yang malah terdengar begitu menyeramkan. Bahkan membuat ketiga anggota unit yang selama ini selalu bersamanya ikut merinding.

'Sungguhkah ini adalah orang yang sama dengan kapten yang selama ini selalu tersenyum kepada kami?' batin mereka tidak percaya.

Levi tetap bungkam. Dia melepas pertahanannya dan menatap Ata dalam. Dia mengerti bahwa perbuatannya keterlaluan, wajar saja jika Ata sangat marah padanya. Tapi dia tidak akan mungkin menyerang Ata, sekeras apapun gadis itu menghajarnya.

Melihat air mata dan pandangan kecewa gadis itu saja, Levi butuh waktu delapan tahun untuk memaafkan dirinya sendiri. Dia tentu tidak akan pernah sanggup jika harus melihat gadis itu terluka lagi karenanya.

Setelah puas menghajar Levi, Ata langsung kembali ke vila tanpa ada yang berani menghentikannya. Sedangkan Hanji dan Erwin segera mendekat ke arah Levi yang sudah terduduk ditempatnya. Mereka sontak meringis melihat beberapa bagian tubuh Levi yang terluka, memar dan juga membiru karena serangan Ata.

'Aku bersyukur Ata masih menahan kekuatannya, jadi tidak ada bagian tubuh yang patah. Kalau tidak ini akan sangat gawat,' batin Erwin menatap Levi prihatin. Dia merasa seperti melihat dirinya yang dulu saat dihajar oleh Ata.

"Kau bisa berdiri?" tanya Erwin sambil mengulurkan tangannya.

Levi menatap uluran tangan itu dan menepisnya. Kemudian dia berdiri dan berjalan kembali ke vila dengan sedikit tertatih. Mikasa dan Erwin segera menyusul Levi ke vila walau dengan tujuan yang berbeda. Sedangkan Hanji, Eren, dan Jean mulai melancarkan aksi gosip mereka atas kejadian barusan.

Sesampainya di vila, Levi tidak melihat Ata yang biasanya duduk di sofa atau bersantai di balkon. Levi kemudian mengambil kotak P3K dan mengobati bagian tubuhnya yang terluka. Kemudian Mikasa datang dan membawa kompres es batu untuk mengompres bagian tubuh Levi yang memar dan membiru. Sejengkel apapun dia terhadap Levi, Mikasa tetaplah peduli kepada saudaranya itu.

Erwin sudah beberapa menit berdiri di depan pintu kamar yang dihuni Ata. Dia terus mengetuk pintu tersebut agar dibukakan namun tidak ada respon. Erwin menghela napas karena sia-sia saja membujuk Ata yang sedang mengamuk, karena bisa dipastikan Ata sekarang sedang tidur untuk melupakan kemarahannya.

Setelah kepergian Mikasa, Erwin akhirnya menemui Levi berniat untuk menanyakan kejadian barusan. Levi awalnya berdecak karena tidak ingin membicarakannya, namun Erwin memaksa sehingga Levi memilih mengatakannya.

"Aku membuat tanda di tubuhnya agar dia tidak jadi memakai bikini seperti yang dikatakan Hanji," jawab Levi langsung ke intinya. Erwin awalnya merasa terkejut, namun akhirnya dia malah tertawa dengan sangat keras.

Sejak dulu Ata memang terkenal sedikit anti dengan kontak fisik. Bahkan saat dulu ada orang yang berusaha menyentuh tangannya, Ata akan langsung memelintir tangan orang itu. Dan yang dilakukan Levi sekarang bahkan jauh lebih parah, tentu saja Ata akan menghajarnya dengan brutal.

"Kau gila! Apa karena cemburu? Konyol sekali," ucap Erwin disela tawanya. Levi hanya diam saja karena yang ditebak Erwin memang benar.

Melihat Levi yang tidak membalas kata-katanya, Erwin lagi-lagi tertawa sangat keras. Dia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini. Pria yang terkenal sangat dingin dan acuh kepada wanita, sekarang malah tergila-gila pada adiknya.

"Sejak kapan kau menyukai adikku, hm?" tanya Erwin setelah mati-matian berusaha menghentikan tawanya.

"Sejak awal aku melihatnya," jawab Levi pelan.

"Di acara reuni itu?" tanya Erwin penasaran dan dibalas gelengan Levi.

"Aku tertarik padanya sejak dia masih bocah. Tanpa sadar sekarang dia sudah dewasa," jawab Levi dengan kepala tertunduk. Erwin hanya menatapnya saja.

"Maksudmu kau tertarik dengan bocah SD berambut pendek itu?" tanya Erwin tidak percaya.

"Ya, karena dia satu-satunya orang yang tidak pernah berusaha untuk menarik perhatianku. Bahkan dia juga orang pertama yang membalas pandanganku dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi," jelas Levi sambil terus mengompres bagian tubuhnya yang memar.

"Hmm... Begitu. Saranku, jika kau ingin meminta maaf padanya maka tunggu saat dia sudah tenang. Tidak akan lama, mungkin besok dia juga akan bersikap biasa lagi padamu. Untuk hari ini berusahalah untuk tidak sedikit pun mengajaknya berbicara. Dan jangan pernah menyinggung hal itu lagi di depannya," jelas Erwin dan menepuk pelan bahu Levi.

Levi mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Erwin kemudian pergi dari sana, dan memutuskan untuk memasak makan malam untuk mereka semua. Sedangkan Levi masih di tempatnya dengan kegiatan yang sama.

Chap 26 selesai gaes~
Semoga kalian menikamatinya~
-Ataaa

I'll Fix It [Levi x OC]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang