38 - Firasat Buruk

258 26 3
                                        

Kalo typo tolong kabari!
•
•
•

"Jean, Reiner, Mikasa dan Eren, jika kalian terpaksa harus memilih percaya pada salah satu diantara Annie dan Armin, maka siapa yang akan kalian pilih?" tanya Ata begitu mereka semua sudah berkumpul.

"Kenapa Anda bertanya seperti itu? Kalau aku tentu memilih Armin yang sudah kukenal sedari kecil," jawab Eren pasti.

"Meskipun dia terlihat begitu dingin, aku yakin dia tidak akan berkhianat. Terutama padamu, Kapten. Karena dibanding semua orang, kau adalah yang terpenting baginya, bahkan melebihi ayahnya sendiri."

Mendengar penuturan Reiner, semuanya menatap Ata dan menunggu apa yang akan dikatakannya setelah itu. Namun nihil, Ata hanya terus diam dan mempertimbangkan semua kemungkinan yang akan terjadi. 

Tak berapa lama, Erwin pulang membuat beberapa diantara mereka seketika panik. Ata menatap mereka semua dengan tajam hingga keadaan menjadi kembali hening. Hanya suara ketikan keyboard dari Jean yang terus mengisi kekosongan itu.

"Kau ternyata membawa teman-temanmu. Apa mereka akan menginap disini? Apa mereka sudah makan?" tanya Erwin di depan pintu ruangan yang mereka tempati. Reiner begitu senang sekaligus gugup melihat orang yang sangat dikaguminya berada di depannya sekarang.

"Thanks, Erwin. Lebih baik kau istirahat saja," jawab Ata melihat ke arah kakaknya. Kemudian tanpa sengaja dia melirik ke arah Reiner kemudian melanjutkan, "Tapi sebelum itu... tolong berfoto dengan temanku, dia penggemar beratmu."

Erwin mengangguk dan melakukan hal yang diminta Ata, kemudian segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Reiner menatap Ata terharu sedangkan Ata hanya tersenyum tipis. "Kapten, terimakasih banyak. Aku akan menjadikan foto ini sebagai harta berhargaku," ucap Reiner dan diangguki Ata dengan malas.

"Bagaimana, Jean?" tanya Ata dan mengalihkan mereka semua kepada pemuda yang sejak tadi terus bekerja keras dengan alat elektronik di depannya. "Aku masih berusaha untuk terus menelusurinya, Kapten. Tapi aku tidak menemukan petunjuk apapun," jelas pemuda itu cemas.

Dia terus saja mengetik guna mencari keberadaan kedua rekannya yang menghilang. Sejak tadi Ata memang memerintahkannya untuk melacak keberadaan mereka berdua.

"Apa kau benar-benar bisa melakukannya, Jean-boy?" tanya Eren membuat Jean mendelik ke arahnya. Eren sangat tahu Jean benci dipanggil begitu. Mikasa hanya melihat interaksi semuanya dalam diam.

"Jean, jika kau tidak sanggup lagi maka beritahu kami. Aku akan membantumu," jelas Mikasa dan hanya diangguki Jean.  Bukan tanpa alasa dia berkata begitu. Pasalnya Jean sudah berkutat dengan alat itu hampir tiga jam tanpa berhenti.

"Biar aku saja."

Ternyata Ata tadi sempat mengambil kacamata anti radiasi terlebih dahulu dan mengikat rambutnya. Dia begitu fokus hingga Eren tiba-tiba berseru karena melihat tengkuk Ata.

"Kapten, Anda adalah anggota The Worst?" tanyanya sedikit berteriak membuat yang lainnya terkejut. Ata hanya mengangguk, lagipula Eren telah melihatnya sendiri.

"Pantas saja Anda sangat dekat dengan kedua kapten gila itu," ucap Reiner dan diangguki yang lainnya. "Kau sudah mengetahuinya ya, Mikasa?" tanya Reiner karena melihat Mikasa tidak terkejut, dan diangguki Mikasa.

"Sejak kapan?" tanya Jean. 

"Liburan." Jawaban singkat itu membuat mereka terkejut namun hanya bisa bungkam.

"Aku menemukannya!"

Mereka semua segera mengerubungi Ata untuk melihatnya, namun tetap saja Eren dan Reiner tidak mengerti. Hanya Jean dan Mikasa yang terlihat serius memperhatikan detail sekecil apapun itu.

"Anda yakin dengan ini? Informasinya begitu sedikit tidak akan membantu apapun," jelas Mikasa membuat Reiner dan Eren melongo.

"Kapten, anda sungguh yakin?" tanya Jean lagi.

"Kita akan memulai operasinya besok, persiapkan diri kalian. Jangan ada yang bergerak tanpa perintah dariku. Kembalilah beristirahat sekarang!" ucap Ata yang terdengar memerintah dan diangguki yang lainnya.

-------------------------

'Akhirnya aku bisa keluar,' batinnya sambil menggenggam kunci motor dan ransel kecil di punggungnya.

'Aku siap!' ucapnya dalam hati lagi-lagi meyakinkan dirinya sendiri.

Hanya bermodalkan jeans dan hoodie kebesaran untuk membalut tubuhnya, dia langsung berlari membelah jalanan kota yang mulai sepi dan udara dingin menusuk tulang.

'Apapun yang terjadi aku harus mendapatkannya!' tekadnya lagi sambil terus mempercepat laju motornya. Bahkan giginya ikut gemeretak karena merasakan hawa dinginnya malam.

Setelah sampai di tempat yang dituju, dia mulai memastikan incarannya dan mengincar mereka semua. Dia menggunakan teropong kecil untuk melihat dan menandai posisi musuhnya dan apapun kemungkinan yang bisa didapatkan.

'Apa mereka juga menyekap semuanya disini? Melihat penjagaannya yang ketat sepertinya begitu. Aku tahu ini rencana yang gegabah, tapi firasatku mengatakan aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat.'

'Kuharap kalian baik-baik saja,' batinnya penuh harap dan segera kembali pulang.

----------------------------

'cklik' suara yabg berasal dari pintu apartemen pertanda sudha terkunci. Ata segera masuk kembali ke dalam dengan terburu-buru, hingga tidak menyadari keberadaan orang di belakangnya.

"Kau darimana?" tanyanya pelan, namun cukup mengejutkan Ata.

"Eh? Aku... Aku hanya pergi mencari jajanan," jawab Ata sedikit ragu dan tersenyum canggung. Kemudian langsung menunjukkan beberapa cemilan yang ada di dalam tasnya.

'Beruntung aku berinisiatif membelinya saat kembali,' batin Ata sedikit lega.

"Jangan berbohong padaku, Kapten. Aku tahu kau pasti pergi sendirian untuk mengintai mereka."

"Jean, aku—"

"Aku tahu kau khawatir dengan mereka, dan begitu juga denganku. Tapi kumohon jangan lagi bertindak gegabah sendirian!" ucapnya pelan namun sarat akan kemarahan.

"Maafkan aku!"

Jean menghela napas gusar kemudian mendekat dan mengelus puncak Ata pelan. Dia begitu menyayangi gadis di depannya itu, walau nyatanya hanya dianggap sebagai figur seorang kakak bagi Ata. Namun setidaknya itu sudah cukup.

"Beritahu aku apa yang kau temukan," ucapnya dan diangguki Ata.

Kemudian Ata memberitahu Jean apapun yang dilihatnya tadi. Mulai dari banyaknya korban, hingga jumlah posisi serta prajurit yang berjaga. Namun diantara semuanya, tidak ada yang terlihat sebagai pemimpin mereka. Dan Ata juga tidak melihat keberadaan Annie serta Armin disana.

"Aku yakin tujuan kita memang tempat itu," ucap Ata menegaskan ucapannya dan diangguki Jean.

"Apa kau sudah memikirkan untuk pembagian tugas kami?" tanya Ata dan diangguki Ata.

"Mikasa dan Eren akan mengintai mereka, sedangkan aku akan masuk bersama Reiner," ucap Ata.

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Jean.

"Ah, benar. Kau juga ikut masuk," ucap Ata.

"Istirahatlah! Kau lelah sampai jadi tidak fokus seperti ini. Kita akan memulai operasinya besok, sesuai dengan keinginanmu. Dan juga ikut membantumu membujuk Erwin," ucap Jean.

"Terimakasih, Jean. Kau memang sangat diandalkan. Aku senang karena tangan kananku adalah kau," ucap Ata dan segera beranjak dari tempatnya.

"Aku akan beristirahat, kau juga," ucap Ata kemudian mulai berlalu.

Kemudian Ata berbalik dan memeluk Jean dan menepuk punggungnya dan berucap, "Jika terjadi sesuatu padaku, titip Erwin, ya!"

Ata langsung berlalu ke kamarnya meninggalkan Jean yang masih terkejut dan juga kebingungan.

'Apa maksud ucapannya itu? Kuharap dia tidak melakukan hal aneh lagi,' batin Jean dan ikut beristirahat di kamarnya.

•
•
•
Akhirnya selesai juga~
Silakan dibaca dan semoga suka
-Ataaa

I'll Fix It [Levi x OC]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang