Kalau typo tolong kabari
•
•
•
-Di sebuah Bar Distrik Emas-
"Akhirnya kau datang!" seru seorang pria saat melihat temannya tiba. Pria itu mengenakan setelan jas lengkap dan tersenyum sambil mengangkat gelasnya.
"Wah! Ada apa sehingga kau mau datang? Kau tidak pernah ingin berkumpul dengan kami jika tidak ada sesuatu, 'kan?" tanya pria yang lain.
"Kau benar, aku setuju sepenuhnya!" seru pria yang paling tinggi diantara mereka. Kemudian dia mengangkat gelas minumnya dan melirik ke arah kedatangan pria tadi dan berkata, "Jadi, ada apa?"
"Tidak ada," tegas pria itu.
"Mustahil, Levi. Kami mengenalmu lebih dari yang kau duga," ucap pria yang pertama menyapanya dan terkekeh. "Apa karena kembalinya Xavier di Distrik ini?" tanya Mike-pria tertinggi-berusaha memancing reaksi Levi, dan dia mendapatkannya.
"Tunggu! Xavier? Siapa dia?" tanya Erwin membuat yang lainnya terkejut. "Kau tidak mengenalnya? Mustahil!" ucap Farlan tidak percaya.
"Apa kau tahu kalau dia yang—"
"Berhenti, Mike!" perintah Levi membuatnya terbelalak. "Jangan bilang kau tidak memberitahunya sama sekali soal itu, Levi!" ucap Mike penuh tekanan dibalas tatapan tajam Levi.
"Hei-hei sudahlah! Kita semua berkumpul bukan untuk bertengkar disini," lerai Farlan membuat Erwin memicingkan matanya.
"Ada yang perlu kalian jelaskan padaku, 'kan?" tanya Erwin memastikan.
"Ada!"
"Tidak!"
Keduanya menjawab serempak namun dengan jawaban yang berbeda. Erwin seketika menatap keduanya tajam dengan aura mengintimidasi. "Beritahu aku meski hanya garis besarnya saja!" perintah Erwin penuh penekanan.
"Baik. Biar aku saja yang memberitahunya," putus Farlan final dan diangguki Mike, sedangkan Levi hanya berdecak kesal dan mulai menenggak minuman di depannya.
"Xavier adalah teman yang dulunya akrab denganku dan Levi. Tapi karena obsesi, dia merusak segalanya. Termasuk hubungan antara Levi dan Aurel, adik tercintamu," jelas Farlan membuat Erwin tersenyum penuh arti.
"Aku mengerti segalanya sekarang. Dan Levi, sepertinya kau juga masih berhutang cerita padaku, hm? Yah, meski aku sudah berhasil menebaknya," ucap Erwin sambil tersenyum. Semua juga tahu itu adalah senyum penuh kepalsuan.
"Sudahlah, abaikan masalah itu! Aku justru ingin tahu kenapa Xavier kembali. Bukankah aneh dia kembali di waktu yang hampir bersamaan dengan Aurel?" tanya Mike membuat emosi Levi tersulut.
"Maksudmu dia ingin mengincar Aurel lagi?"
"Kemungkinan targetnya adalah kau, Levi. Tapi hampir semua alumni sekolah kita juga tahu, jika Aurel adalah satu-satunya kelemahanmu. Aku sedikit khawatir jika dia malah menyakiti gadis sebaik itu," ucap Mike dan menatap Levi dan Erwin bergantian.
"Kau yakin dia bisa menyakiti Aurel? Maksudku dia adalah gadis yang seperti itu, loh. Kalian bersungguh-sungguh mengkhawatirkannya?" tanya Farlan memastikan.
'Aurel. Gadis yang seperti itu?' Dia...'
Semua orang serentak terkena kilatan tentang betapa brutal dan bengisnya gadis yang mereka bicarakan itu ketika di pertandingan.
'...iblis berwujud malaikat!' batin semuanya dan menelan salivanya susah payah.
"Hahahaha kurasa kita bahkan tidak perlu khawatir. Dia pasti menyelesaikannya walau sendirian," ucap Mike dan kembali tertawa aneh.
"Lagipula aku yakin adikku akan baik-baik saja. Dia juga tidak sendirian sekarang," timpal Erwin dan tersenyum membuat Levi mengernyit.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Levi dan memicingkan matanya. Erwin mengangguk kemudian menjawab, "Dia bisa bergantung padaku kapan pun dia membutuhkannya. Dan Jean juga ada disini untuk menemaninya."
'Jadi muka kuda sialan itu datang untuk merebut gadisku? Brengsek!' batin Levi tidak terima.
"Erwin, kenapa kau bisa percaya padanya?" tanya Levi tidak mengerti. Bukan karena dia meragukan penilaiannya, tapi dia hanya ingin tahu alasan Erwin dibalik tindakannya itu.
"Entahlah, aku hanya percaya pada penilaian adikku. Jika dia membiarkan seseorang terus di dekatnya, itu artinya dia menerima orang itu ke dalam lingkaran hidupnya," jawab Erwin tenang.
'Tunggu! Apa artinya aku telah dihapus dari daftar itu?' batin Levi berkecamuk. Karena kesal dia pun menggebrak meja membuat yang lain menatapnya.
"Kukira kau menjadi orang gila hanya di bar milikku," cibir Farlan dan mencebikkan bibirnya. Dia kesal sekaligus bingung melihat tingkah temannya itu.
"Kau itu bipolar atau apa?" tanya Mike sarkas membuat Levi menatapnya kesal. Seketika Levi kembali ingat saat mereka berdua berkelahi karena Levi membocorkan ban mobil Mike saat pulang sekolah.
"Dasar berandal!" cibir Levi membuat Erwin terkekeh.
"Dibandingkan kami semua, kau yang paling pantas disebut berandalan, Levi," balas Mike. "Aku masih ingat jelas tentang kelakuanmu dulu. Hanya karena aku anggota osis menegurmu yang melawan aturan, kau malah membocorkan ban mobilku. Alhasil kita berkelahi dan masuk ruang konseling."
Levi kesal mendengar itu dan kembali menenggak minumannya. "Kurasa salah satu diantara kalian bertiga akan menikah dalam waktu dekat," ucap Farlan membuat yang lain menatapnya. "Siapa?" tanya Mike dan dibalas Farlan dengan lirikan ke arah Levi.
"Sungguh? Dengan siapa?" tanya Mike lagi membuat Levi menghela napas gusar. "Memangnya ada gadis lain yang bisa membuatnya gila selain gadis itu?" tanya Farlan dan dibalas anggukan Mike.
"Jadi bagaimana perkembangan hubungan kalian?" tanya Erwin yang sejak tadi hanya diam. "Entahlah, aku merasa tidak akan semudah dulu mendekatinya lagi. Aku bahkan sudah tidak yakin," jawab Levi.
"Padahal kau sudah mendengarnya sendiri, tapi masih berpikir begitu. Kalau begitu lupakan saja," jawab Farlan sedikit kesal dan mencibir.
"Ya menyerah saja dan hidup sendirian seperti kami," ucap Mike mendukung Farlan dan dibalas tatapan tajam Levi. "Tidak!" tegas Levi membuat yang lainnya tergelak.
"Kau tidak yakin bisa mendapatkannya, tapi tidak mau melepasnya? Jangan perlakukan adikku dengan sesukamu Levi. Dia berhak memilih keputusan untuk hidupnya," ucap Erwin kemudian minum.
•
> > > > > > > > > > > > > > > > > >
•
"Kau disini rupanya!" seru seorang pria begitu membuka pintu dan sontak terkejut. Ruangan tersebut begitu berisik namun penghuninya begitu tenang berada disana.
"Suara siapa ini?" tanya temannya karena mendengar suara seorang wanita yang terus keluar dari speaker di ruangan itu.
"Kekasihku," jawabnya dan tersenyum menyeramkan.
"Kau terus memutar suara-suara ini? Dasar gila!" teriak temannya tidak mengerti. "Aku sangat suka mendengar suaranya jadi aku merekam semua yang dia katakan meski tidak banyak," ucapnya.
"Kau terobsesi padanya? Sejak kapan?" tanya temannya lagi. "Entahlah. Tapi sekarang aku akan mendapatkannya. Tidak akan kubiarkan dia kembali bersama si brengsek itu lagi. Gara-gara dia gadisku menghilang," ucapnya sarat dengan kebencian.
"Ya ya berusahalah kalau begitu," ucap Temannya dan akhirnya menatapnya serius.
"Jadi... Sudah berapa banyak yang kau dapatkan?"
Pertanyaan itu seketika membuatnya menyeringai menakutkan.
•
•
•
Maaf karena sangat sangat slow update ya gaes
Dikarenakan aku kehilangan mood haha
Maaf banget ya maaf semua
Akan kuusahakan rajin
-Ataaa
KAMU SEDANG MEMBACA
I'll Fix It [Levi x OC]
FanfictionLevi Ackerman, dokter tampan berumur 26 tahun yang sekaligus pemilik Rumah Sakit ternama. Dia terus hidup dengan penyesalan karena menganggap diri sebagai penyebab kepergian kekasihnya. Ketika dia tahu bahwa Ata-kekasihnya- kembali, dia lagi-lagi be...
![I'll Fix It [Levi x OC]](https://img.wattpad.com/cover/247680839-64-k788255.jpg)