31 - Pengeroyokan

11.2K 754 3
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


KEYNA baru saja tiba di kafe, menatap aneh kafe yang tidak seperti biasanya, kini tertutup. Gadis itu memasuki kafe dengan perlahan, terlihat beberapa karyawan yang tampak khawatir membuat Keyna curiga.

"Ini ada apa?" tanya Keyna menghampiri Silvy yang sedang panik.

Silvy menoleh, Keyna merasakan kalo ada yang tidak beres sekarang.

"Reva ngamuk-ngamuk di ruangannya, Key. Kita gak ada yang tau dia kenapa."

"HAH?!" Keyna kaget, secepat kilat cewek itu berlari menuju ruangan sang kakak, tetapi sama saja. Pintunya masih di kunci.

Brak.. Brak.. Brak..

Keyna menggedor pintu itu dengan kuat dan panik, tidak biasanya Reva seperti ini jika tidak ada masalah yang benar-benar besar.

"KAK BUKA PINTUNYA, INI KEY!!" Keyna berteriak agar sang kakak membukakan pintu. Keyna kalut, dia takut terjadi apa-apa sama Reva.

"KAK REVA BUKAAA! KITA HARUS BICARA, JANGAN NGURUNG DIRI KAYAK GINI!" Keyna terus memanggil Reva, menangis tak kuat melihat Reva kacau seperti ini.

Di dalam ruangan, Reva menatap pintu, wanita itu tersenyum hambar, "Gue kenapa, sih? Kenapa jadi lemah gini coba?" Reva kembali menatap ke arah cermin, mata itu bengkak dan tubuhnya berkeringat.

Reva menatap dirinya tajam, mengepalkan tangannya kuat kemudian memejamkan matanya.

Reva, lo gak boleh jadi lemah oke? Lo satu-satunya yang Keyna punya untuk saat ini. Tanggung jawab lo besar, its okay, cowok di luaran masih banyak yang mau sama lo. Jangan jadi bodoh karena cowok, tunjukin sama dia, lo bisa mendapatkan cowok yang lebih baik dari dia.

Cewek itu membuka matanya kembali, tersenyum yakin dan mulai membuka pintu ruangan.

Tepat setelah pintu dibuka, Keyna langsung menyerangnya dengan pelukan hangat, menangis histeris dipelukan Reva.

"Lo kenapa?! Ada masalah apa? Plis cerita sama gue," ujar Keyna dengan matanya berkaca-kaca.

"Kakak gapapa."

"Jangan kek gini lagi kak, gue nggak mau lo kenapa-napa." Keyna semakin mengeratkan pelukannya.

Reva terisak, kembali memeluk Keyna dengan erat, merasa tidak becus menjadi seorang kakak. Seharusnya ia tidak boleh ngamuk-ngamuk seperti tadi, karena itu cuma membuat Keyna khawatir.

UNIDADE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang