44 - Plis, Berenti!

10.3K 758 12
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


RANI baru saja tiba di sekolah. Ini masih pagi, tetapi semua murid menatapnya sinis seolah tak suka. Rani berusaha untuk biasa saja, cewek itu berjalan dengan keadaan menunduk sesekali memperbaiki kacamata bulatnya yang tidak rapi.

"Dih, muka aja polos tapi kelakuan minus."

"Anak beasiswa aja belagu, minta ini itu."

"Tau tuh, penampilan emang enggak menentukan sikap."

"Amit-amit deh."

"Gak sadar diri emang ni cewek."

Samar-samar Rani mendengar perkataan orang-orang begitu melewatinya, perasaan cewek itu tak tenang. Ia merasa semua orang sedang membicarakan dirinya.

Tepat di depan mading siswa siwi berhimpitan satu sama lain, seperti ada sesuatu penting.

Rani yang merasa ada hubungannya dengan ujian ataupun sekolah mendekati mading tersebut untuk mencari tau.

Kedatangan Rani sukses membuat mereka terdiam, mereka menyingkir tersisa Rensi dengan muka sombong nya tersenyum sinis kepada Rani tepat di depan mading.

"Wow, queen!" sambut Rensi dengan antusias, menyingkir dari sana membiarkan Rani melihat dengan jelas apa yang di lihat orang-orang.

Pada awalnya Rani biasa saja, tidak ada yang aneh di penglihatan nya, tapi sebuah kertas yang terletak di ujung kanan berhasil membuat Rani memekik.

Rani Deswita, the cause of the fight between Regan and Dino.

Rani menutup mulutnya, menangis histeris lalu pergi dari sana karena tak tahan dengan bulian dan cacian yang di tujukan terhadapnya.

Di balik tangisannya, Rensi merasa bahagia dengan apa yang di derita Rani. Sebenarnya, Rensi melakukan ini bukan hanya karena perlakuan cewek itu kepada Regan maupun Keyna, tapi ada hal lain yang bener-bener membuat Rensi muak. Yaitu karena Rani adalah adik dari seseorang yang membuat rumah tangga kedua orang tuanya berantakan, yakni Maura.

****

Dari lantai dua sekolah, Regan dan Keyna menatap situasi dari atas. Sebenarnya Keyna merasa kasihan dengan Rani, karena seharusnya perbuatan Rani tidak perlu di balas dengan perbuatan berlebihan seperti ini. Namun, tidak ada yang berani menghalangi, inilah konsekuensi jika sudah berhadapan dengan Rensi maupun orang-orang di sekitar cewek itu.

Keyna menatap Regan yang berada di sebelahnya, "Gue enggak tega. Rensi keterlaluan banget," ujar Keyna.

Regan tersenyum kecil, "Biarin aja lah, yang."

UNIDADE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang