16. Are You Kidding Me?

2.3K 296 39
                                        

Dua hari berlalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dua hari berlalu. Pameran perdana si anak ketiga telah selesai diselenggarakan.

Beruntungnya kondisi Vee sudah benar-benar membaik tatkala hari pentingnya itu tiba. Menjadikan kerja kerasnya selama mempersiapkan pameran membuahkan hasil yang sempurna, meski terdapat beberapa drama di dalamnya, seperti seluruh hasil fotonya yang terendam air, menangis dan terakhir cowok tampan itu jatuh sakit.

Usahanya terbayarkan, dan kini Alena diajak keluarga itu untuk makan malam di sebuah restoran di pusat kota.

Mereka lebih dulu menikmati makanan pembuka sembari berbincang-bincang singkat. Hingga makanan utama pun datang, membuat Alena teringat akan kejadian makan malam pertama yang dia lalui di rumah Graceva.

Kala itu, tiga bujang Graceva bersiteru perihal makanan. Dan sekarang Alena sangat mengharapkan kejadian menyebalkan itu tidak terulang kembali. Sebab selama beberapa bulan tinggal di rumah Graceva, Alena sangat jarang menghabiskan makan malam atau sarapan bersama mereka.

Dari menatap beberapa jajaran piring berisi makanan itu, manik kembar Alena lebih dulu melirik ke arah Kookie yang duduk di samping kirinya, dilihatnya netra bulat cowok kelinci itu sudah berbinar sambil menatap potongan daging pedas manis kesukaannya. Kemudian, Alena melirik ke Jimmy, cowok blonde itu memang selalu kelihatan tenang. Terakhir, Alena menatap eksistensi Vee yang duduk di sebelah kanannya, cowok itu terlihat biasa saja.

Baiklah, Alena menghela napas pelan. Bagaimanapun, makan malam ini harus berlangsung tenang. Pasalnya, gadis itu duduk di antara Kookie dan Vee, membayangkan dua bujang itu ribut saja membuat kepalanya pening.

Beberapa sekon berlalu, tidak ada yang terjadi, semua seperti bayangannya. Mereka menikmati makan malam dengan tenang.

“Padahal Kookie sedang tidak ingin makan banyak,” ucap Kookie tiba-tiba. Mulutnya yang penuh dengan makanan membuat nada bicaranya sedikit tidak jelas.

“Makanlah perlahan, Ki!” titah sang Bunda. Pun tatapannya beralih ke arah Alena yang duduk di hadapannya. “Alena makan yang banyak, ya.”

Alena mengangguk pelan sambil menelan sisa kunyahannya.

“Tanpa disuruh Nuna pasti akan makan banyak. Ini karena ada Kak Suga saja makan--Ahh!”

Buru-buru Alena menginjak kaki Kookie yang berada di sebelahnya sebelum cowok kelinci itu membuatnya malu. Alena tersenyum di sebelah sudut bibirnya sambil menatap Kookie, seakan mengisyaratkan sebuah ancaman pada si Bungsu.

Sementara, sosok pria bermata kucing yang tadi namanya disebut hanya menampilkan senyum tipis. Pun Kookie merotasikan bola matanya, cowok kelinci itu kembali melanjutkan sesi makannya dan mengabaikan tatapan tajam Alena.

☆-☆-☆-☆-☆

Barangkali ada hal yang lebih menyenangkan selain mendapat ketenangan selama satu hari bersama tiga bujang Graceva, Alena pasti tidak akan menyia-nyiakan itu.

Dear, Baby.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang