Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cheers!
Satu tenggakan wine berhasil menyapa kerongkongan Alena. Alisnya bertautan tatkala merasakan gelenyar aneh yang menjalar hingga area kepala. Membuat cowok yang berada di sebelahnya menatap begitu khawatir, tetapi tidak dapat melakukan apapun.
Kookie hanya bisa menatap Alena yang menenggak segelas wine dengan terburu-buru. Sesekali tangannya terulur hendak menghentikan kegiatan kekasihnya itu, namun selalu diurungkan.
“Woah, serius! Wine nya enak sekali! Kita tidak salah mencari tempat,” racau Dikey selesai menenggak wine miliknya.
Bambam tersenyum bangga, “Kan, sudah kubilang! Kalian harus mentraktirku satu botol wine lagi.”
Teman-temannya yang lain hanya mengangguk—merasa tidak masalah untuk membeli wine lagi—kecuali Kookie yang masih menatap cemas ke arah Alena. Hotel berbintang yang menjadi usulan Bambam dan dipilih paling banyak oleh yang lain memang memiliki kualitas yang tidak main-main. Mulai dari tempat, pelayanan, hingga makanan yang disajikan. Benar-benar definisi, ada uang ada kualitas.
“Ki, aku ngantuk,” cicit Lyla. Sesekali gadis itu menguap dan menutup telinga tatkala suasana hotel semakin ramai.
Kookie lebih dulu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul sepuluh malam lewat. Berlalu menoleh menatap Lyla yang memang raut wajahnya terlihat lesu.
Ini yang Kookie pikirkan kalau mengajak Lyla, selain ingin menghabiskan waktu hanya bersama Alena dan teman-temannya, Kookie juga merasa khawatir dengan penyakit yang diderita Lyla.
“Nuna, ayo pulang! Lyla sudah mengantuk,” bisik Kookie di dekat telinga Alena. Namun agaknya, Alena sama sekali tidak menghiraukan perkataan Kookie sebab tengah asyik berbincang dengan yang lain.
Menyadari raut wajah Kookie yang terlihat bingung, Mingyu bersuara, “Ada apa, Ki?”
“Sepertinya aku harus pulang, Lyla sudah mengantuk,” balas Kookie sembari melirik sekilas ke arah Lyla.
“Ini baru jam berapa? Kita jarang-jarang lho bertemu,” protes Yugyeom dengan suara pelan, tetapi menekankan disetiap kalimatnya.
Membuat Kookie sedikit mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat berbicara dengan Yugyeom yang duduk di hadapannya. “Aku juga maunya seperti itu. Tetapi Lyla sudah mengantuk. Bagaimana?”
“Yah, tidak tahu.” Yugyeom mengangkat Kedua bahunya. Dia melanjutkan, “Yasudah sana pulanglah!”
Mengangguk pelan, Kookie kembali menatap ke arah Alena, “Nuna, ayo kita pulang! Jangan terlalu banyak minum, nanti kau bisa mabuk!”
Alena menoleh, menatap Kookie yang hari ini terlihat menyebalkan untuknya. Sikap Kookie hari ini benar-benar membuatnya malas berbicara. Dia menggeleng, “Aku nanti saja. Sana antarlah gadismu pulang!”