Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sudah terhitung tiga kali Alena mendapatkan kesialan yang diberikan oleh si bungsu Graceva. Yang membuatnya kini harus mengganti pakaiannya yang basah serta kotor akibat siraman air pel.
Alena menghela napas sebal. Baru pertama bekerja saja sudah membuat kepalanya sangat pening. Dan Kookie, si bungsu itu benar-benar menyebalkan. Alena bahkan bersumpah tidak mau berurusan dengan cowok bergigi kelinci itu.
Tanpa Alena sadari, seseorang tengah menarik kursi, menempatkannya didepan pintu kamar. Lalu menaiki kursi tersebut untuk menjangkau sesuatu dengan penglihatannya.
Baru beberapa sekon, seseorang lain datang dan membuatnya mengikuti apa yang orang pertama lakukan. Dia menaiki meja, menoleh ke arah sang adik yang tengah melihat sesuatu dari celah diatas pintu. Disana keduanya kesulitan mendapati sebuah objek yang menjadi tujuannya— seorang gadis.
“Hei! Apa yang kalian lakukan?”
Presensi lain datang, memperhatikan kegiatan dua saudaranya yang kini tengah menaiki meja dan kursi. Dan yang dia tau, ini kamar gadis yang baru saja direkruit sang Bunda untuk bekerja di rumahnya.
“Sstt!” keduanya secara serempak menempatkan jari telunjuknya di bibir mereka. Mendesis pelan seraya memberikan peringatan agar sang Kakak tidak berbicara terlalu keras.
“Apa sih? Kenapa bisik-bisik?” sergah Jimmy dengan sedikit gusar. Dia melangkah lebih dekat, sepasang maniknya melirik ke pintu yang tertutup rapat itu, “Apa yang kalian lakukan di kamar gadis ini?”
“Sst, diam! Kau mau lihat tidak?” bisik Kookie pada Jimmy, tangannya sembari melambai mengisyaratkan sang Kakak ikut menaiki kursi yang ia pijak.
“Apa? Aku tidak dengar, Ki!” Jimmy sedikit berteriak, netranya menyipit untuk membaca gerak bibir yang sang adik lakukan.
Baik Vee dan Kookie hanya bisa menghela napas. Kookie mendecak samar, teramat gusar dengan kakaknya yang satu itu. Jimmy yang tuli atau suaranya yang memang sangat pelan?
“Hei! Kalian mengintip, ya?” terka Jimmy.
Beberapa sekon berpikir, akhirnya si anak kedua ini baru memahami apa yang tengah dilakukan kedua adiknya. Mereka menaiki meja dan kursi, melihat dari balik celah. Apa lagi kau bukan sedang mengintip?
Namun, Jimmy memilih mendekat, hendak menaiki kursi yang menjadi pijakan Kookie jika saja pintu kamar itu tidak terbuka. Membuat Kookie dan Vee terlonjak tiba-tiba.
Alena menatap sengit disertai kebingungan. Untuk apa tiga cowok tengil ini ada di kamarnya, ditambah lagi terdapat kursi didepan pintu. “Ya! Apa yang kalian lakukan?”
Tidak ada jawaban, Vee dan Kookie hanya diam sembari mengusap tengkuk belakangnya. Raut wajah keduanya nampak gugup, berbeda dengan Jimmy terlihat santai sambil menahan kekehan.
Netra Alena menyipit, menatap penuh selidik satu persatu wajah ketiga cowok yang masih saja terdiam tanpa menjawab pertanyaannya. Membuatnya kini menghela napas gusar, “Ya! Kalian mengintip? Ngaku!”