Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kejadian beberapa jam yang lalu, sukses membuat keadaan berubah. Berhasil membawa semuanya kepada sebuah pilihan. Membiarkan gadis itu pergi atau saling bersikap baik satu sama lain.
Padahal faktanya, cepat atau lambat, semua itu akan terjadi. Alena akan pergi dari rumah Graceva kapanpun itu. Bukan karena masalah, tapi karena keharusan.
Tiga putra Graceva akan semakin dewasa. Yah, walaupun sebenarnya saat ini pun mereka cukup dikatakan dewasa. Dan Alena tidak melulu bertahan untuk menjaga mereka. Ketiganya pasti akan hidup selayaknya pria dewasa di usia mereka.
Ada yang terkejut di awal, tetapi mengerti di akhir. Tidak semua. Faktanya, si bungsu masih bergeming. Manik kembarnya menatap apa saja yang bisa kejangkau pandangannya di area balkon. Dia terduduk, memposisikan dirinya kapan terakhir kali dia dan gadis itu menghabiskan malam di sini.
Alterish Kookie tidak menyangka kalau dia akan menjadi pemeran utama dari segala hal yang terjadi semenjak kedatangan Alena. Awalnya, biasa saja. Dia sama sekali tidak tertarik dengan rencana sang bunda yang ingin mempekerjakan seorang gadis untuk menjaganya dan kedua kakaknya.
Pilihan Bunda kala itu benar-benar tidak masuk akal. Tetapi, akhirnya justru lebih kacau.
Sejenak atensinya teralihkan disaat mendapati pintu kamarnya terbuka. Menampilkan presensi sang kakak tertua yang berjalan menuju ke arahnya.
Kookie tidak berniat bersuara. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Membiarkan Suga duduk di sampingnya.
“Padahal baru saja ingin satu tahun. Tapi, dampak yang diberikan sebesar ini.”
Menoleh perlahan, Kookie tidak mengerti apa yang dikatakan sang kakak. Manik kembarnya hanya menatap Suga tanpa berniat menimpali.
“Kau merasakannya?” tanya Suga.
“Apa?”
“Perubahan di dalam dirimu semenjak ada Alena,” sergah cowok bermata kucing itu. Meski selalu sibuk dengan sang bunda. Faktanya, Suga tetap peka merasakan beberapa perubahan yang terjadi di dalam diri adik-adiknya.
Kookie bergeming sembari mengalihkan pandangan lagi. Dia tidak tahu apa saja yang sudah berubah dari dalam dirinya saat ini. Tapi yang dia tahu, dia masih sama menyebalkan. Trouble Maker.
Suga membasahi kilas bibir bawahnya. Banyak beberapa kata yang sudah tersusun untuk dia sampaikan kepada si bungsu. Suga hanya ingin, hubungan mereka membaik lagi.
“Aku minta maaf. Awalnya, karena aku.”
Mendengar hal itu, Kookie menggeleng. Walaupun kesal kalau diingatkan perihal kejadian itu. Tetapi, dia juga mengerti, sang kakak tidak sepenuhnya bersalah.
“Kalau aku tidak memukulmu saat itu, ini tidak akan terjadi. Kalau saja aku mendengarkan lebih dulu penjelasan Alena. Mungkin kita tidak akan terlibat perselisihan.”