Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menyelesaikan rapat pertama kali dengan diperkenalkannya Alena sebagai anggota baru. Beberapa pegawai mulai kembali ke ruangannya masing-masing. Termasuk Kookie.
Si bungsu berjalan cepat meninggalkan ruang rapat untuk menuju ruangannya. Ada beberapa berkas yang harus dia kerjakan hari ini. Namun, agaknya kefokusannya sedikit direnggut sebab dirinya dan Alena akan lebih sering bertemu.
Tangannya menyahuti kenop pintu ruangannya tatkala dirinya tiba. Kookie terkejut sejenak saat bagaimana dia mendapati presensi lain ada di ruangannya.
“Lyla?”
Raut wajahnya terlihat bingung. Bersamaan dengan itu, Kookie merogoh saku celananya untuk melihat ponsel. Seingatnya, Lyla tidak memberi kabar apapun kalau akan mengunjungi kantornya. Apalagi, ini menjadi kali pertama Lyla mengunjunginya.
“Kau tidak memberiku kabar sama sekali.” Kookie melangkah mendekati gadis itu dsn berhenti di hadapannya.
“Kejutan!” ucap Lyla tersenyum manis. Gadis itu terlihat begitu anggun dengan balutan dress berwarna biru muda dengan motif bunga.
Kookie membasahi kilas bibir bawahnya. Cowok itu bingung untuk mengekspresikan dirinya, membuatnya memilih untuk diam.
“Ki, lihat! Bajunya cocok, 'kan? Ini yang kemarin.” Lyla memutar tubuhnya, menunjukkan mini dress yang kini dia kenakan.
Alis Kookie bertautan, tangannya menyentuh tengkuk belakangnya. “Yang kemarin?” tanyanya. Lyla mengangguk. “Aku tidak ingat. Kau kan membeli beberapa baju,” imbuh Kookie.
“Iya, tapi ini yang kau pilihkan,” kata Lyla begitu antusias.
“Ah, ya, itu cocok untukmu. Tapi, aku banyak kerjaan sekarang.” Kookie hendak melangkah menuju mejanya, tetapi sahutan tangan Lyla menghentikan langkahnya.
“Sebentar lagi jam makan siang. Aku hanya ingin makan siang bersama, habis itu aku akan pulang.”
Mendengar perkataan Lyla, kepala Kookie mengangguk. Manik kembarnya menyempatkan untuk melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Yah, hanya makan siang, itu tidak akan lama.
Dari menatap arlojinya, pandangannya beralih menatap wajah Lyla yang berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu memiliki getaran yang begitu ceria. Hanya satu kali Kookie melihatnya menangis saat pertama kali mereka bertemu. Setelahnya, Lyla lebih banyak tersenyum dan tertawa.
Sebenarnya, itu cukup baik dan sedikit memberinya perasaan senang. Lyla agaknya sudah melupakan mantan kekasihnya yang sempat membuatnya terluka.
Lyla selalu menjadi pencair suasana bagi mereka berdua yang begitu kaku. Sedangkan, Kookie masih terlalu kikuk untuk terlibat percakapan dan kontak fisik dengan seorang gadis. Dari situ, Lyla yang melakukan semuanya lebih dulu.