28. Hari Kelulusan

1.7K 259 41
                                        

Rumah megah Graceva sudah terlihat rapi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rumah megah Graceva sudah terlihat rapi. Semua tertata pada tempatnya setelah digunakan. Bungkus snack sudah tidak lagi berserakan dimana-mana. Tiga bujang Graceva lekas membuangnya setelah digunakan. Meski begitu, Alena tetap harus berkacak pinggang agar mereka melakukannya.

Faktanya, tiga bujang Graceva tetaplah menyebalkan. Tidak berubah.

Malam ini Alena dan Kookie ditraktir banyak makanan menjelang kelulusan dua pribadi itu esok hari. Jimmy dan Vee dengan senang hati membelanjakan beberapa makanan untuk kedua pribadi itu. Dan tentunya untuk mereka nikmati bersama.

Tetapi sebagai gantinya, Alena dan Kookie harus mentraktir mereka besok.

Keempat pribadi itu menghabiskan waktu di ruang TV untuk menonton film, menikmati camilan, dan mengobrol singkat. Membicarakan tentang apa saja yang akan dilakukan setelah kelulusan, terutama Alena.

Ketiga bujang itu yang memang sudah mengetahui Alena akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri, melempari banyak pertanyaan yang harus gadis itu jawab. Namun, Alena tipikal gadis yang santai hanya bisa berdehem sembari mengunyah camilannya.

“Memang kau berani di Australia sendirian?” tanya Vee yang kebetulan duduk di samping kanan Alena. Netra monolidnya membulat seakan menekankan pertanyaannya untuk lekas dijawab.

Alena menoleh cepat, decakan tipis terdengar. “Hei! Aku ini gadis pemberani. Aku tidak takut apapun, astaga!” tukasnya percaya diri.

Perkataan Alena mencipta decakan tipis dari ketiga bujang itu. Menurut mereka, Alena benar-benar banyak tingkah. Gadis itu terlihat menyebalkan tatkala menanggapi kekhawatiran mereka dengan nada santainya.

Jimmy menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir tenyata Alena semenyebalkan itu. Pun Kookie tidak segan-segan melayangkan satu butir kacang sampai mengenai pipi Alena.

“Ya!” sambar Alena sembari melayangkan tatapan tajam ke arah Kookie.

Namun, sang empu agaknya tidak perduli. Si bungsu malah mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah Jimmy. “Gadis ini memang sudah banyak tingkah sejak awal,” katanya dengan penekanan.

Mendengar perkataan Kookie, Alena mendelik tidak suka. Tangannya meraih bantal sofa dan melemparnya ke arah Kookie. Lemparannya salah sasaran, bantal itu justru mengenai wajah Vee yang hendak beranjak dari duduknya.

“Kok aku sih, Al?” Vee mematung ditempat. Masih merasakan lemparan bantal yang mengenai wajah tampannya. Menyulut kekehan dari belah bibir kedua saudaranya, sementara Alena hanya terdiam.

Hingga perlahan keadaan kembali seperti semula. Mereka menaruh seluruh agensinya untuk menonton film yang sebentar lagi akan selesai. Membiarkan rasa kantuk perlahan menyerang, hingga satu persatu dari mereka beranjak untuk memasuki kamar.

Π•Π•Π•Π•Π


Sejak beberapa menit yang lalu, Kookie hanya bergeming. Menatap eksistensi di depannya yang juga tengah menatap ke arahnya. Sesekali Kookie menunduk, merasakan debaran yang begitu kentara di dalam relung.

Dear, Baby.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang