Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keduanya bergeming beberapa saat. Hanya bertukar pandang. Sampai akhirnya bibir Alena mengatup, bersamaan dengan kesadarannya yang mulai terkumpul.
“Kookie?”
Itu yang pertama kali terlontar. Manik kembarnya pun mendapati Kookie mengangkat kedua alisnya. Alena sendiri bingung harus melakukan apa disaat mendapati si bungsu tiba-tiba ada di depan apartemennya.
Sama halnya, Kookie sedikit terkejut saat mendapati Alena hanya mengenakan kemeja tidur yang membuat gadis itu terlihat lebih dewasa.
“Boleh aku masuk?” Kookie bersuara untuk pertama kali, berhasil menyadarkan Alena untuk yang kedua kali.
Gadis itu mendadak kehilangan arah. Alena terlihat begitu bingung dan berulang kali menatap ke arah manapun. Meski begitu, dia tetap mempersilahkan Kookie untuk masuk ke apartemennya.
Tubuhnya terdiam sejenak di dekat sofa yang sudah Kookie duduki, Alena lagi-lagi kebingungan. Tetapi, sekon berikutnya dia teringat satu hal.
“Kau sudah makan?” tanyanya.
Kookie hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Tunggu sebentar!” Alena lekas melangkah cepat meninggalkan Kookie tanpa menunggu jawaban.
Kaki jenjangnya berjalan memasuki area dapur. Ramennya sudah matang. Alena menempatkan ramen itu ke dalam wadah besar setelah mematikan kompornya. Tidak lupa dia juga membawa dua buah mangkuk di atas nampan.
Membasahi kilas bibir bawahnya, tangan Alena meletakkan nampan itu dengan hati-hati. Sesekali kedua maniknya melirik Kookie yang tengah menatapnya.
“Aku membuat ramen untuk makan malam. Kalau kau belum makan, kita bisa makan bersama.” Tangan Alena meraih satu mangkuk di atas nampan, mengarahkannya ke meja di depan Kookie.
Si bungsu hanya menerima mangkuk dan sumpit pemberian Alena. Dia tidak mungkin menolak karena dirinya pun memang lapar.
Akhirnya, kedua pribadi itu menikmati ramen selagi hangat. Suasana begitu kental dengan kecanggungan, tidak ada perkataan yang terlontar dari belah bibir keduanya. Baik Kookie dan Alena, mereka hanya fokus menghabiskan ramen. Meski manik kembar keduanya yang sesekali melirik.
Alena sama sekali tidak pernah merasakan atmosfer seperti ini. Pertemuan pertamanya dengan Kookie kala itu saja sudah langsung memberikan impresi yang membuat kepalanya pening. Tetapi, keadaan ini justru terjadi sebaliknya. Dan justru memuakkan.
Keduanya menghabiskan ramen kurang dari tiga puluh menit. Alena langsung membawa peralatan makan yang sudah kotor ke dalam kitchen sink. Biasanya gadis itu langsung mencucinya kalau sudah selesai makan, tetapi agaknya untuk sekarang ini, meninggalkan Kookie sebentar untuk meletakkan mangkuk kotor saja sudah begitu terasa berat untuknya.
Alena kembali mendudukkan dirinya dengan perasaan canggung. Sayangnya, televisi di apartemennya tidak menyala. Hal itu sedikit membuat keadaan begitu hening. Pun Alena tidak memiliki tempat peralihan untuk menyamarkan kecanggungannya.