Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pembicaraan Kookie bersama Alena pada malam itu, sedikit banyaknya mengubah pikiran si bungsu akan suatu hal yang dia rasakan selama ini.
Kookie mulai mengerti, semua yang terjadi di dalam hidupnya adalah takdir. Tidak semua apa yang dia inginkan selalu berpihak. Tuhan tidak melulu menuruti apa yang kita inginkan. Tetapi, bukan berarti kita tidak boleh memiliki harapan. Itu yang Kookie pahami.
Dan satu lagi, jangan pernah membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Karena Tuhan, sudah memberikan kebahagiaan dengan masing-masing porsinya. Semua hanya perihal waktu.
Harapan Kookie saat ini hanya ingin melihat Bunda bahagia, menjalani hidup yang baik dengan kakak-kakaknya, dan menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Tapi, untuk opsi terakhir agaknya Kookie belum yakin. Yah, pasalnya saat ini saja, dia sudah berhasil menggangu Alena dan merengek untuk dibuatkan susu hangat.
Kalian pikir kejadian tadi malam dimana Alena berhasil menenangkan Kookie, itu dapat membuat si Bungsu berubah? Jangan harap! Kookie tetaplah Kookie dan si anak bungsu. Sampai kapanpun, perasaan ingin selalu dilindungi dan mendapat perhatian lebih akan selalu melekat di dalam dirinya.
“Nunaa...!” teriak Kookie dari arah meja makan.
Sejujurnya, Alena yang sedang membantu Vee di ruang TV mendengar teriakan si bungsu. Namun, gadis itu mencoba mengabaikannya karena sejak tadi Kookie selalu memanggilnya karena hal kecil.
“Apa lagi sih anak itu,” gumam Alena. Gadis itu menghela napas, melirik sekilas keberadaan Kookie yang masih menikmati makanannya.
Vee terkekeh pelan. Si anak ketiga menggelengkan kepalanya melihat interaksi dua pribadi itu. Vee memang meminta Alena untuk membantunya memilih foto-foto yang dia abadikan sewaktu ulang tahun sang Bunda.
“Sana samperin dulu, nanti Kookie mengamuk,” titah Vee dengan kekehan yang mulai mereda.
“Nuna, astaga. Punya telinga tidak sih?” panggil Kookie lagi. Kali ini nada bicaranya terdengar gusar. Pun alisnya sudah menukik.
Memejam sejenak, lagi-lagi Alena menghela napas. Entah sampai kapan dia bisa terbebas dari rengekan si bungsu yang sangat mengganggu gendang telinganya. Perlahan, tubuhnya beranjak, “Awas saja kalau yang aneh-aneh, aku akan mencukur alisnya,” cicit Alena pelan.
Perkataan gadis itu yang masih tertangkap rungu, membuat Vee tergelak singkat. Terkadang, selain rasa bangga, Vee merasa kasihan dengan Alena. Gadis itu selalu mendapat gangguan dari si bungsu. Yah, walaupun sesekali dirinya terlibat. Entah kenapa, omelan Alena justru menjadi suatu hal yang menyenangkan untuknya dan Kookie.
“Apa sih, Ki? Aku lagi bantuin Vee lho ini,” tukas Alena mencoba sabar. Tubuhnya sudah berada di perbatasan meja makan tempat dimana Kookie berada.
Kookie mencebik. Dia tahu, Alena hanya membantu untuk melihat dan memilih foto saja. Itu tandanya, pekerjaan gadis itu tidak terlalu sibuk. “Itu bisa nanti, ini lebih penting,” ucap Kookie kelewat santai.