Alena pikir, dia dipekerjakan untuk menjaga tiga bocah laki-laki yang menggemaskan. Namun, Alena salah besar tatkala eksistensi tiga bujang yang menyebalkan hadir di hadapannya seperti mengajaknya masuk ke neraka. Terlebih lagi tensinya selalu menin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Layar laptop menjadi atensi utama dari anak ketiga Graceva yang kini semakin mendalami hobi fotografinya. Cowok itu tengah melihat beberapa hasil foto hasil hunting minggu kemarin.
Selama hampir empat tahun, Vee sudah melakukan beberapa pameran di gallery miliknya. Tidak hanya itu, si anak ketiga juga seringkali mendapatkan tawaran kolaborasi. Hal itu membuat namanya sudah banyak dikenal sebab hasil tangkapan gambarnya selalu memiliki nilai estika. Vee sangat pandai mengambil sebuah objek dengan lensa kameranya.
“Ngapain?” Jimmy datang dari arah tangga, mendekati keberadaan Vee yang duduk di sofa depan TV.
“Nggak lihat?” tanya Vee tanpa menoleh.
“Yah, aku tidak tahu kau sedang apa. Kau daritadi hanya menatap laptop,” balas Jimmy sembari merotasikan bola matanya. Dia hanya penasaran saja, sebab sejak bangun tidur sang adik tetap berada di depan layar laptopnya hingga kini.
Vee terkekeh singkat, camilan yang menjadi santapannya sejak tadi dia lahap lebih dulu. “Memilih foto untuk dipajang di galeriku,” jawabnya.
Mengangguk pelan, akhirnya Jimmy mendudukkan dirinya di samping Vee. Netra sipitnya ikut menatap layar laptop untuk dapat melihat hasil tanggapan layar sang adik. “Bagus-bagus! Kenapa tidak jadi fotografer saja?”
Netra Vee mendelik, menatap Jimmy yang hanya cengengesan. “Memangnya selama ini aku di galeri ngapain, astaga.”
Mendapati ocehan Vee, Jimmy tergelak singkat dengan pandangan yang masih menatap layar laptop milik Vee. “Tunggu! Itu Kookie sama Alena?” Jemarinya menunjuk salah satu foto yang ditampilkan.
“Iya. Kurang lebih foto tiga tahun yang lalu.”
Jimmy tergelak lagi, sampai netranya semakin menyipit. Kilatan beberapa waktu lalu membuatnya mengingat bagaimana kedekatan Alena dan Kookie yang seringkali beradu mulut. “Senyum Alena seperti tertekan,” komentar Jimmy.
Terkekeh tipis, Vee mengangguk membenarkan. Dia ingat kala itu, dirinya meminta Alena menjadi modelnya untuk mencoba kamera baru dan Kookie langsung ikut-ikutan untuk berfoto bersama gadis itu.
Waktu yang tepat, eksistensi satu pribadi yang menjadi topik pembicaraan menuruni anak tangga dengan keadaan habis bangun tidur. Wajah si bungsu masih sembab dengan rambut yang terlihat acak-acakan.
“Ki, sini!” titah Jimmy sembari melambaikan tangannya, meminta sang adik mendekati keberadaan mereka.
“Kau tidak kerja?” tanya Vee.
Kookie melangkah mendekati keberadaan kedua pribadi itu, alisnya bertautan, “Jangan mentang-mentang aku kerja di kantor bunda, jadi hari minggu aku tetap kerja. Yang benar saja!”
Vee terkekeh, dia memang hanya berniat menggoda. Sementara Jimmy menarik tangan si bungsu untuk membuat tubuhnya sedikit merendah. “Lihatlah!”
Sorot pandangan Kookie lantas mengikuti arah jemari mungil Jimmy. Pelupuk mata yang awalnya belum sepenuhnya terbuka lebar, kini mendadak terlihat segar. Menyulut lengkungan kurva beberapa sekon setelahnya, bersamaan dengan gigi kelincinya terlihat.