"Apa yang kau lakukan?"
"Sowon ah, mari berbaikan dan jangan seperti ini."
Sowon menyelipkan rambutnya pada bagian telinga, dia menatap pria Choi dengan tatapan tidak habis pikir. Setelah berbuat hal tidak senonoh, dengan mudah ia meminta berbaikan?
"Otakmu lupa dibawa? Atau otakmu telah jatuh dan akhirnya kau hilang akal begini, iya?"
"Sowon ah, aku akan membayar semua perbuatanku di masa lalu. Aku akan—"
"Tidak bisa! Semua perbuatanmu tidak bisa kau bayar dengan apapun."
"Aku kehilangan Wonwoo karena adikmu, apa kau masih akan tetap bersikap seperti ini kepadaku?"
Dalam hitungan detik sorot mata Sowon berubah menjadi sayu. Serangan ingatan masa lalu itu mulai bermunculan dan membuatnya jelas merasakan apa itu sesak. Sowon ingat betul, kala Sinb pulang larut dan hampir ia jemput, namun ketika sampai di ambang pintu, adiknya sudah tiba dengan pakaian yang tak beraturan.
"Berhenti membicarakan perihal masa lalu, sampai kapan pun aku tidak akan berbaikan dengan pria bejat seperti dirimu!"
"Sowon ah, dengarkan aku baik-baik, ini—"
Srekh!
Tangan Sowon terangkat, tentu saja ia langsung mencengkram kerah baju pria Choi dengan penuh peringatan. Mendorong tubuh itu hingga terkantuk tembok, Seuncheol tidak menahannya dan memilih untuk memasrahkan saja.
"Pergilah dari sini, jangan membuatku hilang kendali dan terjadi masalah yang lebih besar dari sebelumnya," ucap Sowon dengan penuh peringatan.
"Kalau begitu maafkan aku, hanya dengan itu aku akan pergi darimu."
"Kau pikir aku akan percaya? Kau ... Pria bejat yang tak pernah bisa menepati sebuah janji!"
"Kali ini aku sungguhan, aku ingin memohon maaf karena aku ingin berbahagia tanpa ada rasa bersalah."
Sowon melepaskan kerah baju itu. "Pergilah."
"Kau sudah memaafkanku?"
Sowon menghembuskan napas panjang, ia memalingkan pandangan sejenak, kemudian berbalik lagi sambil tersenyum miring.
"Memaafkan pria bejat sepertimu?"
"Ya."
"Tidak akan pernah!"
Setelahnya Sowon pergi, merapikan pakaian kantoran itu dengan elegan. Dia berjalan anggun, membuat suasana lorong dipenuhi oleh suara sepatu hak tinggi miliknya. Ia juga menyibak rambutnya ke belakang, menampilkan pesona yang tidak pernah ada duanya.
"Bawa pria itu keluar dari sini, dan jangan biarkan dia masuk tanpa seizinku!" perintah Sowon pada seorang satpam yang kebetulan berlalu di sana.
"Baik, Bu."
.
.
.
"KIM YUJU!!!"
"Dasar pendek!!! Diam saja di tempatmu, jangan mengejarku!!!"
"Yak!!! Jangan pergi karena aku akan dimarahi Sowon eonie nantinya!!!"
Yuju terbahak. "Itu lebih baik!! Aku akan senang kalau kau dimarahi oleh kakakmu itu!"
"Berhenti di tempatmu bocah nakal!!! Kau tidak tahu bagaimana kemarahan Sowon eonie?!"
"Aku tidak mau tahu!!!" Yuju menjulurkan lidahnya tidak perduli.
"Dasar amnesia!!! Lihat saja, kau akan tertabrak lalu ingatanmu kembali!!" teriak Eunha.
Yuju memberhentikan langkahnya, ia berbalik dan menatap Eunha tajam.
