15

541 120 59
                                        




"Apa kau bisa keluar dari apartemenku?"

"Ya?"

"Kau masih ingat jalan keluar dati apartemenku, bukan?"

"So-sowon eonie, aku, aku harus menunggu Yerin eonie."

Eunha menundukan kepalanya, sementara Sowon sudah beranjak dan mencengkram kuat-kuat lengan Sinb. Mata Sowon yang begitu tajam dan menusuk kini menembus pandangan Sinb. Rasanya menyesakkan, saat Eunha yang sejak tadi membungkam diri atas pertanyaannya tak kunjung memberikan penjelasan apapun.

"Keluar sebelum aku mengusirmu secara kasar," peringat Sowon.

Sinb menggeleng. "Tidak ... Kumohon, setidaknya dengarkan terlebih dahulu penjelasan Eunha eonie. Dia sudah mengingat segalanya, aku yakin dia—"

"KELUAR!!!" sentak Sowon tak terberantakkan.

"Baik!!!" Sinb berucap dengan keras, nadanya terdengar gemetar.

Eunha menahan tangisnya, dia memutuskan untuk memalingkan pandangan dan menulikan diri sendiri. Dilihatnya Yerin yang masih terpejam, masih enggan untuk membuka matanya.

"Aku akan meninggalkan tempat ini secepat mungkin, akan aku tinggalkan kalian semua secara terang-terangan!"

Tangan Sowon melemas, ia melepaskan lengan Sinb yang semula berada dalam cengkramannya. Eunha menoleh ke arah dua orang yang tengah berdebat di sana.

"Akan aku buat kalian semua memohon kepadaku, memohon untuk menetap walau pun aku tidak bisa menetap lebih lama lagi," perjelas Sinb tegas.

Sowon menghembuskan napas jengah. "Ayo tinggalkan apartemenku, sebelum aku memaksamu dengan cara menyeret tubuhmu."

Sinb tersenyum miris. "Eonie kau serius mengatakan itu? Kau serius akan menyeretku dan mengusirku dari tempatmu? Sowon eonie ... Aku adikmu, aku sangat merindukanmu."

"KIM SINB!!!!"

"So-sowon eonie, hentikan!"

Hampir saja telapak tangan Sowon mendarat di pipi Sinb, beruntung Eunha bersuara dan menahan amarah tersebut. Eunha beranjak, ia menghampiri dua orang tersebut.

"Dokter sebentar lagi datang, jangan membuat keributan," ucap Eunha.

"Bawa gadis pembawa sial ini pergi dari sini, Eunha ssi!"

Eunha mengangguk cepat. "Aku akan membawanya pergi sekarang, Eonie."

Ketika Eunha hendak meraih lengan Sinb, Sinb lebih awal menariknya. Dia menggelengkan kepalanya dengan penuh permohonan, berharap bisa menetap hanya untuk mengetahui bagaimana keadaan Yerin.

Eunha menatap Sinb tajam. "Ayo pergi!"

"Tidak mau," ucap Sinb pelan.

"AKU BILANG AYO PERGI!!!" sentak Eunha tak terberantakkan.

Degh!

Detak jantung Sowon seolah berhenti setelah mendengar sentakkan Eunha. Beberapa bayangan bocah-bocah kecil itu bermunculan dalam benak pikirannya. Sowon menatap dua gadis yang saat ini tengah saling memenangkan argumen mereka.

Eunha dan Sinb menoleh ke arah Sowon, keduanya dibuat cemas oleh wajah Sowon yang memucat.

"So-sowon eonie, kau baik-baik saja?" tanya keduanya cemas.

"Keluar!" Sowon menunjuk ke arah pintu.

"Tapi kau—"

"KELUAR DARI TEMPATKU!!!!" teriak Sowon penuh peringatan.

SHADOW✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang