And when you find me there
You'll search no more-Bryan Adams-
•••
Bella POV
Besi putih berjejer rapat di depanku, mengungkungku di dalam gelapnya dunia yang tidak lagi dapat kubendung. Setelah kejadian yang direncanakan, aku hampir kehilangan dia. Dia yang hampir selalu ada untukku meski aku abai. Sebelum terkurung di sini, aku sempat pergi untuk melihatnya. Namun, usahaku dapat dikatakan nihil.
Dia di dalam ruangan yang aku sendiri tidak dapat lihat. Satu hal yang pasti adalah bahwa dia sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku merapatkan kembali kain untuk menutupi kepalaku serta kacamata yang tidak pernah lepas. Aku kembali ke rumah dengan perasaan hancur.
Dia adalah Raka Radeya Adhitama, lelaki yang selalu berusaha ada ketika aku butuhkan, bahkan di saat-saat tertentu tanpa aku beritahu. Lelaki yang memberikan warna dalam hidupku. Persahabatan kami sudah terjalin cukup lama.
Aku masih inget jelas bagaimana kami bertemu. Saat itu aku duduk sendiri. Aku memang bukan orang yang mudah untuk bersosialisasi. Aku menyukai kesendirian dan aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Sampai suatu saat aku terlempar bola basket dan pingsan. Guru-guru menggotongku ke UKS. Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan, namun saat mataku terbuka, Raka sedang ditegur oleh seorang guru. Aku masih membiarkan mataku tertutup hingga guru tersebut keluar.
Raka menghampiriku dan duduk di kursi dekat ranjang. Perlahan aku membuka mataku dan tentu sosoknyalah yang pertama kali ditangkap oleh retinaku. Dia menanyakan keadaanku dan memperkenalkan dirinya. Beberapa detik aku terdiam dan membalas senyumnya lalu ikut menyebutkan nama.
Dapat kukatakan itu adalah takdir karena setelah kami makin sering bertemu hingaa saat ini menjadi sahabat terbaik untukku, tetapi tidak dengan aku untuknya. Kejadian yang sudah terjadi sangat fatal dan tidak termaafkan. Aku sadar bahwa aku hanyalah terobsesi dengan Arga hingga hampir saja merenggut nyawa Raka jika tidak secepatnya dibawa ke rumah sakit.
Aku terlalu kalut hingga melakukan hal di luar nalar. Sekarang aku takut Raka pergi dan tidak mau lagi menghubungiku. Aku takut hubungan kami akan hancur padahal sebenarnya aku sangat pantas untuk mendapatkan hukuman tersebut kalau-kalau lelaki itu menginginkannya.
Aku membenamkan wajahku di sela lutut yang kujadikan sandaran. Air mataku terjatuh dan tak lagi dapat kubendung. Aku menyesali semuanya. Mungkin, setelah ini duniaku akan menjadi semakin gelap.
Bunyi gembok yang terbuka tidak membuatku penasaran. Namun, saat namaku terucap dari mulut sipir, aku buru-buru menengadah. "Bella, ada yang mencari kamu." Aku tidak begitu penasaran karena kemungkinan besar yang mengunjungiku adalah Papa. Tidak akan pernah ada yang lain.
Aku berjalan dengan wajah lesu, mengikuti sipir tersebut. Wanita dengan rambut hitam pekat sebahu duduk membelakangiku. Langkahku semakin berat. Belum juga kering, air mataku mendobrak keluar. Pertahananku kembali runtuh saat mata kami beradu dalam tatap.
"Bella...," sapanya dengan suara gemetar.
Saat itulah air mataku jatuh. Tubuhku kaku dan kepalaku terasa sangat pusing. Wanita itu menatapku dengan sendu. Aku membiarkan tubuhku terduduk di kursi persis di hadapannya. Dapat kurasakan kehangatan yang hampir 2 tahun ini tidak pernah aku rasakan saat kedua tanganku digenggam erat olehnya.
"Mama minta maaf, Sayang," ucapnya penuh penyesalan. "Mama minta maaf sudah membuat kamu menjadi seperti ini. Mama tahu mama ga layak untuk disebut sebagai seorang ibu," katanya lancar kendati suaranya gemetar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rufina
Teen FictionAmazing cover by @unicorngraph Karena Arga, Rufina harus terlibat taruhan bodoh dengannya. Bayangkan, dua rival ini harus berada dalam satu hubungan yang bernama jadian. Apa jadinya? Apakah benar pepatah 'Perasaan seseorang berubah seiring berjalan...