Kisah Cafe Latte

309 33 2
                                    

And all i have to do is think of her.

-The Beatles-

•••

"Apa kabar, Yah?"

"Ina kangen banget sama Ayah."

Rufina mengelus nisan makam Ayahnya dengan sayang. Dirinya memilih untuk duduk di tengah-tengah, tepatnya di atas rumput yang dibuat sebagai alas dan dirapikan.

Matanya menatap lurus, tak lagi pada makam milik Ayahnya. "Ayah, Ina minta maaf. Sampai saat ini Ina belum bisa maafin Bunda. Ayah tau gimana susahnya Ina maafin orang."

Senyumnya merekah, "Tapi Ina janji bakal maafin, Bunda."

"Bang Varo juga apa kabar? Baikkan?" Kepalanya menoleh ke kanan di mana makam lain berada seiring kakinya yang ditekuk dengan kedua tangan saling menyatu dan mengelilingi lutut.

"Maaf ya, Bang. Ina belum bisa ngeiklhasin Abang sepenuh hati. Beberapa minggu lagi Ina UKK."

Pikirannya melayang pada kejadian yang pernah dilewatinya. "Dulu kalo Ina mau UKK, Abang pasti dateng dan ajakin Ina buat have fun bareng. Apa pun yang Ina mau Abang turutin." Air matanya tak terbendung. Mengalir tanpa henti dengan rasa sakit.

"Ina mau nyalahin takdir. Kalo tau akhirnya begini, Ina lebih milih jauhin Abang waktu pertama kali kita ketemu." Ada jeda sebentar sebelum ia kembali melanjutkan apa yang dirasa.

"Kenapa Ayah sama Bang Varo ninggalin Ina disaat yang bersamaan? Kenapa? Ini ga adil. Ga ada lagi penyemangat Ina kalo gini caranya."

Rufina terisak. Hatinya menjerit karena rasa sakit yang begitu menyayat.

"Mana Bang Varo yang dulu selalu telepon Ina? Mana Bang Varo yang dulu selalu ada buat Ina? Mana bukti kalo Bang Varo ga bakal ninggalin Ina? Harusnya Ina ga percaya sama apa yang Abang bilang. Ina sayang sama Abang. Banget."

Isakannya masih terdengar. Namun penyesalannya sedikit berkurang. "Ya Tuhan aku minta maaf karena sudah menyalahkan apa yang Tuhan rencanakan. Ga seharusnya aku begini." Rufina sadar. Ia sadar bahwa mau sekeras apa pun dirinya menjerit, kedua lelaki yang disayanginya tak akan lagi berada di sisinya seperti dulu.

Merasa tercekik dengan kenangan dan keadaan, dirinya segera berdiri dan meninggalkan area pemakaman dengan cepat.

Tepat pada satu langkah sebelum iya meninggalkan makam, seseorang memegang pergelangan tangannya dan mau tidak mau Rufina harus berbalik.

"Eh, Raka," sapanya sembari menghapus jejak air mata yang masih tersisa di pipinya.

"Hai, Ruf," tukasnya sembari tersenyum, "gue tadi lihat lo nangis di sana. Kebetulan gue juga habis ziarah," jelasnya.

Rufina mengernyitkan dahi. "Keluarga?"

"Abang gue, Ruf," tuturnya sembari tersenyum miris.

Rufina hanya bisa berdiri dan tersenyum kikuk.

"Mau nongkrong bentar? Kebetulan gue tau tempat kopi yang enak ..." tawar Raka, "tapi kalau mau langsung balik gapapa, Ruf."

Rufina mengangguk dan tersenyum. Tidak salah ia menerima tawaran Raka karena ia juga sudah lama tidak ke tempat kopi. "Boleh. Kebetulan udah lama juga gue ga ngopi."

"Lo naik apa tadi ke sini?"

Rufina berdehem sebentar sebelum menjawab. "Ojek online." Rufina memang tidak menyetir hari ini karena ia malas. Minta tolong pada supir pun tidak ia lakukan karena ia tidak mau bundanya tahu kemana ia pergi.

RufinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang