Fitness

741 61 8
                                    

Kuingin marah, melampiaskan, tapi ku hanyalah sendiri di sini.

-Bunga Citra Lestari-

•••

Disela menyetir, Arga tak sadar bahwa matanya tengah mencuri pandang pada gadis yang sedang tidur pulas di sampingnya. Arga menggerakan satu tangannya yang kosong untuk mengesampingkan poni Rufina agar ia bisa melihat wajah gadis itu lebih jelas dan yang satunya lagi tetap memutar stir. Senyumnya terukir ketika melihat Rufina dengan kepala bersender pada kaca tidak berkutik sedikit pun.

"Lucu banget sih lo, Badak!"

***

"Ngapain sih bangunin orang yang lagi tidur?!"

"Ya lo mau mati ga dapet oksigen di sini?"

Rufina berdecak, "Ya tapi banguninnya ga gitu juga." Jelas Rufina kesal. Arga menjepit kedua pipi dengan tangan besar juga hidungnya sampai ia yakin bahwa tadi adalah ekspresi terburuknya.

Arga menahan tawa, "jelek lo," katanya pelan. Mata Rufina terbuka lebar. Tangannya terangkat lalu mencubit pinggang Arga tanpa ampun. "DASAR MALAIKAT PENCABUT NYAWA! SETAN, NYEBELIN, GA GUNA, AMPAS, SAMPAH!"

Arga menahan tangan Rufina untuk segera berhenti karena jujur pinggangnya nyut-nyutan sekarang. Ia meringis berkali-kali, berharap rasa sakitnya reda. Rufina dengan tengilnya menepuk-nepuk tangan seolah berkata 'Sukur lo!'

Baru saja Arga ingin memaki, Rufina sudah terlebih dahulu mengeluarkan taringnya. "Masih kurang?"

Arga menggeleng cepat. "Udah-udah ayo keluar!"

Mobil berhenti. Arga menenteng tas yang selalu ia bawa ketika ingin ke sini. Di depan pintu Rufina termangu. Ia memperhatikan lamat-lamat semua mobil yang terparkir.

Arga yang sadar akan perubahan Rufina ikut berhenti. "Kenapa?" Rufina masih terdiam. Arga mengunci mobil, lalu berjalan ke arah Rufina. Ia melihat kaki gadis itu gemetar.

"Gue boleh di dalem mobil aja ga?" cicitnya.

"Ke dalamlah. Lo kan gue minta ke sini buat nemenin fitness. Kalo lo di dalam mobil doang ya ngapain gue ajak?" Arga masih menatap Rufina lekat-lekat.

"Kenapa sih?" Ia menyampirkan rambut Rufina yang cukup mengganggu sampai gadis itu mengerjap berulang kali, lalu tersadar. Gadis itu menyentuh ujung bajunya untuk menghilangkan rasa gugup karena perbuatan Arga barusan. "Gue pikir tempat fitness kalo pagi tuh masih sepi. Kalau kaya gini ceritanya gue juga malu masuk pake baju begini," jujurnya sekaligus ingin menutupi rasa gugup yang melanda secara dadakan.

Arga menghela napas. Ia meletakkan tas tentengnya di atas mobil, lalu membuka jaket yang melingkari tubuhnya. Apa yang dilakukan Arga tak luput dari pandangan Rufina barang sedetik pun.

Rufina terperangan saat jaket kebesaran itu kini tersampir di tubuh kecilnya. Ia merasa tenggelam karena ukurannya yang besar. "Makanya, kalau dibilangin tuh denger. Jangan sok-sokan!" ledeknya seraya menjepit pipi Rufina seperti ikan yang sedang di darat.

Dengan cepat Rufina mendorong tangan tersebut. "Sakit ah!" Mata bulatnya menatap Arga kesal. Tangannya menyembul keluar untuk mengusap pipinya.

RufinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang