Makan Malam

310 32 2
                                    

The winter came too soon, when your heart was in bloom.

-The Panic Division-

•••

"Mau ke mana, Ruf?"

Rufina terlonjak ketika mendengarnya. Ia yakin bahwa pintu kamarnya tadi sudah ia tutup.

"Diketuk dulukan bisa," desisnya dengan dingin.

"Tadi Bunda udah ketuk pintunya, tapi karena ga ada respon jadi Bunda masuk," jelas wanita itu dengan lembut. Ia masih berdiri di depan pintu.

"Mau ngapain?"

"Bunda mau masak. Jadi Bunda mau tanya sama kamu apa yang lagi kamu pengen?"

Rufina menggeleng cepat. "Ga usah. Aku mau makan di luar."

Rina berusaha menampik segala sakit yang menjalar di dadanya dengan tersenyum. "Mau makan di mana?"

"Rumah temen." Sebenci-bencinya ia dengan Bundanya, ia tidak akan pernah tahan melihat tatapan sendu yang sekarang sedang ditujukan baginya.

"Oh oke," jawabnya singkat.

Baru saja Rufina ingin melanjutkan kegiatannya untuk mencari baju yang cocok, Bundanya kembali buka suara. "Mau Bunda bantu? Sepertinya kamu butuh bantuan," tawarnya tidak lupa dengan senyum yang begitu hangat.

Dengan cepat dirinya menggeleng. Selain gengsi, ia juga tak mau bundanya tahu bahwa ia akan makan dengan lelaki yang suka berada di rumahnya secara tiba-tiba.

"Oke."

Suara derit pintu menandakan bahwa seseorang sudah keluar dari ruangan ini. Ia kembali memilih-milih baju yang berada di lemarinya.

"Gue harus pake yang mana?" tanyanya frustasi pada diri sendiri. Seketika ia menyesal tidak menerima tawaran dari Bundanya. Apa ia harus meminta kembali bundanya untuk membantu?

Oh ayolaha. Padahal ini hanya sekadar makan malam biasa, tetapi mengapa rasanya seperti makan malam untuk membahas sesuatu yang penting?

Dia menjatuhkan pantatnya di tepi kasur dengan posisi lemari yang masih terbuka. Matanya menyapu satu-persatu baju yang tergantung di dalam sana. Rufina meraih ponselnya di tengah kasur kemudian mengetikkan pesan untuk seseorang.

Rufina : Gue harus pake dress atau engga?

Tidak butuh waktu lama, pesannya segera mendapat balasan.

Arga : Pakai baju yang nyaman aja. Oke?

Kalimat yang dikirimkan Arga memang menenangkannya sedikit karena nyatanya ia merasa harus menggunakan dress. Baju terusan yang dia punya terbilang cukup banyak, tetapi kenapa sekarang rasanya kurang? Bukan-bukan, maksudnya ia merasa bahwa tak ada yang cocok baginya.

"Mau Bunda bantu atau engga?"

Rufina menoleh. "Loh, Bunda kapan masuknya?"

"Bunda ketuk pintu, tapi ga kamu buka-buka lagi jadi Bunda putusin untuk masuk. Sekarang gimana? Kamu mau nolak tawaran Bunda lagi? Ini udah jam setengah 6 loh. Dan Arga dateng 1 jam lagikan?" ujar bundanya panjang lebar.

Rufina melongo ketika mendengar kalimat terakhir yang Bundanya ucapkan. Ia berdiri seketika, "Bunda tau dari mana Arga bakal dateng?"

"Arga selalu kasih tau kalo mau bawa kamu. Makanya Bunda ga pernah khawatir," jawabnya dengan tenang.

RufinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang