10. Brian dan Leo

309 36 1
                                    

Di kelas sangat ramai, pasalnya ada seorang siswi baru bernama Tirtayasa Amora. Semua siswa-siswi berbondong-bondong untuk melihat murid baru itu, yang berada di kelas Zia.

Hal itu sangat tidak disukai oleh Zia, hingga ia memutuskan untuk ke kantin dengan para sahabatnya.

“Din, kantin yuk.” ajak Zia.

“Yuk, males gue rame-rame disini.” Dinar meng-iya kan ajakan Zia.

“Kalian ikut apa kaga?” tanya Zia pada ke-lima pria itu. Siapa lagi jika bukan Liam, Peto, Teo, Iqbal, dan Brian.

“Ikut.” jawab mereka kompak.

Lalu berjalan keluar kelas dan menyusuri sekolah. Saat sampai di kantin, sebuah obrolan yang tidak enak didengar masuk ke telinga Zia.

“Si Kezia ganjen banget, baru masuk sekolah udah bisa Deket sama Brian dkk.” ucap seorang perempuan.

“Iya, gue berkali-kali coba Deket sampe sekarang ga bisa.” balas temannya.

“Pasti dia mau ngehancurin persahabatan Brian dkk.”

Zia yang kesal pun menghampiri meja mereka.

“Hai.” sapa Zia manis, saatnya bermain.

“Eh hai.” jawab perempuan yang bernama Yery.

Dasar bermuka dua. Batin Zia.

“Kalian lagi bahas apa?” tanya Zia.

“Emm, kita lagi bicarain pelajaran kok.” jawabnya.

“Ohh, tapi tadi gue denger nama gue.”

“E-em itu, k-kita kagum sama...sama kecantikan Lo, iya.” jawabnya gagu.

Zia mengangguk, “Santai aja kali, gue ga bakal keluarin kalian dari sekolah kok, lain kali kalau mau bicarain orang, jangan dibelakang, di depannya aja langsung, dan jangan pake toa biar ga ketahuan.” ucap Zia halus namun terkesan menyindir.

Kedua perempuan itu menunduk malu.

“Dan jangan 2 face dong, kalau kalian jahat, kan orang jadi bingung mau nampar wajah yang mana dulu.”

“Udah ya, gue mau makan, laper sama makanan soalnya, kalian kalau laper, makannya pake nasi ya, jangan pake ghibah, bukannya kenyang perut malah kenyang dosa.” kemudian Zia berjalan menuju meja tempat biasa ia dan temannya duduk.

“Pedes banget mulut Lo zi.” ucap Brian.

“Salah sendiri ngeghibah ketauan, gak elite banget.” jawab Zia.

“Mau pesen apa? Biar gue pesenin.” ucap Iqbal.

“Tumben?” Liam curiga dengan Iqbal, biasanya ia disuruh dulu untuk memesan makanan bersama Teo atau Peto.

“Ck, buru.”

“Pesen mie ayam aja semuanya, minumannya teh es.” ucap Zia.

Lalu Zia melirik kearah stand yang berjualan dan terlihat murid baru tadi sedang berdiri di stand bakso. Zia tau Sekarang.

Iqbal berjalan untuk membeli mie ayam, saat makanan sedang di siapkan, Zia dan yang lainnya melihat Iqbal yang sedang menggoda anak baru itu.

“Woy! Jangan ganjen!” teriak Zia.

“Bacot!” balas Iqbal yang membuat temannya terkekeh.

Tak lama setelah itu, Iqbal datang dengan mang Kerto, penjual mie ayam.

“Makasih mang.” ucap Liam.

“Sami-sami, kalau gitu mang Kerto balik ke stand ya.” mereka mengangguk.

USAI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang