22. Dia salib, Zi.

281 29 3
                                    

Sebelum baca vote dulu ya biar nanti ga lupa.

Dinar dan Zia sedang berada di dalam mobil menuju ke apartemen, fyi: ini apartemen milik paman dari Leo, atau lebih tepatnya kakak dari ibunya.

Pamannya itu sangat tidak menyangka bahwa itu adalah perbuatan dari Harry, ia menyesal telah memperbolehkan Dania menikahi pria brengsek itu.

Pamannya juga tidak menyangka adiknya akan dibawa ke Amsterdam, dan untungnya ia memiliki sebuah apartemen di Amsterdam untuk dijadikan tempat tinggal sementara sang adik.

Dan ketika mereka pulang ke Indonesia, ia akan melihat keponakannya yang sudah besar ini. Terakhir dilihat ketika ia baru lahir.

Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di apartemen. Namun kemana mobil teman-teman nya?

"Assalamu'alaikum." Salam Zia dan Dinar saat memasuki apartemen.

"Kok sepi?" Tanya Dinar.

"Mana gue tau." Lalu mereka berjalan menuju kamar para temannya yang tidur satu kamar ber-lima.

"Lah? Cuma ada si Iqbal lagi ngorok." Zia mendekat kearah Iqbal yang sedang tidur di atas kasur dengan beberapa bungkus camilan di sekelilingnya.

"Bal!" Panggil Zia.

Namun itu tidak berguna, Iqbal tidak terusik sedikitpun.

"Masih nafas ga, zi?" Zia meletakkan jari telunjuknya pada hidung Iqbal.

"Masih kok." Ucap Zia.

"Coba pake ini." Dinar menyerahkan sebuah mic dengan speaker.

Mic yang satu pasang sama speaker nya, tau kan?

"Trus diapain?" Tanya Zia.

Dinar tersenyum licik. Ia membisikkan sesuatu pada Zia.

Setelah itu mereka keluar dari kamar dan menuju kamar Dania. Tak lupa mengunci pintu dari luar.

Mereka berdua terkikik geli. Pasti Iqbal akan teriak. Dan benar saja, belum sampai mereka di kamar Dania, suara teriakan dari Iqbal sudah lebih dahulu memberhentikan aksi mereka.

"AAAAA ZIA DINAR!! WOY!! BUKA PINTUNYA!!" Teriak Iqbal yang mampu membuat Dinar dan Zia tertawa terbahak-bahak..

Disaat mereka sedang tertawa, Brian dan yang lainnya datang menghampiri mereka berdua dengan tatapan yang heran.

"Kalian kenapa?" Tanya Peto.

"Denger aja sendiri." Ucap Zia disela-sela tawa nya.

"ZIAAA!! WOELAH ANJING! BUKA!"

"Dia kenapa?" Tanya Brian.

Zi dan Dinar saling bertatapan, lalu menceritakan semuanya.

Flashback on

"Daripada buang-buang tenaga, mending bangunin dia pake cara jitu aja." Bisik Dinar tepat pada telinga Zia.

"Ohh gue tau! Paham-paham."

Zia meraih handphone Iqbal lalu membuka aplikasi YouTube dan mencari lagu lengser wengi dengan suara Kunti.

Tak lupa menyambungkan dengan bluetooth dari hp nya pada mic. Dan dengan suara yang sangat full.

Flashback off.

"Gitu."

Keempat pria itu mengangguk paham, lalu Brian berdiri dan membukakan pintu untuk Iqbal yang sepertinya sangat ketakutan.

USAI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang