43. Nikah

101 11 0
                                    

"Lo ngapain sih zi?" Tanya Brian pada Zia yang sedang memencet-mencet urat yang menonjol di tangannya.

"Lagi mencet urat Lo." Jawabnya tanpa menghentikan aksinya.

"Gabut Lo gak ada guna."

"Yee bodo!" Zia tetap melanjutkan aksinya dengan senang.

Urat di tangan Brian tuh seru banget kalo di pencet, kata Brian ga sakit, yaudah Zia pencet aja terus.

"Udah dong zi." Kesal Brian, karena Zia mencubit-cubit uratnya pelan.

"Diem deh! Lo ganggu aja."

"Masalahnya yang Lo mainin itu tangan gue bodong!"

"Ya terus gak boleh? Yaudah sana." Zia menghempaskan tangan Brian menjauh darinya.

"Allahuakbar." Gumam Brian.

Sudah bisa dipastikan 10000% Zia merajuk, pasti lagi dapet nih.

"Enggak, enggak, nih mainin lagi." Brian mendekatkan tangannya, namun segera ditepis kasar oleh Zia.

"Ini." Brian meletakkan tangannya di paha Zia.

"Gak mau?"

Zia tak menjawab.

"Yaudah maaf ya." Brian mengusap rambut Zia.

"Lo gak ikhlas." Sinis Zia.

"Ikhlas kok."

"Enggak! Kalo bilang maafnya pake kata 'yaudah' diawal, berarti gak ikhlas!"

"Ikhlas sayangg."

"Lambemu! Gue gak mau Lo panggil sayang!"

"Kenapa?"

"We just friend!"

"so you want us to have a relationship?" Goda Brian.

"Ga!"

"Yakin?" Brian mencolek dagu Zia.

"Apa sih?! Awas sana!" Zia mendorong tubuh Brian agar menjauh darinya.

"Nanti kangen kalau gue jauh-jauh."

"Najis!"

Zia berdiri dari tempatnya, lalu berjalan menuju dapur untuk menghampiri Dania.

"Tante, mau Zia bantu?" saat melihat Dania sedang memasak.

"Eh Zia. Gak usah sayang, kamu duduk aja."

"Gapapa Tan, daripada Zia duduk ga jelas." Ucapnya sembari mengambil alih bawang yang sedang dipotong oleh Dania.

Dania tersenyum, menantu idaman!

"ZIA!" Teriak Brian.

Zia hanya diam, ia tau Brian menyusulnya ke dapur.

"Ziaaaaaaa." Panggil Brian lagi.

"Sayanggggggg."

"Babeeeeee."

"Sa-"

"Apasih! Sayang-sayang, pacaran aja engga." Ucap Dania.

"Mama mau menantu kayak Zia gak?"

"Mau banget."

"Nanti deh, langsung lamar."

Blush

Pipi Zia memerah mendengarnya. Namun ia hanya bisa diam, aksi merajuk tetap jalan.

Sedangkan Dania tersenyum sangat lebar mendengar ucapan anaknya.

"Kapan mau lamarannya?" Tanya Dania.

USAI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang