CROWN GARDEN, UPPER WEST SIDE
NEW YORK CITY
Derap heels Charlotta mengentak-entak di sepanjang lorong menuju kamarnya. Sinar matahari pagi yang menerobos jendela kaca menyorot ke lantai marmer mengilap. Di belakangnya, Karry melangkah tanpa berniat mengejar kekasihnya yang berjalan seperti sedang dikejar monster. Gaun Charlotta mengibas kasar seiring langkahnya membelok ke lorong depan kamar. Terdengar bunyi ceklek, tapi langkah Charlotta tertahan di ambang pintu. Ia melirik ke arah Karry yang menatap datar dari jauh.
"Apa kau mengikutiku?" tanya Charlotta dengan napas berat.
Karry menyahut tanpa ekspresi, "kita harus membicarakan masalah ini."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pergi saja ke Shanghai dengan tenang, aku tidak menahanmu."
"Tidak ada yang memintamu untuk menahanku juga," ujar Karry. Mata Charlotta membelalak, ia bergegas masuk ke kamar, membiarkan pintunya terbuka. Sambil melepas hoodie kebesarannya, Charlotta membiarkan Karry bersandar dan menatapnya dari ambang pintu.
"Apa kau sedang marah?"
Charlotta mengendus malas, "kau pikir?" ia membenarkan tali bahunya yang terbuka, hanya ada tali dari dada yang mengikat gaun itu menggantung di tubuhnya yang mungil. Kain satin lembut itu jatuh lurus mengikuti lekuk tubuhnya, ia mengambil sepatu dari lemari kecil yang sering ia pakai.
"Kukira kau akan senang jika aku pergi. Kau kan bisa berenang sepuasmu di taman belakang. Oh, apa kau ingin Gummy-gummy menemanimu di sini? Aku bisa bicara ke ibu untuk meminta izinnya."
Langkah Charlotta terhenti waktu ia hendak berlalu ke meja riasnya. Ia harus menghadiri jam makan siang bersama nenek Karry sebelum beliau terbang kembali ke Nederland. Nenek Karry dari keluarga Natalie sebulan yang lalu sempat menginap dan mengajarkan Charlotta beberapa pengetahuan baru di bidang melukis. Rencananya, kuliah nanti, Charlotta ingin mengambil jurusan seni. Ia ingin membebaskan segala macam emosinya ke kanvas putih. Karry bilang ia juga berbakat untuk membuat buku dongeng. Siapa tahu nanti ia bisa memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. Apa yang di otak Karry hanya bisnis dan bisnis.
"Oh, ide yang sangat baik, Karry! Aku yakin Anna dan Marie akan betah berada di istana mewahmu ini!"
Istana mewah sama dengan penjara bagi kaum normal. Hanya orang-orang pilihan yang mampu bertahan tinggal di Crown Garden yang penuh tradisi dan tatakrama ini. Karry beranjak mendekati Charlotta, merenggut lengannya untuk berdiri. Charlotta tertegun sejenak, ia membiarkan tubuhnya diputar oleh pemuda itu sementara pandangannya mengelilingi gaun makan siang gadis itu.
"Apa ini gaun yang diberikan nenek kemarin?"
Charlotta menunduk, mengamati gaun selutut bergradiasi warna ungu putih. Di ujung-ujung roknya ada glitter yang membuatnya berkilauan. Apa kata pelayan tadi pagi? Charlotta mengerling, "tidak ingat. Sepertinya iya."
"Apa yang akan nenek katakan padamu..." Karry hanya menggeleng, seperti tak habis pikir ada orang yang tidak peduli dengan keindahan gaun yang pas di tubuhnya. Dan harus ia maklumi, orang itu kekasihnya sendiri.
Charlotta menyipitkan mata, ia meletakkan sisir yang baru saja ia pakai dengan entakan keras. "Pokoknya, aku tidak peduli. Aku masih marah dengan keputusanmu pergi ke Sanghai!"
Tangan Karry mencekalnya, Charlotta tersentak berbalik ke arah pemuda yang menatapnya datar itu.
"Sejak kapan kau berubah jadi manja?"
Charlotta membelalak, "ini bukan manja. Ini namanya kau tidak menghormati perasaanku. Apa susahnya bilang kalau kau berencana ke Shanghai untuk mengikuti paket bisnis itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Prince's Secret (Sequel)
Fiksi RemajaCompleted. Setelah resmi berpacaran dengan Karry Wang dan melalui petualangan mencari orangtuanya yang ternyata adalah seorang pengrajin Teddy Bear terbesar di dunia--James Smith, kini kehidupan Charlotta dan Karry terus bersemayam dalam Crown Garde...
