45 : KARRY & FELICIA

33 6 6
                                        

Alat itu berhasil.

Larutan batu giok yang tercampur dan luruh berhasil diolah menjadi sebuah serat-serat tipis. Prosesnya lama, memakan waktu berjam-jam dan tidak mudah. Tapi setelah berhasil ditenun menjadi bahan yang agak tebal dan berat, itulah, fabric giok yang selama ini ada di bayangan Karry, hadir di hadapan semua kerabat yang menyaksikannya.

"Ini selimut. Aku membuat ini supaya bisa diproduksi untuk rumah sakit. Supaya pasien bisa mendapat khasiat tambahan dalam proses penyembuhannya. Lalu ada piyama tidur, beragam pakaian untuk rumah dan sebuah kebutuhan fashion."

Karry menunjukkan potongan kain yang sudah berhari-hari ia olah sendiri di pabrik Brian Liang. Bersama mesin-mesin itu, bagi Karry itu terasa bermain saja. Meskipun harus membuat serat yang tipis, tapi mesin itu sangat canggih dan memudahkan segalanya.

Di sebelah meja panjang ruang kelas, semua orang mendesah kagum. Ia mengangkat selimut panjang berwarna putih kehijauan. Warnanya seperti giok murni.

"Aku sengaja tidak menambahkan warna apa pun karena berharap tidak melunturkan kualitasnya. Kain ini agak sejuk kalau dipegang, itu salah satu efek dari pelarutan mineral ke serat pakaian. Lalu di sini," Karry mengangkat potongan baju lain serta taplak meja,"ada banyak untuk kebutuhan rumah tangga."

Karry semakin berjalan ke tepi meja, mengambil sebuah gaun panjang yang daritadi menarik perhatian orang-orang. Dengan tinggi badan Karry, ia bisa dengan mudah menggantung gaun itu di tangannya tanpa menyentuh lantai.

Garis pinggang gaun itu agak merekat. Roknya mengembang selutut, dengan atasan sederhana dan potongan lengan tak melebihi batas bahu, gaun itu berkilau dengan tambahan glitter dan kain transparan yang lembut. Menambahkan kesan tidak nyata dalam gaun indah itu. Karena perpaduan warna putih hijaunya begitu lembut dan begitu sejuk.

"Ini yang akan aku pamerkan di acara penutupan nanti. Desainnya oleh Cindy Young. Aku akan memberikan ini ke orang yang bakal menjadi modelnya nanti untuk pameran."

Karry menoleh kecil ke arah Felicia yang tersenyum sipu. Semua orang bertepuk tangan meriah. Tidak menyangka atas hasil yang akhirnya berujung sempurna. Separuh kerabat berbisik-bisik, kecuali Roy yang duduk rapi di tengah sofa. Sementara Brian dan Bernard menghampiri Karry, Brian berseru.

"Di akhir kelas nanti, kita akan mengundang beberapa tamu untuk memperkenalkan hasil Karry. Sebelum waktunya, jika ada yang ingin membuat cidera mata sebelum kelas ini berakhir, aku akan senang untuk membantu kalian. Mari kita ucapkan selamat atas keberhasilan Karry Wang sekali lagi!"

Tepuk tangan bergemuruh. Karry melihat Bernard yang menatap tanpa tekanan. Baru kali itu ia merasa ayahnya setenang itu. Biasanya ia bakal langsung menanyakan siapa yang bakal dijadikannya model. Tapi ia diam saja. Dan itu sedikit membuat Karry lega.

"Karry, apa kau ingin memberitahu kami siapa yang akan menjadi modelnya?" Pertanyaan itu datang dari Brian Liang. Sejenak, Karry baru sadar kalau hampir seluruh ruangan mengamati, menunggunya menjawab.

Dengan langkah mantap, Karry mengangkat gaun itu.

"Seperti yang kalian lihat. Desain gaun ini dibuatkan presisi dan penuh aksen. Aku sengaja meminta pada Cindy untuk membuatkannya pas oleh orang yang cocok mengenakan ini," jeda sejenak, cukup membuat seluruh kerabat menunggu,"aku akan membuat Charlotta Smith mengenakan gaunnya."

Karry mengedarkan pandangan. Semua orang tertegun beberapa saat, tapi kemudian suara Roy-lah yang berseru. Memanggil semua orang kembali bertepuk tangan. Dari depan kursi, ia melihat wajah Felicia memucat.

Di sebelahnya, Brian berbisik, "siapa Charlotta?"

Karry menoleh tanpa ekspresi, membungkam Bernard yang hanya berdiri di sebelahnya tanpa mengatakan apa pun. Setidaknya dari ini, ia bisa tahu kalau ayahnya selesai. Tidak ada urusan bisnis lagi setelah ini selesai. Dan hubungan Bernard Wang dan Brian Liang hanya sebatas bisnis. Tak ada yang spesial seperti perjodohan untuk membuat semua orang tersanjung. Tidak ada itu, dan tidak ada lagi masa lalu.

"Ia kekasihku. Maaf membuatmu bingung, tapi aku tidak bisa bersama Felicia seperti yang kau dan ayahku restui. Maafkan aku, paman." Karry membungkuk memberi pengucapan maaf yang formal. Meski orang-orang masih asik bertepuk tangan, dari depan, Felicia tiba-tiba menarik Karry keluar.

Keheningan sempat terasa. Begitu ia ditarik keluar, saat itu, Roy berusaha mencairkan suasana. Entah itu ditatapan semua orang yang bertanya-tanya, atau pandangan dingin Brian Liang.

xx

"Apa maksudmu tadi?"

Felicia bertanya di sepanjang koridor yang sepi. Agak menyudut ke ujung koridor yang panjang, mata Felicia terluka menatap Karry yang membuang wajah.

Inilah yang mendarat lepas pada akhirnya. Ia tidak bisa membohongi perasaannya lagi.

Saat Jackson menyebut kalau ini antara ia tidak bisa melupakan nenek atau merindukannya, kenyataan itu meraup sebagian kesadaran Karry. Apa yang selama ini hidup dalam bayang-bayang Felicia hanya sebatas masa lalu.

Ya.

Hanya sebatas itu.

Itu yang seharusnya Karry katakan di rumah sakit waktu ayahnya memaksa. Ia tidak ingin Nenek May hadir lagi di masa sekarang. Apalagi tinggal di dalam Felicia yang sebenarnya hanya angan-angan belaka. Perasaan itu, sudah lenyap ditelan Charlotta. Jauh lebih dulu daripada yang Karry rasakan.

Ia bodoh. Terlalu bodoh untuk bisa merasakan kalau ia begitu tidak bisa memberi keputusan sampai ketika ia mengucapkannya, nama Charlotta bergetar di ujung bibirnya, tangannya bahkan hatinya. Ia merasa bisa menyentuhnya hingga seluruh tubuhnya mendera rindu. Ia ingin kembali, ia ingin merasakan kalau hatinya hanya akan berdegup jika menatap Charlotta.

"Kenapa Karry?" tanya Felicia parau. Air mata sudah di ambang pelupuknya. Karry menelan ludah.

"Nenek May terlalu berharga bagiku. Dan aku jelas yakin, yang aku inginkan darimu adalah harapan bahwa masa lalu itu bisa selamanya melingkupiku. Tapi," Karry tercekat beberapa saat, "aku seharusnya tidak menggunakanmu hanya sebatas aku merindukan Nenek May. Tidak."

Mata Felicia melebar. Air matanya menetes.

"Kau tak lebih dari hanya sekadar masa lalu yang kurindukan, Felicia. Kau hanya memori yang terlalu kusayangi. Dan hanya sebatas itu."

Karry terempas pada kata-katanya sendiri. Ia tidak pernah berpikir kalau kata-kata bisa membuat sembilan puluh persen keyakinan nampak jadi kian nyata. Ia tidak tahu kalau seribu kali lipat, hatinya yang selama ini meringkuk menunggu waktu akhirnya meledak setelah mengakui itu.

"Hanya Charlotta yang menyadarkannya padaku. Aku terlalu sulit menerima masa lalu sampai aku terjebak dan melupakan bahwa aku terlalu mencintainya hingga bisa bertahan selama ini."

Felicia terisak, pundaknya gemetar, tapi tak mengatakan apa pun.

"Hanya dia, yang selama ini benar-benar nyata. Ada di hidupku, membawaku kembali menerima kalau masa lalu itu memang tidak pernah kemana pun. Ia indah di waktu yang tepat. Tapi bukan di antara aku dan kau."

****

Hiyaaa akhirnya Karry :' gimana perasaan kalian di episode ini? Sebentar lagi menuju ending guyss persiapkan dirii~

The Prince's Secret (Sequel)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang