Setelah menahan Charlotta untuk tetap di kamarnya, Jackson mencari batang hidung seseorang yang seharusnya ia cari dari awal. Karry bilang ia ada di rooftop. Sialan, kenapa setiap masalah percintaannya Jackson selalu harus turun tangan? Ia tidak pernah tahu kalau lari-lari dari kantor agensi demi cowok bodoh itu perlu tenaga untuk menahan emosi.
Jackson tidak tahu di mana rooftopnya, jadi ia harus turun dan bertanya ke resepsionis. Kemudian ia naik lagi sampai ke upper floor yang ada di atas lantai 40 bangunan hotel besar ini. Ia tidak pernah menginap di hotel Farmount setiap mengunjungi Shanghai. Hotel ini terlalu murah untuk kalangan artis, di tambah Premium Suite-nya agak menyatu dengan bangunan umum. Meski begitu, harus ia akui kalau suasananya cukup bagus. Pemandangan Pearl Tower dan beragam menara kembar lainnya dari semenanjung Liujiazui cukup memanjakan mata.
Ketika ia berderap ke lobi rooftop, Jackson melongok ke pintu kaca yang ada di samping. Pintu itu mengarah ke rooftop yang luas. Nampaknya jarang ada yang ke rooftop. Langit sudah menghitam, udara mulai tercium dingin. Aroma perpindahan musim mulai terasa. Jackson meluaskan pandangan ketika ia keluar ke rooftop itu. Berusaha memfokuskan pandangannya ke beberapa orang yang duduk di atas meja pengunjung sambil menikmati santapan malam.
Musik mengalun lembut, ditambah dekorasi yang hangat dengan lampu-lampu kuning bergelantungan dari sisi tiang kandelar, ke sisi lainnya. Dibatasi pagar sepinggang, Jackson menemukan punggung Karry yang membelakanginya. Ia berdiri agak jauh dari kerumunan, memandang ke arah Bund.
Tiba-tiba sengatan emosi memuncak naik. Langkah Jackson dipercepat, ketika ia berhasil mencapai pundak cowok itu, Karry terlihat kaget. Lalu tanpa basa-basi, Jackson langsung melancarkan pukulannya.
Karry mengaduh, wajahnya terlempar ke samping, beberapa pengunjung mulai mengamati. Tapi Jackson segera membenarkan kerudung dan maskernya, lalu membuang wajah ke arah depan. Menghindari tatapan pengunjung. Sementara Karry, tidak mengatakan apa pun, ia tahu pukulan itu untuk apa.
"Kau tidak pernah berubah, Karry. Tidak pernah berubah sama sekali," komentar Jackson. Sudut bibir Karry agak berdarah, ia menyekanya asal lalu berdiri tegap di samping Jackson.
Karry tergelak pelan.
"Terima kasih."
"Apa kau sadar telah melakukan apa?" Nada Jackson menaik, ia tak sabaran. Benar-benar tak sabar. Semakin Karry diam, semakin gatal tangan Jackson ingin meninjunya lagi. Setidaknya sampai otak Karry berputar dan terbuka. Felicia bukan pilihan. Ia manusia paling manipulatif ketimbang Cindy. Sayangnya, ia tidak pernah bisa memberitahu itu.
"Kalau kau masih berpikir Felicia seharusnya menjadi pacarmu, maka lakukanlah. Kau itu memang selalu bodoh pada masalah-masalah sederhana."
"Ini tidak pernah sederhana," tukas Karry tajam, matanya cukup berkilat untuk meyakinkan kata-kata itu, "kau tahu kematian Nenek May bukan hal yang sederhana."
Suara Karry yang rendah begitu menusuk relung terdalam Jackson. Ia tahu kematian Nenek May tidak pernah bisa menyembuhkan luka siapa pun. Bahkan mungkin Felicia sendiri. Tapi, Karry harus sadar. Ini adalah masalah masa lalu yang sudah terpaut jauh. Ia tidak bisa selamanya berada di sana dan berharap-harap Nenek May kembali hidup seperti harapan waktu kecilnya. Ia tidak bisa.
Bahkan Karry tidak pantas memikirkan itu.
"Apa yang membuatmu seperti ini, Karry? Nenek May sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Kau pindah ke New York dan bertemu Charlotta. Kau jelas membenci Felicia dan itu akan berlaku selamanya, tapi kenapa... kenapa kau masih tidak bisa menentukan pilihan? Kau yang bilang sendiri kalau Felicia menipumu."
"Dia memang menipuku," kata Karry, "tapi aku tidak bisa menghentikan perasaanku kalau aku, tidak pernah bisa membenci Felicia. Itu tidak pernah terjadi, dan aku baru tahu ketika kami bertemu lagi."
Kejadian itu terlalu lama, mereka masih kecil untuk mengenal cinta dan benci. Jackson terdiam, entah ingin mengomel bagaimana karena sekarang ia jadi kelelahan. Ia melepas masker wajahnya lalu menatap Karry yang mengerjap ragu. Dengan alis berkerut samar, tampang itu, tampang paling jujur kalau cowok itu tidak pernah bisa mengerti dirinya sendiri. Bagaimana orang lain bisa paham apa yang dipikirkannya?
"Jadi kau masih mencintainya?"
Karry terdiam. Ia benci sekali setiap Karry diam. Pertanyaan mudah itu nampak seperti pengetahuan tersulit bagi Karry untuk mengerti jawabannya.
"Aku bertanya padamu," Jackson menghadap cowok itu, menatap ke dalam mata Karry yang tertekan, "apa kau masih mencintainya atau itu hanya sebatas perasaan kau merindukan masa lalu?"
Tiba-tiba pandangan Karry melunak. Ia merasa tekanan itu luruh dalam pertanyaannya.
"Apa kau merindukan masa lalu juga?"
Jackson menghela napas. Siapa yang tidak merindukan Nenek May? Setiap awal musim panas, hanya ia perwakilan keluarga yang masih sering berkunjung ke Summer Garden. Dari setiap kerabat, keluarga Wang paling dekat dengan keluarga Han. Bagi Jackson, kunci rumah Karry bisa jadi miliknya, begitu juga sebaliknya. Sama halnya Nenek May. Walau itu nenek kandung Karry, tapi bagi Jackson, beliau juga neneknya sendiri.
Masa lalu yang terlalu berputar indah, rasanya tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Di saat kita berharap itu bisa kembali seperti dulu, mereka hanya ada di memori kepala kita. Summer Garden yang sepi, bukan lagi tempat Nenek May berada.
"Kau tidak bisa menyamakan Nenek May dan perasaanmu Karry. Ini sesuatu yang berbeda. Nenek May telah tiada, oke?"
Karry melempar pandangan ke bawah, Jackson melanjutkan.
"Kau tidak pernah bisa menghidupkannya lagi jika bersama Felicia--"
"Tapi itu hidup!" Karry menyentak, ia agak berseru tapi masih menjaga suaranya. Menghentikan perkataan Jackson sejenak, Karry melanjutkan, "Nenek May hidup. Di dalam mata Felicia, di setiap suaranya, di setiap tindakannya. Nenek May hidup. Jauh lebih nyata daripada apa yang kubayangkan."
Jadi, apa ini sebab Karry sulit memilih?
Tenggorkan Jackson terasa pahit. Masa lalu itu merekat erat dalam tubuh Karry sekarang. Apa yang harus membuatnya terlepas?
"Karry," sahut Jackson pelan, "kau tidak bisa menikahi seseorang hanya karena ia memiliki masa lalumu."
Kepala cowok itu menunduk, semakin dalam dan merapatkan diri ke pagar pembatas rooftop.
"Kau tidak bisa mencintainya karena kau pikir masa lalu bisa membuatmu hidup, Karry. Kuberitahu, itu hanya imajinasimu. Yang sekarang nyata di depan mata adalah sesuatu yang benar-benar membuatmu bisa menggapai sesuatu. Orang-orang bilang benar, kau tidak bisa melupakan masa lalu. Mereka akan terus menghantuimu. Lalu apa yang kau lakukan? Kau harus menerimanya.
"Kau harus menerima kalau nenek telah tiada dan apa yang ada pada Felicia sekarang hanya bayangannya. Bayangan yang tak pernah bisa kau gapai dan tidak pernah bisa kembali. Karena, jika kau semakin menginginkan itu kembali, kau hanya menjatuhkan dirimu jauh dari kenyataan yang sesungguhnya. Perasaan sesungguhnya bahwa sebenarnya, ada seseorang yang benar-benar mencintaimu.
Karry, kau tidak bisa mencintai seseorang yang tidak pernah nyata untukmu."
****
Nahh di sini kira kira kalian paham lah ya kenapa pada akhirnya si Karry klemar klemer. Karena emang susah banget lupain masa lalu apalagi kalau ada orang yang masih bersangkutan sama masa lau itu hiks.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Prince's Secret (Sequel)
Teen FictionCompleted. Setelah resmi berpacaran dengan Karry Wang dan melalui petualangan mencari orangtuanya yang ternyata adalah seorang pengrajin Teddy Bear terbesar di dunia--James Smith, kini kehidupan Charlotta dan Karry terus bersemayam dalam Crown Garde...
