Pembaca yang baik hati, jangan lupa votes untuk mendukung penulis ya^^ -KW.
××
"Aku akan memberimu kontak Mr. Scott untuk menemuimu besok, bagaimana?"
Langit Shanghai sudah menghitam, malam menyerbu hangat. Lamu-lampu gantung yang melintang sepanjang restoran kecil di rooftop hotel berkelip-kelip. Dari atas rooftop, pemandangan jauh lebih indah lagi. Lautan atap bangunan dan jalan raya Nanjing yang berbelok mengikuti lanskap setempat berakar seperti polesan karya seni. Distrik Pudong yang dibatasi oleh sungai Huangpu membentuk lapisan kota menjadi dekat dengan suasana alam. Aroma yang sejuk mengitari daerah utara Shanghai. Selain New York, mungkin Charlotta bisa menyukai kota ini.
"Oke dad, noted. Kabari aku saja."
Dari sebrang telepon, James Smith terdengar sibuk, suara kertas-kertas yang dibalik tanda ia sedang kerepotan, "oke, terima kasih sayang."
"Dad," sergah Charlotta sebelum pria itu mematikan telepon, "teddy bear-mu keren sekali."
Suara kibasan kertas berhenti, James memberi hening sejenak sebelum berdeham, "itu semua hasil karyamu."
Charlotta hanya tersenyum melupakan beban yang sedang dihadapinya lalu menutup telepon seraya mengatakan kalimat baru sejak ia memiliki ayah--i love you, dad.
Di depannya, Karry menatap ke arah lain. Selama beberapa menit mengajaknya untuk makan malam di restoran kecil ini, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Matanya yang tidak pernah terlihat penuh emosi itu semakin tersirat kelemahan. Padahal baru pagi tadi Charlotta merasa kesal dengan mata itu, tapi sekarang ia dengan mudahnya merasa iba.
"Apa kau tidak berencana mengatakan sesuatu?" tanya Charlotta pelan sambil menyesap es jeruknya.
Karry tidak menjawab beberapa saat, ia malah menarik napas menyahut lemah, "apa kau besok sibuk?"
"Kau dengar ayahku barusan, kan? Pameran itu akan dimulai lusa, sepertinya aku harus menemui orang yang mengundang ayahku itu." Charlotta memperhatikan wajah Karry yang kian beringsut hening, "apa ada sesuatu yang terjadi tentang nenekmu?"
Sesuai pelajaran tradisi jilid empat, generasi kelima dari silsilah keluarga Wang, Kakek Anthony menikahi seorang wanita bernama May Sun. Selama kehidupannya, mereka melahirkan satu anak bernama Bernard Wang yang kini menambah pohon keluarga dengan keberadaan Karry Wang dan Nicholas Wang. Berdasarkan keturunan mereka, Karry mempunyai sepasang kakek nenek yang sehat dan berpendidikan khusus. Kakek Anthony adalah pencetus bisnis jual beli kepulauan pribadi di beberapa semenanjung negara. Sementara Nenek May adalah jodoh yang diberikan ayah Anthony untuk anaknya. Sayang sekali, nenek May harus meninggal dunia karena penyakit paru-paru langka sepuluh tahun yang lalu tepat ketika kakek Anthony merintis usaha properti di New York. Dan setahu Charlotta, nenek May dan Karry memang dekat.
"Kau masih ingat soal keluarga kami dulu sempat tinggal di Shanghai, bukan?"
Charlotta mengangguk pelan. Sebelum seluruh keluarga resmi pindah ke New York, bisnis Bernard masih sebatas properti di daerah Asia. Sementara Anthony hendak memperluas bisnis Bernard ke luar negri. Charlotta juga tahu kalau dulu Bernard Wang dulu bertemu Natalie yang berkewarganegaraan asing itu di pasar dan membantunya karena kesulitan membayar belanjaannya. Ia juga tahu di mana Karry sekolah, di mana Karry tumbuh besar. Tapi yang jelas, bukan di Shanghai ini. Ada di suatu kota kecil yang ia lupa namanya.
"Aku tahu. Awal ayahmu merintis usaha properti ke luar negri, kan?"
Karry mengangguk lemah, "tapi dari situ, aku harus memulai sesuatu yang baru."
Saat itu, sorot mata Karry mengarah padanya. Getir tak kasat tersirat di bola mata yang redup itu. Charlotta tidak tahu apa yang sedang pacarnya pikirkan, ia hanya berusaha terus ada di sana menunggu Karry mengutarakannya duluan. Bibir Karry yang tipis nampak bergetar sedikit, ia membuang tatapan lagi ke gedung-gedung di sebelahnya.
"Aku bahkan masih tidak percaya sekarang masih tiga hari sejak aku datang ke Shanghai."
Kening Charlotta mengerut, ia tidak mengerti. "Apa maksdmu? Aku tidak mengerti kalau kau tidak menjelaskannya padaku apa yang sedang terjadi."
"Kau tidak mungkin menyusulku ke Shanghai hanya semata-mata karena Felicia berbahaya dan terobsesi padaku, bukan?"
Tenggorokan Charlotta tersekat, jadi ke sini arah perbincangannya?
"Apa yang Cindy katakan padamu, belum sepenuhnya benar, CS," ujar Karry lagi. Entah kenapa, nada bicara yang pelan dan tersesat itu membuatnya percaya. Apa jangan-jangan Karry sedang memikirkan hal lain selain kelas bisnis itu? Atau, gara-gara Charlotta yang berpikir berlebihan membuat beban untuk Karry?
"Lalu kenapa? Aku menyusulmu ke Shanghai karena aku ingin tahu sampai kapan kau menyembunyikan dariku."
Mata Karry beralih cepat, "menyembunyikan apa?"
"Felicia."
Ia membuang wajah lagi, napas Charlotta terasa sesak, "ada sesuatu yang tidak kau katakan padaku soal dia, Karry. Dan aku yakin, kelas bisnis itu ada hubungannya dengan itu."
Napas Karry menderu berat, ia bisa merasakan kalau apa pun yang berkecamuk di pikiran Karry, sama halnya membuat Charlotta merasa terancam. Rasanya seperti sesuatu sedang mencuat keluar, menampakkan keberadaannya. Sesuatu yang mungkin saja sudah lama Karry pikir bisa ia sembunyikan akan perlahan-lahan menghilang. Tapi nyatanya, itu malah datang kembali.
Charlotta tidak mau menambah beban apa pun, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya yang merasa ancaman itu semakin dekat. Bayangan surat kusam itu kembali berkelebat, apakah ada hubungannya dengan surat itu dan perjanjiannya dengan Felicia?
"Apakah kau dan Felicia pernah menjalin hubungan lebih dari seorang teman?"
xx
Apa pun yang dirasakan pacarnya sekarang pasti benar. Tenggorokan Karry tersekat entah berapa kali ia menenggak air putih di atas meja. Walaupun gemerlap kota menggugah pikirannya yang berkecamuk, tapi suara ayahnya beberapa menit yang lalu mengacaukan perasaannya.
Felicia tidak sepertimu Karry. Dia tidak pernah melupakan masa lalu. Dan aku merestui kalian untuk bersama lagi.
Untuk apa semua itu sekarang? Ia tidak boleh lemah atas perjuangan yang Charlotta lakukan satu tahun yang lalu. Untuk saling mengerti satu sama lain, itu bukan hal yang mudah. Melupakan masa lalu juga suatu perjuangan yang sampai sekarang masih Karry lakukan. Tapi hubungan keluarga dan bisnis sialan ini? Rasanya Karry ingin pergi ke suatu tempat, mencopot segala tahta dan gelar yang menggarisbawahi takdirnya sebagai penerus Keluarga Wang yang paling dieluk-elukkan ketujuh kerabat dekat itu. Ia ingin menjadi dirinya sendiri dengan seseorang yang selama ini membantunya melakukan itu.
Charlotta Smith.
Seseorang yang datang tiba-tiba memberi warna baru, seseorang yang memberinya pelajaran baru kalau tumbuh dewasa juga butuh tujuan yang keras selain pekerjaan dan rutinitas. Menjadi bebas dan berani, seperti kekasihnya itu.
Karry beralih ke tatapan Charlotta yang dingin. Rahangnya mengeras, ia seperti menahan gelagak yang menyumpal tenggorokannya. Emosi itu mengalir lewat tatapan mereka, dan Karry tahu perasaan takut gadis itu. Melihat pacarnya dengan gadis lain yang menggenggam tangannya, tanpa pernah memberikan satu pun klu tentang itu. Buat Karry, Charlotta cukup mengerti akan situasinya.
Pelan-pelan, ia menyentuh jemari mungil Charlotta di atas meja, meremasnya lembut sambil mengatakan sesuatu yang harusnya dari awal ia katakan.
"Besok ikut aku ke Summer Palace. Akan aku ceritakan semuanya dari awal di sana, ya?"
****
Stok draftku menipis nih guys, moga aku bisa mengejar ketertinggalan dan harap sabar ya kalau aku agak telat update hiks. Aku berusaha semaksimal mungkin uwu💞
KAMU SEDANG MEMBACA
The Prince's Secret (Sequel)
Genç KurguCompleted. Setelah resmi berpacaran dengan Karry Wang dan melalui petualangan mencari orangtuanya yang ternyata adalah seorang pengrajin Teddy Bear terbesar di dunia--James Smith, kini kehidupan Charlotta dan Karry terus bersemayam dalam Crown Garde...
