"Pameran akan selesai satu minggu lagi, bagaimana perasaanmu sejauh ini, Charlotta?"
Mr.Scott dengan kemeja berlengan yang rapi mendekati stand Charlotta. Ia habis menjelaskan ke beberapa pengunjung tentang bahan-bahan yang ayahnya pakai untuk boneka Teddy Bear, Starlotta itu.
"Waktu berjalan cukup cepat juga, ya? Ayahku bilang aku bisa pulang jika ini sudah selesai."
Pulang. Sebuah kata yang begitu menenangkan untuk diucap.
"Ah, kukira kau masih akan berlibur di sini."
Charlotta jadi malu sendiri, seandainya Mr.Scott tahu apa yang sebenarnya membuatnya datang ke Shanghai. Kenyataannya, Charlotta tidak bisa mengubah sebuah peristiwa sama sekali. Apalagi, peristiwa itu ada di masa lalu.
"Aku cocok di sini. Tapi aku harus mengurus perkuliahanku di New York, jadi kurasa, aku akan mengunjungimu sesekali waktu musim panas nanti."
Mr.Scott dengan senyum lebar ala pembawa acara itu menjetikkan jarinya, "ide yang bagus! Kabari aku jika kau mampir. Oh ya, omong-omong, kau kenal Roy Chen, ya?"
Kenal? Mungkin iya. Walaupun keberadaan cowok itu agak menjengkelkan, tapi gara-gara Karry, ia jadi ketemu satu mahkluk lain dari daratan orang kaya lainnya.
"Lumayan. Kami baru saja bertemu."
"Oh, wow. Kau punya selera yang hebat. Kudengar, dia itu punya bisnis sekolah-sekolah. Ayahnya sering mengunjungi museum seperti ini untuk meluaskan minat seni anak-anak. Mereka keluarga yang cukup terkenal untuk jadi tamu yang paling dihormati di sini."
Charlotta agak terenyak tapi ia bisa menyembunyikan wajah kagetnya itu sambil tersenyum kecut.
Semua orang dari keluarga besar seperti Roy memang punya usaha yang terlalu hebat.
"Baiklah, sepertinya aku harus membantu ke sebelah sana. Aku pergi dulu, ya!" bisik Mr.Scott sambil berlalu ke sebrang ruang pameran yang tenang. Suara musik sesekali mengalun lembut, selembut langkah-langkah pengunjung yang menikmati berbagai lukisan dan pajangan yang diletakkan di dalam gallery ini.
Sebenarnya ia sedang gelisah menunggu balasan Karry. Dari sejak kejadian itu, Charlotta tidak yakin apakah Karry benar-benar ingin memperjuangkan hubungannya. Kalau Karry ingin memperjuangkan, kenapa ia selalu meminta Charlotta lebih dulu tidak menyerah? Rasa cinta itu sangat egois. Dan Charlotta membencinya. Tapi di satu sisi, hanya itu cara untuk membantu Karry pergi dari masa lalunya.
Apa benar Karry bisa melepaskan masa lalunya? Ciuman Felicia di koridor rumah sakit itu lebih daripada mimpi buruk. Semakin Charlotta usahakan pergi, bayangan itu semakin mendekat seakan minta penerimaan.
Telepon Charlotta berdering, dari Cindy.
"Hey, apa Bernard sudah baikan? Aku menelepon dari sini karena tak satu pun ada yang memberi kabar ke Nic. Dia sedang di Crown Garden sekarang."
"Nic? Dia pulang?"
"Ya, dia pikir ayahnya ada di rumah. Dasar anak tolol, padahal sudah kubilang ia ke Shanghai. Sibuk bercumbu saja dia dengan Sarah."
"Hey, jangan cemburu begitu," goda Charlotta.
"Heh cengeng, jangan kau pikir urusanmu yang semalam sudah beres ya. Cepat pulang, ngapain menunggu Karry si bodoh itu?"
"Aku harus mengurus pameran ini sampai akhir pekan nanti. Sepertinya baru bisa pulang nanti. Oh ya, soal Bernard, kudengar dari Natalie kalau ia sudah baikan dan Natalie bakal balik ke Crown Garden lusa."
"Serius? Lebih baik begitu, deh. Karena aku sendiri perlu pulang. Perkuliahanku makin menyebalkan. Aku harus mengurusnya di kampus. Padahal aku menyukai studio bajuku di sini," sahut Cindy setengah merengek.
Cindy Young sudah menanamkan bisnis fashionnya ke beberapa wilayah di Paris. Tapi karena tawaran Bernard waktu itu, ia menyediakan satu kawasan dekat Times Square untuk membuka butik khusus itu.
"Tidak apa. Kembalilah, kau harus mengurus hidupmu sendiri juga."
Saluran telepon jeda sejenak, Cindy hendak mengatakan sesuatu, "apa kau yakin pada keputusanmu semalam?"
Giliran Charlotta yang terdiam lama. Bayangan pagi tadi Karry memeluknya dan meminta jangan menyerah seakan memberi sengatan baru. Dan Charlotta tahu, sejak itu, ia tidak pernah yakin lagi. Ia pikir ia sudah mati rasa, tapi setiap Karry datang, sosoknya seperti memberi kesan--bahwa imajinasi yang selama ini ia miliki tidak pernah ada. Dan di atas kenyataan Karry yang selalu datang, membuat Charlotta tidak bisa mengenyahkannya begitu saja.
"Aku tidak tahu, Cindy. Karry menungguku dari semalam sampai pagi tadi. Ia bahkan tertidur."
"Astaga kasihan sekali! Kau tega banget, CS!"
"Hey, kau ini sedang ada dipihak siapa sih?"
Cindy terdengar mendecakkan lidah. "Dengar ya, kau tidak akan pernah mengerti dirimu sendiri tanpa Karry. Yang aku pelajari selama mengalahkanmu waktu itu adalah, kau terlalu lemah. Kau terlalu melankolis untuk menguatkan perasaan seseorang! Kau cuma kuat kalau itu urusan mimpi, pekerjaan dan sekolah. Urusan percintaan? Kau buruk. Kau benar-benar buruk."
Tenggorokan Charlotta tersekat, ia terdiam meresapi kata-kata Cindy.
"Tapi karena itu juga, Karry malah jadi mencintaimu."
Charlotta selalu menyerah kalau Karry tidak pernah bisa memaksakan perasaannya sendiri. Pasalnya, ia merasa tidak pernah berhak melakukannya. Ia merasa itu semua bukan pilihan kalau Karry adalah pemilik hidupnya sendiri.
"Aku harus apa Cindy?" menyembunyikan suara paraunya, Charlotta menarik napas dalam-dalam.
"Aku sendiri tidak tahu, okay? Yang kutahu adalah, kalau Karry tidak menyukai seseorang, dia hanya akan menghempaskannya begitu saja. Kau lihat sendiri bukan, aku contohnya?"
Charlotta memikirkan itu dan membandingkannya dengan Felicia. Ia membiarkan gadis itu menciumnya dan ia juga menunggu Charlotta sampai ketiduran di depan kamar. Apakah Karry benar-benar hanya kebingungan?
"Yang aku tahu, Karry adalah orang paling jujur. Dia tidak akan mengatakan apa pun di belakangmu. Dia selalu mendamprat orang begitu saja. Hanya saja dengan kasus Felicia... mugkin itu menyulitkannya sedikit.
"Aku tidak tahu soal itu, maka, kalau kau belum mau menyerah, kau harus mencari tahunya sendiri, okay? "
Permintaan Cindy terdengar melelahkan. Sampai sekarang saja Karry tidak pernah membalas pesannya lagi. Ia bahkan tidak tahu apa yang Karry rasakan, ia lupa atas sentuhan lama yang tidak pernah diberikan lagi. Sejak semua itu datang, Charlotta merasa Karry tidak ada lagi. Ia merasa jauh.
Lebih jauh dari jarak Crown Garden dan Summer Garden.
"Aku akan menghubungi Jackson, dia sepertinya sudah selesai dengan promosi sialannya itu," ujar Cindy.
"Tidak perlu, Cindy."
Tenggorokan Charlotta terasa pahit. Pandangannya mulai memburam. Seharusnya ia tidak boleh menangis di sini. Para pengunjung bisa saja memanggilnya sekarang. Tapi ia tidak bisa menyembunyikan sesak yang selalu datang setiap memikirkan Karry.
"Kenapa?" tanya Cindy bingung, "dia bilang akan datang, tapi aku tidak tahu kapan karena dia sibuk setengah mati--"
"Sungguh, kau tidak perlu melakukannya," sela Charlotta cepat, sambil menarik napas panjang dan penuh keyakinan, "aku tidak akan melakukan apa pun lagi untuk membuat Karry tinggal."
****
Menurut kalian, kalau aku update dua sehari itu kurang atau nggak sih?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Prince's Secret (Sequel)
Teen FictionCompleted. Setelah resmi berpacaran dengan Karry Wang dan melalui petualangan mencari orangtuanya yang ternyata adalah seorang pengrajin Teddy Bear terbesar di dunia--James Smith, kini kehidupan Charlotta dan Karry terus bersemayam dalam Crown Garde...
