Completed.
Setelah resmi berpacaran dengan Karry Wang dan melalui petualangan mencari orangtuanya yang ternyata adalah seorang pengrajin Teddy Bear terbesar di dunia--James Smith, kini kehidupan Charlotta dan Karry terus bersemayam dalam Crown Garde...
Lorong sepanjang Hotel Farmount yang baru Roy pijaki sore ini terpantau sepi. Ia berderap agak cepat karena kelas bisnis sebentar lagi di mulai. Lounge VIP Premium ada di sayap kanan bangunan, begitu mengikuti papan petunjuk di belokan lorong yang mengarahkan ke Premium Suit Residence, Roy langsung menemukan satu-satunya pintu besar di ujung lorong. Tapi keningnya langsung berkerut samar ketika ia melihat seorang gadis seperti mengendik-ngendik mendekati pintu itu.
Gadis itu agak membungkuk, samping wajahnya terlihat mengernyit, ia terlihat mencoba menguping dari balik ruangan. Belum sadar kalau Roy semakin mendekat, ketika ia hendak berbalik ke belakang dengan sebelah tangan menggenggam telepon, gadis itu menghantam Roy dan memekik kaget.
Sesuatu terjatuh ke lantai karpet, tapi gadis itu tidak sadar. Matanya bulat dan berwarna kecokelatan. Ia mengerjap sambil meminta maaf.
"Maafkan aku, oh--ya ampun aku lupa, bahasa China. Oke--"
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Roy seketika. Wajah gadis itu agak memucat, tapi ia buru-buru mengibaskan tangannya dan beranjak sambil mengucapkan salah ruangan.
Roy menoleh ke belakang, memperhatikan kepergian gadis itu sambil terus berbicara di telepon dengan kerut curiga. Siapa dia? Kenapa bisa salah ruangan di area Residence? Area ini harusnya hanya bisa di lewati orang yang punya kartu akses, kan?
Entahlah, Roy pun berbalik hendak membuka pintu di depannya. Tapi sebelum itu, ia merasa sepatu ketsnya menginjak sesuatu di depan pintu. Ketika ia menunduk, sesuatu yang berkilau tepat ada di bawah sepatunya. Ia mengernyit sejenak, lalu berjongkok memungut benda itu.
Kalung dengan liontin giok berwarna hijau pucat yang di kelilingi tembaga berbentuk tulangan bintang. Teringat gadis yang tadi, Roy langsung bangkit berdiri hendak mengejarnya. Tapi ia teringat kelas bisnis yang mungkin sudah di mulai. Apa mungkin ia bertemu dengan gadis itu lagi nanti? Ia memandangi liontin kalung giok yang berkilau di bawah sinar lampu.
Mungkin saja bisa bertemu kalau liontin ini masih jodohnya. Lalu dengan cekatan, ia mendorong pintu Lounge dan menemukan beberapa orang yang sedang mengobrol dengan suara rendah terdiam sejenak. Roy mengumbar senyum, lalu seorang pria paruh baya menyambutnya ramah dari ujung sofa.
"Selamat datang, Roy Chen," sahut Brian Liang yang mengenakan setelan jas dan bangkit berdiri dari sofanya. Di sebelah Brian ada seorang pria lain, ia pernah melihatnya ketika acara ulang tahun Karry Wang di New York waktu keluarga Chen melakukan kunjungan. Ia adalah pemegang bisnis yang sedang hangat diperbincangkan karena grafik pemasukan keluarga Chen lebih besar dari pria itu.
"Halo, apakah semuanya sudah berkumpul?"
Di depan ruangan itu, selain satu meja panjang tempat proyektor menyiarkan pantulan dari laptop, lounge ini juga cukup luas. Sepanjang ruangan, selain kumpulan sofa yang berjajar membentuk U menghadap ke papan tulis, di belakang ruangan ada juga pantry. Semua jendela ditutup tirai sementara lampu diredupkan, cahaya terang hanya dari layar proyektor. Roy berjalan ke depan, lalu menyambut Brian yang tersenyum ramah.
"Semua sudah menunggu putra dari Keluarga yang paling kami hormati, Roy Chen," kata Brian empuk. Seminggu yang lalu, sebelum Roy hendak menghabiskan libur musim panas bersama teman-temannya ke Hainan, ayah Roy menelepon untuk melakukan kunjungan kelas bisnis yang dilakukan oleh Brian Liang dalam rangka menyambut eksplore bahan giok sebagai modal bisnis masa depan. Saat itu Roy tidak begitu berminat dengan isi kelasnya sendiri, ia hanya ingin menghormati tradisi antar keluarga besar Asia dan mengikuti ala kadarnya. Tapi ketika melihat bongkahan batu giok yang berdiri di bawah meja yang menyinari lempengan itu, ia jadi agak terpesona.
"Apakah ini giok yang kau bicarakan itu?" tunjuk Roy ke arah batu besar itu. Giok yang belum di pilin berkilau memang mempunyai daya tarik tersendiri.
Brian yang memiliki wajah muda dan senyum ramah itu mengangguk, "ini giok yang aku bawa dari pertambangan di dekat Tibet. Kami baru saja mengumpulkan beberapa batu. Sebagian ada yang sudah dioleh di pabrik yang baru saja aku bangun beberapa tahun yang lalu. Hasilnya kalian lihat di kotak yang akan aku tunjukkan nanti. Mari, Roy Chen, silakan anggap rumah sendiri."
Roy mengulas senyum, seperti biasa, Brian memang sangat ramah dan terkenal tidak pernah sungkan pada siapapun. Meskipun jarang bertemu, tapi Roy tahu seluk beluk keluarga Liang. Entah siapa pun itu, jika mereka sedang melakukan progres bisnis baru, pasti namanya sering disebut-sebut waktu makan malam bersama. Itu sudah sangat harfiah bagi para saudara berbagi cerita.
Selain Karry dan Felicia, di kursi itu ada beberapa anak muda yang ia tahu juga. Mereka dua perwakilan dari keluarga Young dan Han. Mungkin paman ke lima atau ke empat, Roy tidak hapal, ia hanya tersenyum mengangguk lalu duduk di sebelah Karry yang sudah menatapnya dari tadi.
"Lama tak bertemu, Karry," sapa Roy. Ini dia si pemuda yang digadang-gadang penerus bisnis ayahnya. Meski begitu, Roy kenal Karry sejak pertemuan besar 7 keluarga 12 tahun yang lalu di Singapore. Waktu kecil Karry sangat pendiam dan sukar bergaul. Hanya Jackson yang paling sering menjahilinya, tapi dulu Roy tidak begitu berminat bergabung dengan Karry karena ia punya satu daya tarik yang agak terkesan sombong. Tapi setelah tahu penyebab karakternya begitu adalah karena anak tunggal, ia jadi paham seluk beluknya.
Untungnya, ketika bertemu lagi di acara ulang tahun waktu itu, Karry sudah lebih banyak tersenyum dan basa-basi. Manusia memang berubah, hanya memori yang menetap.
"Masih merasa jetlag? Aku tahu penerbangan 32 jam cukup menguras energi." Roy beralih memandang Felicia Liang, gadis yang sering ia temui di kampusnya yang sama, Fudan University, hanya saja Felicia mengambil jurusan Kedokteran, berbeda dengannya yang jurusan Bisnis dan Sosial.
Karry agak menggeser posisinya di sofa sementara Roy menghempaskan diri.
"Masih bisa ditahan," katanya sambil tertawa pelan.
Roy baru sadar ia masih memegangi liontin yang tadi ia temui di lorong. Sambil mengangkat sebelah kakinya sediki supaya bisa memasukkannya ke saku celana, Karry menghentikan gerakan Roy sejenak. Ia menatap liontin di tangannya dengan alis mengerut samar.
"Itu... kau mendapatkannya dari mana?" tanya Karry.
Roy tidak jadi memasukkannya ke saku, ia kembali menyodorkan kalung di atas telapak tangannya.
"Oh, ini sepertinya milik seorang gadis yang tadi di lorong. Aku bertemu dengannya, kurasa ia tidak sengaja menjatuhkan ini. Aku akan mengembalikannya besok jika bertemu."
Alis Karry makin mengerut dalam sementara dari depan ruangan, suara Brian hendak memulai kelas. Roy buru-buru memasukkan liontin itu ke saku celana, menyimpannya di tempat yang aman. Mengabaikan perubahan raut wajah Karry, ia langsung beralih tersenyum ke arah depan, memulai kelas mereka.
****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.