Ini yang kutunggu, aku sudah berada di depannya, tinggal satu nyawa yang harus kuhabisi dan pertempuran ini akan berakhir, aku melihat tepat ke matanya, dibalik zirah itu, aku yakin ada mata yang menatapku kembali, aku tidak tahu seperti apa tatapannya karena memang tidak terlihat dari zirah itu, zirah yang mengkilap dan berwarna merah dengan pedangnya yang lumayan besar, pedang bermata dua dengan panjang sekitar 1,5 meter dan lebarnya 20 senti, pedang itu sangat besar, dia bisa menghancurkan pedangku ini, apakah dia memiliki vecku? Bila dia lincah menggunakan pedang itu, maka dipastikan aku akan mati di sini, tapi aku tidak perduli, adrenalin sudah mengalir di dalam tubuhku dengan cepat, badanku sedikit bergetar, aku ingin melawannya. Dalam keramaian perang ini, pikiranku terasa sunyi, aku tidak bisa mendengar apa pun kecuali napasku yang tersengal-sengal, aku coba atur napasku, aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi karena seharusnya aku tidak membutuhkan untuk menarik napasku di dunia ini, mataku hanya bisa melihat dia, karena darah yang sudah panas, aku melesat ke arahnya. Aku mengayunkan pedangku secara vertikal dari atas selagi aku maju ke arahnya, dengan cepat dia menangkis pedangku, reflek yang sangat bagus, dengan mudah dia menggerakan pedangnya untuk menangkis seranganku, sudah kuduga bahwa dia sangat kuat untuk mengendalikan pedang sebesar itu dengan mudahnya, sial. Aku terdiam untuk sesaat, teknik apa yang harus kupakai? Bila aku memegang pedangku dengan kedua tangan untuk mementingkan kekuatan, apa kekuatanku bisa mengalahkan pedang besarnya itu? bila aku memegang pedangku hanya dengan satu tangan untuk mengedepankan kelincahan, aku tidak tahu seberapa lincah dia selain bahwa dia dengan mudahnya mengendalikan pedang besarnya itu dengan satu tangan saja. Akhirnya aku putuskan untuk memakai satu tangan untuk memegang pedangku seperti biasanya, aku melesat maju ke arahnya dan mencoba mengayunkan pedangku, tapi dia bisa menepisnya dengan mudah, aku perlu sisi lain, aku melesat lagi, kali ini dengan sedikit tipuan, disaat dia memposisikan pedangnya untuk menangkis seranganku, aku bergerak ke arah kiriku, tangan kananku aku gerakan melewati tubuhku dan aku ayunkan pedangku ke sisi kanan tubuhnya, ternyata tidak berhasil, dia dengan cepat menangkis pedangku lagi, tapi aku sudah mengetahui dan mengantisipasi hal ini, aku tahu bahwa makhluk berpangkat tinggi seperti dia tidak akan tertipu dengan mudah, aku bergerak lagi ke arah kiri dengan cepat, kali ini aku berada di belakangnya, aku bersiap menghujamkan pedangku ke punggungnya, dia tidak menangkis seranganku, melainkan mengelak dan memutar tubuhnya searah dengan jarum jam dan pedangku melesat pada udara kosong, dengan momentum yang dia buat dari putarannya tersebut, dia mencoba menebasku, aku tidak menghentikan momentumku yang terhempas karena dia menghindar dan aku pun berhasil menghindar dari serangannya, apa ini? Perasaan apa ini? Kali ini aku merasakan sesuatu yang sebelumya belum pernah kurasakan selama bertarung dengan siapa pun, untuk sementara jantungku berhenti berdetak, walaupun sebenarnya keadaan jantung tidak mempengaruhi hidup dan matiku di dunia ini, tapi efek dari beberapa hormon masih mempengaruhiku dengan bagaimana aku akan bertindak, apakah perasaan ini, perasaan takut mati? Aku takut tertebas dengan pedangnya dan mati, padahal aku sudah sampai ke dunia ini, seharusnya aku tidak takut oleh hal yang sangat trivial seperti itu. aku kembali terdiam, mengamati gerak-geriknya, tak kuduga dia akhirnya membuat pergerakan duluan. Dia menyerangku, megambil langkah yang besar ke arahku, mengayunkan pedangnya dari atas, berharap untuk membelahku jadi dua, aku menangkis serangan itu, serangan yang pelan, tapi sangat bertenaga, aku memegang pedangku dengan kedua tanganku, tapi masih tidak bisa menahan pedangnya, aku terus tertekan. Bila pedangnya mempunyai panjang yang sama dengan pedangku, aku bisa menendangnya dengan posisi ini, tapi ini sulit, pedangnya sangat besar, tendanganku tidak akan mengenainya. Aku sudah berlutut sambil menahannya, aku sudah tidak kuat, bahkan dengan kedua tanganku, sudah kuduga bahwa aku tidak akan pernah bisa menyamainya atau bahkan melampauinya dari segi kekuatan fisik saja, aku putuskan dengan cepat bergerak ke arah kiri dan membiarkan pedangnya menyentuh pasir, aku berharap bahwa pedangnya akan tertancap dan aku bisa menyerangnya, ternyata tidak. Pasir-pasir di gurun ini memperlambat pergerakanku, tapi aku tahu bahwa dengan cara yang tepat, pasir-pasir ini bisa membantuku dengan caranya sendiri, tapi bagaimana? Belum sempat aku berhenti berpikir, dia sudah menyerangku dengan serangan yang sama, aku putuskan untuk menghindar ke arah kanan, dia menyerangku lagi dan kali ini dari sisi yang lain, dia menyerang dari segala arah, atas bawah kiri kanan, semuanya. Aku terus bergerak ke kiri dan ke kanan, tentu saja aku tidak bisa bergerak banyak dengan sempitnya area pertarungan ini, aku tidak bisa melihat adanya Zahar di dekat sini, apa dia sudah mati? Bagaimana nasib Mien dan regunya? Aku terus memikirkan hal itu, tapi tidak ada yang keluar dari kepalaku, aku harus terus fokus pada pertarungan yang ada di depanku ini. Aku terus menghindar dan menghindar, bagaimana cara melawannya? Bagaimana cara menggunakan hal yang ada di sekitarku untuk melawannya? Akhirnya aku terpikir sebuah cara. Pada serahangan berikutnya aku kembali menangkisnya, kali ini dengan niat tertentu. Aku kembali ditekan dan kembali berlutut, sambil berlutut, aku memastikan bahwa aku bisa menahan pedangnya dengan satu tanganku. Kulepaskan tangan kananku dengan sangat perlahan, ternyata aku bisa menahannya hanya dengan tangan kiriku, tapi tentu saja dengan beban yang sangat berat, aku tidak membutuhkan waktu lama, tangan kananku segera menggarap segenggam pasir dan melemparkan ke wajanya, berharap untuk mengenai matanya. Aku berhasil, matanya terkena pasir, seketika dia terkejut, menghentikan serangannya dan menutupi wajahnya dengan tangan kirinya, ini kesempatanku, aku harus menyerang sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sfirilla
FantasíaVivandy terbangun di dunia yang aneh dan dalam keadaan lupa ingatan, tapi mendapat tugas penting untuk menyelamatkan hari. Apakah dia bisa melakukannya? Akankah dia bisa mengingat masa lalunya? Ikuti perjalanan penuh aksi dari peperangan juga mister...
