Di minggu pagi yang cerah ini, Cakra terpaksa bangun sangat pagi karna kelakuan adiknya yang sedari tadi menggedor gedor pintu kamarnya.
Terpaksa cakra bangkit dari kasur dan segera membuka pintu dengan malas.
"Please bisa gak dih sehari aja lo gak bikin gue mumet Dinda," pinta Cakra sambil tangan mengucek sebelah matanya.
Pagi-pagi buta begini Dinda membangunkan-nya, entahlah firasatnya saat ini sudah tak enak.
"Bang temenin Dinda jogging yuk ketaman sebelah."
Sontak Cakra meneliti menampilan Dinda, senyum cerah mengembang diwajahnya. Ternyata adiknya telah rapi dengan setelan baju olahraga.
"Gak."
Ia bergegas mengunci pintu kamarnya, ia ingin melanjutkan tidurnya lagi, namun sekarang wajah Dinda tampak sangat sedih, matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Cakra yang melihat itu hanya menatapnya dengan jengah.
"Ayoklah Bang, Dinda lagi pingin banget jogging nih."
Cakra menghela napas kasar,
"Dih nangis lo jadi tambah jelek."
Dinda sudah siap menjerit langsung dibungkam tangan Cakra.
"Lo diem. sekarang tunggu gue di teras gue siap-siap dulu cepet," ucap Cakra langsung menutup pintu kamarnya segera bersiap.
Sedangkan didepan pintu Dinda sangat girang, tak sia sia dia mengeluarkan air mata buayanya.
Cakra menuruni tangga, disana tampak Andra sudah duduk anteng dimeja makan untuk sarapan.
"Loh Cakra, mau kemana kamu?" tanya Rika sambil meletakkan nasi beserta lauk pauknya ke meja makan.
"Cakra mau nemenin dinda joging bun."
"Terus Dindanya mana?" ucap Andra yang sedang duduk anteng sambil melirik kanan kiri mencari Dinda.
"Udah di teras tuh."
"Enggak sarapan dulu, Bunda udah selesai masak nih."
"Gak bun. ya udah Cakra pamit dulu assalamualaikum, " ucap Cakra sambil menyalami kedua orang tuanya bergantian.
"Waalaikumsalam," ucap Andra dan Rika bersamaan.
Cakra berjalan menuju teras rumah, disana nampak Dinda dengan mulut sedang komat kamit. Ia langsung menghampirinya lalu menepuk pelan pundak ringkih adiknya.
"Abang kebiasaan banget sih suka kagetin Dinda."
"Heh, gak kebalik tuh."
"Kok jadi sewot sih, udah sekarang mending kita berangkat lets go."
Dinda langsung berlari kecil terlebih dahulu mungkin ia dan kakaknya itu akan pemanasan sambil ketaman, hitung-hitung menghemat waktu.
Cakra hanya bisa menghela nafas, ia hanya bisa mengikuti adiknya dari belakang. Sungguh adiknya itu sangat menyebalkan.
Saat ini Cakra dan Dinda sudah sampai di taman, dengan suasana yang ramai tentunya. Keduanya sekarang sedang duduk disebuah bangku kayu yang tersedia ditaman karna kelelahan, tepatnya Dinda. Cakra malah tampak biasa saja, maklum ia rajin pergi ketempat gym.
"Bang Cakra haus nih," keluh Dinda sambil memegang lehernya.
Sedangkan Cakra hanya melirik Dinda sekilas, lalu kembali fokus lagi pada handphone-nya.
Dinda mendengus sebal.
"Isss...kok abang gak peka sih."
Dinda langusng menarik-narik lengan baju Cakra, lalu menunjuk sebuah gerobak ice cream.
"Sekarang beliin Dinda ice cream yang ada disana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma[Complete]
Teen FictionKisah seorang remaja menengah SMA yang kehilangan jati dirinya, ia yang harus berpura-pura menjadi orang lain karna sebuah kesalahan. Sebuah rahasia yang akhirnya melenyapkan kepribadiannya, ia yang memiliki sosok lain dalam dirinya, atau orang awam...
![Enigma[Complete]](https://img.wattpad.com/cover/281928383-64-k256379.jpg)