42. Andai

49 6 7
                                        

"Halo Ar?"

"Iya Zan?"

"Lo udah di markas belum?"

"Udah dari 5 menit, buruan. Lo bukan Presiden yang musti di tunggu."

"Yaelah gue pikir udah sejam lo nunggu,  gue otw mandi."

"Gila lo Zan! Lo nyuruh gue dateng ke markas buat nunggu lo mandi."

Fauzan terkekeh pelan. "Bercanda Ar kaku amat lo."

"Buru gue matiin telponnya."

"Ar tunggu..."

Tut...

"Sialan malah di matiin guekan masih mau ngemeng."

Wajah Fauzan tiba-tiba berubah murung, ia khawatir dan ragu apa Arthur akan percaya padanya. Rasanya sangat sulit.

Fauzan menggengam erat flashdisk itu, semua rahasia busuk dan bukti ada di situ. Ia juga ingin meminta maaf pada Samudra, rasanya meminta maaf lewat handphone sangat kurang.

Fauzan ingin pergi ke suatu tempat peristirahatan terkahir sahabatnya, tapi ia malu setelah semuanya. Rasanya ia tak berguna menjadi seorang sahabat.

Fauzan mengusap wajahnya kasar, pikiran dan batinnya sangat kacau.
Dengan cepat Fauzan bangkit lalu menyambar kunci motor miliknya.
Ia harus segera ke markas dan meluruskan semuanya.

_____________________________

"Daff buru sana," kata Arthur sambil mendorong punggung Daffa.

"Enggak!"

"Yaelah lo kan masih ngejogrog di situ."

"Enggak," ucap Daffa lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.

"Ayolah, Cak bantuin," ucap Arthur lalu melirik Cakra memohon.

"Daff," panggil Cakra.

"Hm."

"Buru."

"Enggak."

"Daffa gak mau," ujar Cakra sambil melirik malas Arthur.

Arthur langsung memasang wajah cengonya, ia tak percaya pada interaksi 2 mahluk bermuka tembok itu.

"Awas lo makan ya Cak," ancam Arthur.

"Oh. Kalo gitu balikin duit gue."

Arthur langsung gelapan. "Pelit amat lo Cak."

"Lo di baikin ngelunjak Ar."

"Ma. Aabar?" ajak Daffa sambil menoleh pada Cakra.

"Oke."

Arthur makin jengkel sekarang, ia bagai mahluk tak kasat mata sekarang. Ia berharap agar Fauzan cepat datang.

Awkard juga bareng 2 mahluk dingin ini ya gusti, batin Arthur.

"Ar!" teriak Fauzan di ambang pintu yang terbuka lebar.

Arthur menghela nafas lega. "Zan cepet kesini."

"Enggak! Lo kesini bentar ada yang mau gue omongin sama lo."

"Ngomong di sini aja Zan, lagian cuma ada Daffa sama Cakra."

"Gue mau ngomong empat mata lo Ar."

"Ya elah sama aja Zan ribet amat lo."

"Terserah," ujar Fauzan lalu berbalik pergi begitu saja.

Cakra dan Daffa saling melempar tatapan bingung, Fauzan berubah dingin dan ketus.

"Ar coba lo keluar, siapa tau Fauzan emang lagi ada masalah," kata Cakra.

Enigma[Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang