"Cepetan ambil." perintah Cakra menyuruh Dinda mengambil beberapa ice cream.
"Enggak mau Bang."
"Kenapa?"
"Dinda udah lagi gak mood."
"Terus Dinda pengen apa?"
"Dinda cuman kedanau Bang."
"Danau? Tapi jaraknya lumayan jauh Din."
"Kok Abang tau? Itukan tempat rahasianya Dinda sama Bang Gara."
"Oh..itu Gara pernah cerita ke gue, terus ngajak kesana."
"Oh gitu.....Bang mending sekarang kita warung bakso yang waktu itu yuk," ajak Dinda dengan girang.
"Ayok," kata Cakra menggengam tangan Dinda menuju parkiran motor.
Hari sudah gelap, namun kedua Kakak-Adik itu belum ada niatan untuk pulang. Cakra dan Dinda sedang menaikki motor dengan kecepatan sedang, keduanya ingin mampir makan.
"Bang," ucap Dinda yang sekarang sedang memeluk Cakra, ia menyampirkan dagunya bahu kakaknya.
"Hm."
"Kalo Bang Gara masih disini pasti seru ya."
Cakra tahu adiknya sedang rindu pada Gara, saudara kembarnya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu, akibat tertabrak motor. Pengakuan Dinda membuat hatinya semakin tak baik-baik saja, hatinya rasanya seperti tersayat.
"Hah? Apa Abang gak denger Din," ucap Cakra berpura pura tak mendengar suara Dinda.
"Iss! Abang, Udah lah lupain aja."
Diam-diam dibalik kaca helm fullface-nya Cakra tersenyum.
Motor yang dikendarai Cakra didepan warung bakso langganannya dan Dinda.
"Bang ini gimana turunnya," ucap Dinda yang masih diatas motor.
"Ck sabar Dinda, gak liat abang lagi lepas helm."
"Cepetan dong Dinda capek nih nangkring mulu dimotor"
"Bawel. Gue buang di jembatan layang mau."
"Jangan dong Bang, nanti Abang kangen sama Dinda yang ucul ini, "ucap Dinda yang sedang turun dari motor dengan bantuan Cakra.
"Pede," ujar Cakra sambil tersenyum jahil. "Ngambeknya nanti aja, sekarang masuk."
Cakra mengenggam tangan Dinda, lalu berjalan masuk kedalam warung baakso yang lumayan ramai.
"Pak baksonya dua ya, sama teh anget dua," ucap Cakra, ia dan Dinda sudah duduk dibangku panjang, walaupun keduanya terlahir dari keluarga kaya tak membuat keduanya gengsi untuk makan diwarung pinggir jalan. Orang tua mereka selalu mengajarkan untuk menghargai sesama dan selalu berhemat.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit akhirnya bakso pesanan Cakra dan Dinda sudah berada didepan mata.
"Ini silahkan dimakan," ucap Pak Kadir sambil menaruh dua mangkok berisi bakso dan teh hangat.
"Kenapa Din, kok ngelamun?" tanya Cakra sambil menepuk bahu Dinda.
"Gak papa, Dinda cuma kangen pengen ketemu Bang Fauzan.
"Ya udah nanti kita main kerumahnya."
"Janji?" ucap Dinda sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
Cakra terkekeh, ternyata adiknya masih kecil. Ia juga menyodorkan jari kelingkingnya. "Janji, abisin dulu baksonya.
"Ay ay kapten," ucap Dinda, lalu mulai memakan bakso itu dengan lahap.
Cakra tersenyum tipis, ia senang akhirnya senyum cantik terlukis diwajah adiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma[Complete]
Teen FictionKisah seorang remaja menengah SMA yang kehilangan jati dirinya, ia yang harus berpura-pura menjadi orang lain karna sebuah kesalahan. Sebuah rahasia yang akhirnya melenyapkan kepribadiannya, ia yang memiliki sosok lain dalam dirinya, atau orang awam...
![Enigma[Complete]](https://img.wattpad.com/cover/281928383-64-k256379.jpg)