Pagi ini jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh dini hari, masih terlalu pagi untuk para Siswa-Siswi berangkat kesekolah. Bahkan banyak dari mereka yang masih bergelung diatas tempat tidurnya.
Tapi Cakra sudah datang ke Sekolah sejak pukul 6 pagi, rekor baru bagi Cakra selama SMA berangkat sepagi ini bahkan Cakra tak sempat sarapan.
Cakra tampak sedang melamun, matanya memandang lurus dan kosong, jari-jari Cakra beberapa kali mengetuk ngetuk meja.
Hingga suara Fauzan membuyar semua lamunan Cakra, ia menatap malas Fauzan yang bertingkah seperti biasanya. Tapi ia tak menghiraukan keberadaan Fauzan sama sekali.
Anggap saja Fauzan transparan, pikir Cakra.
"Big bos," panggil Fauzan lalu duduk di samping Cakra. "Akhir-akhir ini banyak ngelamun, ada masalah cerita sama gue."
Cakra diam, matanya menatap ke luar jendela samping yang terbuka. Fauzan mengedikkan bahunya.
Cakra orang tertutup, pikir Fauzan.
Fauzan mengobrak-abrik isi tasnya, dan mengambil satu buku.
"Big bos udah ngerjain pr matematika belom? Gue udah nih, nyontek dari Dandi di jamin nilainya seratus. Big Bos tau gak? Dapet ini penuh perjuangan."
Cakra menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Big bos taukan kelakuan Dandi, gue ngerayu dia pake jurus gombalan maut dari Big bos dulu."
"Lo belok?"
"Heh!" teriak Fauzan sambil menggebrak meja." Gue mau muntah dengernya bego."
"Oh."
"Cakra," lirih Fauzan.
Percaya jika tidak percaya jika Fauzan sudah menyebut nama Cakra tanpa embel-embel Big Bos, pasti pembicaraan itu serius.
"Hm."
"Iam sorry, soal kejadian di markas kemaren."
"Lupain."
"Hah? Jadi lo gak marah, ucap Fauzan kaget dengan ucapan Cakra.
"Gak."
"Serius? Tapi kemaren lo tiba-tiba pergi gitu aja."
"Gue lagi males aja dengerin bacotan lo."
"Lah kumat lagi songongnya," lirih Fauzan.
"Weh sodara-sodara gue udah akur lagi nih," ucap Arthur di ambang pintu.
Laki-laki berjalan menghampir Cakra dan Fauzan, rupanya Arthur tak sendirian ada Daffa di belakang mengikutinya.
"Tumben lo berdua berangkat pagi, gue yakin Uzan pasti abis kena sembur Emaknya," ucap Arthur menatap menyelidik Fauzan.
"Mulut Ar pagi-pagi udah berisik, mana mungkin Emak gue yang lemah lembut mencecar Anak gantengnya, " ucap Fauzan.
Arthur ingin muntah sekarang, mahluk Tuhan di depannya sangat sombong dengan wajah pas-pasannya. Tapi Ibu Fauzan memang sangat memanjakan Putra bungsunya itu.
"Lo udah baikan sama Cakra?" bisik Arthur.
"Gue yakin mata lo gak katarak Ar, lo juga tau jawabanya."
"Ye...gue cuma mastiin bego," ucap Arthur lalu menoyor kepala Fauzan.
Fauzan mengelus kepala, lalu membalas menoyor kepala Arthur.
"Santai dong, gue sama kulkas dua pintu gak pernah ribut iya kan Cak?"
"Hm."
"Tuh apa gue bilang, mana pernah Cakra sama Fauzan ribut," ucap Fauzan lalu merengsak mendekati Daffa lalu merangkul pundak. "Apa lagi sama Daffa sohib gue, iyakan Fa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Enigma[Complete]
JugendliteraturKisah seorang remaja menengah SMA yang kehilangan jati dirinya, ia yang harus berpura-pura menjadi orang lain karna sebuah kesalahan. Sebuah rahasia yang akhirnya melenyapkan kepribadiannya, ia yang memiliki sosok lain dalam dirinya, atau orang awam...
![Enigma[Complete]](https://img.wattpad.com/cover/281928383-64-k256379.jpg)