Dua dua

34.3K 5.7K 348
                                    

Happy Reading

"Lo beneran gapapa balik sendiri?"

Gabby menatap Irish dengan mata sendu. Entah kenapa sejak kejadian bersama Miss Valentine tadi siang, Irish terlihat sedikit pendiam.

"Lo udah nanya itu berapa kali, by? Gue juga biasa pulang sendiri, kan?" Irish jengah karena Gabby sudah memulai sifat overprotektif nya.

"Gue cuma khawatir. Tadi emang Bu Valentine bisik-bisik apa sih?"

"Dia cuma bilang omong kosong. Lo gak usah cemas. Oke?"

"Dia gak ngatain atau ngancem lo kan?"

Irish berdecak kesal, meski dia tahu Gabby begitu karena peduli padanya. "Kalopun dia ngancem, gue gak bakal takut. Lo tau kan gue itu kuat, gak ada yang bisa ngusik gue. Tenang aja!"

Terpaksa Gabby mengangguk meski hatinya masih sedikit gelisah. Dia ingin menemani Irish tapi sepertinya sahabatnya itu sedang enggan di ganggu.

"Gue balik duluan ya," pamit Irish melambaikan tangan dan segera menuju mobilnya.

Tak butuh waktu lama bagi Irish untuk sampai di rumahnya yang besar dan terbilang megah. Rumah berlantai tiga yang di kelilingi pagar tinggi dengan pekarangan yang luas, berdiri dengan kokoh bak istana.

Sebagai orang yang tinggal di tempat ini, Irish sudah bosan untuk mengagumi bangunan yang terlihat bersinar di mata orang lain. Karena nyatanya kehidupan di istana megah itu, sama sekali tidak bersinar.

Dengan langkah gontai Irish masuk dan mendudukan tubuhnya di sofa ruang keluarga. Tas sekolahnya ia biarkan tergeletak di atas karpet dan sebelah tangannya melepas dasi yang memang tak terikat dengan rapi.

"Ma, tau guru baru di sekolah Irish kan? Iya, Bu Valentine."

"Sejak awal dia emang nyeremin sih, tapi Mama tau kan Irish bukan penakut dan cewek lemah."

"Dia pikir setelah masalah bom waktu itu, aku sama temen-temen bakal tunduk sama dia? Hahaha!" Irish tertawa sambil menepuk kedua pahanya.

"Gila kan, Ma? Masa guru bawa bom ke sekolah, ck ck!"

"Terus saya Ma, aku disuruh ikut lomba volly buat perayaan ulang taun sekolah. Malesin banget soalnya udah lama Irish gak main volly, buang-buang tenaga."

Irish terdiam sebentar untuk menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Pandangan matanya berubah sedih.

"Tadi Irish disiram air sama Bu Valentine, Ma. Irish pengen marah tapi tangan Irish di pegang kenceng."

"Abis itu rambut Irish di jambak, kayaknya rambut Irish rontok deh. Sakit banget!"

"Untung tadi Gabby nolongin aku, jadinya kepala aku gak jadi di jedotin. Gila emang itu guru! Masa nyiksa muridnya sendiri. Emang dipikir dia siapa. Bener gak, Ma?"

"Hmm, emang sih Bu Valentine lakuin itu karena Irish abis bully Elis. Abis Irish gak suka sama cewek itu. Sok cantik dan sok pinter!"

"Ma, kalau nanti ada yang ngadu ke Mama soal Irish yang suka bully anak lain, mama gak bakal marah kan? Pasti Mama bakal bela Irish. Iya kan?"

"Mama sama Papa aja gak pernah pukul aku. Bisa-bisanya Bu Valentine jambak dan bikin tangan aku memar! Ngeselin!"

"Tapi Ma...kata Bu Valentine dia bakal terus  lakuian hal yang sama ke Irish kalau Irish masih suka bully. Kata dia, itu semua karma buat Irish. Bu Valentine bakal kasih pembalasan buat semua perbuatan Irish. Hahaha!"

FOUR (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang