Tiga puluh

31.8K 4.9K 144
                                    

Tim baca ulang?
Baca kapan nih?

😈Happy Reading😈

Pak Bambang memasuki kelas E dengan langkah wibawanya. Belum merasa aneh karena mendadak susana di kelas begitu berbeda, semua pasang mata menatapnya dengan pandangan harap-harap cemas.

Sempat berpikir negatif karena baru pertama kali ini merasakan hawa aneh di kelas E, bisa jadi sebuah malapetaka sedang direncanakan.

"Selamat siang, anak-anak," sapa Pak Bambang memulai kelas. Tidak ada yang menjawab salamnya seperti biasa.

"Sesuai info minggu lalu, hari ini saya akan mengadakan ulangan harian. Meski saya tidak berharap banyak pada kalian, mohon kerjasamanya untuk tidak saling mencontek atau membuka buku. Semua tas dan handphone dikumpulkan di depan kelas!" titah Pak Bambang yang langsung dilaksanakan semua siswa

Pak Bambang terperangah melihat siswa didiknya mendadak jadi penurut dan tak banyak protes. Guru itu tidak tahu bahwa siswa kelas E sebenarnya sedang menahan rasa gugup karena akan mengikuti ulangan dengan baik untuk pertama kalinya.

Para siswa kembali duduk ke tempat mereka. Tak ayal perubahan pada sikap kelas E membuat Pak Bambang sedikit was-was. Tangannya yang mendingin mulai membagikan lembar soal dan jawaban, memberikannya pada anak yang duduk paling depan di setiap baris dan menyuruh mereka mengoper ke belakang.

"Silahkan dikerjakan."

Suasana sedikit gusar, tak setenang tadi. Kemungkinan setelah melihat soal, rasa kepercayaan diri mereka langsung hilang, berganti dengan perasaan kesal karena tidak bisa mengerjakan, ada juga yang pasrah sehingga mengerjakan asal seperti biasanya.

El menggaruk pelipisnya, berusaha mengingat materi yang pernah dipelajarinya. Sementara Joseph terlihat tak berminat, dia sibuk mencoret lembar jawabannya menggambar doodle.

Menyusuri setiap baris bangku, Pak Bambang bisa melihat beberapa siswa mulai mengisi lembar jawabnya. Haruskah dirinya lega dan besyukur?

Tadi sebelum pergi ke kelas, Pak Bambang sempat berbincang dengan Miss Valentine. Guru perempuan itu mengatakan bahwa siswa kelas E diberi challenge untuk bisa mendapat nilai KKM di ulangan kali ini.

Sempat tidak percaya, mengingat anak kelas E tak pernah tertarik pada apapun.

"Mereka tidak seburuk yang kita kira selama ini, Pak. Hanya saja perlu cara yang berbeda untuk menyadarkan mereka."

Begitu kata Miss Valentine. Tanpa sadar Pak Bambang tersenyum tipis. Ternyata kehadiran Miss Valentine cukup berpengaruh untuk siswa kelas E.

Lembar jawaban dikumpulkan setelah satu setengah jam. Meski banyak lembar yang kosong, Pak Bambang tak terlalu merisaukannya. Toh, perubahan kecil tadi sudah menunjukan kemajuan.

Lagipula tidak semua orang bisa berubah dalam hitungan hari kan?

"Bapak akhiri kelas hari ini. Hasil ulangan akan Bapak bagi di pertemuan berikutnya.Sisa setengah jam kalian bebas, tapi jangan berisik dan ganggu kelas lain," tutur Pak Bambang lalu melangkah keluar dengan langkah ringan.

"Gue tadi cuma ngerjain 5 soal doang, itupun ngasal," kekeh Damian sambil memainkan bolpoinnya.

"Itu masih mending. Gue cuma 2 kayaknya," ujar Gibran. Wajahnya kusut karena entah kenapa tadi otaknya mendadak dipaksa berpikir.

"Lo ngerjain berapa, El?" tanya Joseph, kepalanya sudah direbahkan di meja dengan lunglai.

"Hm, gue kerjain semua."

FOUR (Selesai)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang