Tiga dua

37.7K 5.3K 430
                                        

🔥Happy Reading🔥

Di hari yang panas ini, pasokan kesialan bagi kesepuluh siswa kelas E yang tengah menjalani hukuman masih berlanjut. Setelah diperintah mencabut rumput di tengah lapangan saat siang bolong, sekarang mereka harus terperangkap di lingkaran api.

Apa ada yang lebih menakutkan saat ini dari terkurung di tengah kobaran api?

Mereka masih sadar saat Gianna menyalakan pematik dan melemparnya ke rumput kering di hadapan mereka. Namun setelah itu, kesadaran mereka merosot, sangat terkejut, bagai tersengat listrik otak mereka mendadak blank.

Saking terkejutnya, mereka tidak bergerak sama sekali di tempat. Jangankan berlari untuk menyelamatkan diri, bernafaspun mereka lupakan.

Orang yang pertama tersadar dari situasi tersebut adalah El. Netranya melebar saat kobaran api menyambar karena tiupan angin, menambah energi pada api untuk semakin membesar.

"Anjing! Guru bangsat!" umpat El penuh emosi. Di sampingnya, Damian juga ikut memaki tanpa suara.

"Udah gue duga, Bu Valentine ga bakal kasih hukuman nyabut rumput doang!" celetuk Zayn pelan.

"Eh ada lo, Za? Kok gue baru liat?"

Zayn melirik kesal pada Samuel. "Gue di sini dari tadi, cuma gue diem aja. Cosplay jadi patung."

"Eiya kok gue baru sadar ada lo," ujar Joseph.

"Wah parah, masa gak ada yang nyadar ada gue. Lagian gue cuma nyiram air ke lantai tapi ikutan dihukum," kesal Zayn dengan wajah tertekuk. "Mana panas banget lagi!"'

"Sabar ya, Bro. Nanti abis ini gue beliin es teh, deh," Samuel merangkul bahu Zayn.

"Woi lo berdua! Malah ngobrol, gak liat ini kita lagi dibakar ha?" teriak Gibran jengah melihat kelakuan dua temannya.

"HUWA PANAS!" pekik Joseph seperti anak gadis.

Irish dan anak perempuan lainnya sudah terbatuk-batuk karena asap yang mengepul.

"Apinya tambah gede!" seru Damian. Tangannya sibuk menyingkiran asap yang kian tebal, menganggu pernafasan dan juga penglihatannya.

"Gimana caranya kita keluar? Bisa-bisa ini badan gosong duluan," keluh Samuel dengan mata perih.

"Hiks mama. Cici udah tobat. BU VALENTINE MAAPIN CICI HUWAAA!" Cici beteriak keras berharap gurunya itu menyudahi hukuman.

"Gue gak mau mati jadi abu," lirih Gabby. Matanya sudah berkaca-kaca karena menahan tangis dan juga kemasukan asap.

"Jangankan jadi abu. Gue gak mau mati woi! Seenggaknya jangan sekarang."

"Bu Valentine selalu punya cara buat ngalahin kita," gumam Irish.

"Kemarin mau dibom, sekarang dipanggang. Besok apa lagi ya?" Zayn nampak berpikir.

"Iya kalau kita masih bisa liat hari besok!"

"Gak lagi-lagi, deh! Mau tobat juga hiks," Gabby memeluk Cici yang berdiri di sebelahnya dengan mata berair.

"Kaya lagi simulasi di neraka, njir!" Samuel mengipaskan tangannya ke wajah.

Sekarang asap sudah bercampur abu yang berasal dari pembakaran rumput, berkobar-kobar tertiup angin membuat mata pedih.

"Ada yang nolongin kita gak kira-kira?" tanya Samuel berharap.

El meraup wajahnya kasar dan menggeleng. "Nggak ada. Posisi kita jauh dari gedung utama, dan lapangan ini gak pernah dipakai jadi gak bakal ada yang kesini kalau gak disuruh."

FOUR (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang