Terima kasih

667 73 1
                                    

Bianca masih asik mengelilingi pusat kota padahal matahari sudah turun dari peraduannya sejak tadi.

"Nona saya sudah lelah". Jenya berhenti tepat dibelakang Bianca.

"Ya sudah kalau begitu kita cari kereta yang bisa disewa".

Bukankah nekat,pergi kekota besar tanpa kereta pribadi dan tak didampingi seorangpun pengawal.

"Nona maaf saya hanya bisa mendapatkan kereta sederhana ini,hari sudah semakin larut".

"Tidak apa apa yang penting kita bisa pulang".

Dua gadis itu dengan santai menaiki kereta tanpa curiga sedikitpun.

Kereta cukup lama berjalan ketika tiba tiba berhenti.

"Apa sudah sampai?". Tanya Jenya pada kusir.

"Sudah,silahkan keluar".

"Mari nona". Jenya membuka pintu kereta.

"Dimana ini?".

Didepan mereka sekarang hanya terdapat tanah lapang yang gelap gulita.

"Tuan...".

Belum selesai Bianca berbicara beberapa orang sudah muncul dari balik semak semak menghampiri mereka.

Bianca melangkah maju menyembunyikan Jenya dari balik tubuhnya.

"Siapa kalian?".

"Ho ho ho tangkapan kali ini terlihat galak".

"Nona.." Jenya menahan tangisnya.

"Tenanglah,kau harus percaya padaku". Bianca berusaha menenangkan pelayannya.

"Apa yang kalian inginkan?".

"Nona manis,kami hanya butuh semua uang yang kalian bawa, setelah itu kalian akan kami lepaskan".

"Baik,tapi kalian harus menepati janji biarkan kami pergi setelah mendapatkan uangnya".

Bianca meraih kantung uang yang berada disakunya.

Masih ada beberapa puluh koin emas, awalnya akan ia gunakan untuk membeli sebuah kios tapi hingga malam dia belum menemukan yang sesuai.

"Ini..". Bianca melemparkan kantung koinnya.

Seorang pria menangkapnya, melihat isi didalamnya.

"Woooo.... Kita kaya...kita kaya.." teriak pria itu mengeluarkan koin dan memamerkan pada rekan rekannya.

Perampok yang berjumlah 5orang tersebut berkumpul,mereka tidak percaya gadis sederhana yang mereka tangkap ternyata membawa banyak koin emas.

Melihat kesempatan Bianca berbisik pada Jenya.

"Kita harus kabur,bantu aku lepaskan sambungan kereta pada kuda itu".

Sementara para perampok itu masih menikmati kesenangan, Bianca dan jenya  bergegas menaiki kuda.

"Hei...mereka kabur". Seorang pria menunjuk kearah Bianca.

"Cepat naik Jenya".

Binca membantu dengan menarik jenya naik keatas kuda.

"Hiat....".

Kuda mulai berlari, dibelakang mereka para perampok berusaha mengejar.

Ada yang berlari,seorang pria mengendari kuda mengejar mereka.

"Nona hati hati".

Jenya ketakutan,ia memeluk nonanya erat erat.

"Lihat didepan ada orang".

Aku ingin bahagia✔️ (28/02/2022)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang