" Selamat datang Marquess ". Sapa Edgar yang sudah berdiri didepan Mansion keluarga Winchester.
"Ada apa tuan Duke sampai menyambut kami secara langsung".
Bianca yang baru saja turun dari kereta dibuat terkejut dengan kehadiran Edgar.
"Saya baru saja selesai memeriksa seluruh keadaan Mansion, maaf jika saya melewati batas tapi Yang Mulia Putra Mahkota ingin anda terhindar dari berbagai macam bahaya".
"Kalian satu keluarga memang tidak punya sopan santun". Hujat Marquess.
"Ayah,sudahlah lebih baik kita segera masuk".
Bianca menggandeng lengan ayahnya agar segera masuk kedalam Mansion.
"Lady,ada yang ingin saya tanyakan".
Suara Edgar menghentikan langkah kaki Bianca.
"Hah..ayah masuklah terlebih dahulu aku akan berbicara dengan tuan Duke".
"Berbicaralah didalam, aku ingin mendengar apa yang akan ia katakan".
"Baik ayah".
"Tuan Duke silahkan masuk,akan lebih nyaman mengobrol sambil menikmati secangkir teh hangat".
Beberapa cemilan sudah terhidang diatas meja lengkap dengan teh panas dengan uap yang masih mengepul, para pelayan segera undur diri setelah semua makanan tersaji.
"Silahkan dicicipi tuan Duke".
Setelah menegug teh dicangkirnya Edgar mulai membuka pembicaraan.
"Saya ingin meminta ijin menyelidiki semua pelayan dan penjaga Mansion ini, saya takut jika Ratu menyusupkan orangnya".
"Anda mengakui berada dipihak Putra Mahkota atau hanya melaksanakan tugas".
"Marquess saya hanya melakukan hal yang menurut saya benar".
"Jadi bagaimana masalah ini bisa sampai terjadi,kami tidak mungkin membantu jika tidak mengerti akan situasi sebenarnya". Tanya Bianca.
"Saya juga tidak begitu mengerti karena selama ini berada dimedan perang tapi dari hasil penyelidikan 2th terakhir dapat saya pastikan bahwa keluarga ratu terlibat. Semua kerabat ratu kini menjadi orang orang yang berpengaruh bukan hanya dalam politik tapi juga mereka sekarang menjadi semakin kaya tidak ada kerabatnya yang kekurangan. Sebaliknya rakyat semakin menderita pajak yang tinggi, perampasan harta secara sepihak bahkan banyak pembangunan yang seharusnya berjalan tapi tidak tau kemana dananya".
"Keluarga ratu?".
"Benar,mereka bangsawan Cornwall awalnya mereka hanya bangsawan biasa tapi beberapa tahun terakhir kekuatan mereka semakin besar apalagi di ibu kota, tidak ada yang berani melawan mereka".
"Cornwall, aku ingat 5th yang lalu mereka melakukan pengiriman kebenua seberang sayangnya kapal mereka menghantam badai,ku kira mereka akan bangkrut karena yang mereka bawa hampir seluruh permata ditambangnya ternyata tidak,justru mereka sekarang lebih sering melakukan transaksi dengan pedagang disana, tapi yang membuatku heran bagaimana bisa bisnis kapas dan kain bisa membuat mereka seberhasil sekarang, kalau kau lihat dipelabuhan cukup banyak gudang milik Cornwall".
"Ini mencurigakan ayah".
"Jadi anda akan membantu?". Tanya Edgar memastikan.
"Mau bagaimana lagi ini menyangkut banyak orang,tapi jika sedikit saja ada yang melukai putra putriku akan kupastikan istana membayarnya!". Putus Marquess tegas.
"Terima kasih Marquess".
"Sudahlah,aku akan kekantorku memeriksa dokumen".
Marquess meninggalkan dua orang yang kini hanya duduk terdiam.
"Mau melihat lihat rumah kaca". Tawar Bianca.
"Tentu".
Musim dingin telah tiba jadi sudah tidak ada bunga yang mekar,tapi rumah kaca tetap menjadi tempat yang indah untuk Bianca.
Mereka melihat lihat beberapa tanaman yang masih bertahan ditengah dinginnya cuaca.
"Disini tidak terlalu dingin dibanding diluar".
"Bianca".
Edgar meraih tangan gadis yang tengah menyentuh beberapa tanaman, membuat Bianca tersentak.
"Edgar".
Pria itu menarik Bianca masuk kedalam pelukannya.
"Hei,,apa yang kau lakukan".
Bianca meronta mencoba melepaskan diri.
"Aku merindukanmu". Gumamnya.
Edgar memeluk erat tubuh kecil Bianca membuatnya tenggelam dalam dada bidang miliknya.
"Bagaimana jika ada yang melihat!".
"Biarkan saja".
"Kau gila,lepaskan". Bianca memukul dada Edgar tapi pria itu tak bergeming.
Setelah beberapa saat akhirnya Bianca berhenti meronta.
"Aku akan melindungimu apapun yang terjadi". Bisik Edgar.
"Apa kita akan berperang?".
"Kau bisa menganggapnya seperti itu".
"Apa ratu begitu mengerikan".
Karena tak mendapat jawaban Bianca mendongakkan wajahnya keatas menatap wajah pria yang masih belum mau melepaskan pelukannya.
Edgar menunduk mengangkat sebelah tangannya, menyentuh pipi Bianca yang memerah karena cuaca dingin.
"Hampir setiap malam aku memimpikanmu" . Desahnya.
Tangan Edgar turun ke dagu bianca, mengangkatnya sedikit dan matanya mengunci bibir merah gadis itu, perlahan wajahnya mendekat.
Bianca menahan nafasnya,ia dapat merasakan benda hangat dan kenyal itu menempel dibibirnya.
Ini ciuman pertamanya dikehidupan ini.
Bibir Edgar yang awalnya hanya menempel kini mulai bergerak mengecup lalu mengulum bibir atas dan bawah Bianca secara bergantian.
Walau tak menyangka Edgar akan menciumnya tapi Biancapun akhirnya membalas ciumannya, kedua tangannya kini sudah berpindah mengait leher Edgar.
Dan tangan pria itu memeluk erat pinggang Bianca tak membiarkannya lari.
"Kau milikku Bi".
Bisik Edgar disela ciumannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Aku ingin bahagia✔️ (28/02/2022)
RomanceKehidupan pertamanya,bisa dikatakan kurang beruntung, hidup sebagai anak pertama ia dituntut harus hidup mandiri,dewasa sebelum waktunya. Lahir dalam keluarga broken home tidaklah mudah. Lalu ia lahir kembali. Sebagai Bianca Camilla Winchester. Pu...