dua puluh sembilan

2.9K 374 127
                                        

"Gimana?"

Jeongin menggeleng "Gue gagal bawa dia, tapi pacar lo satunya enggak."

"Maksud lo, Chan?"

"Ya emangnya siapa lagi? Gue kan ada disini." Jeongin mendengus. Ia menyenderkan kepalanya pada yang lebih tua. "Tadi tiba-tiba kak Chan dateng dan langsung ngajak kak Felix pergi gitu aja. Gue nggak sempet nahan."

"Berarti rencana gue bikin Chan cemburu berhasil. Soalnya kemaren gue abis ngirim foto gue lagi ciuman sama Changbin ke dia pake akun fake, Gue juga yang ngasih tau dia kalo Felix itu pacarnya Changbin."

Jeongin menjauhkan kepalanya. "Lo gila? Lo beneran ciuman sama Kak Changbin?"

"Ya enggaklah! Norak banget sih lo. Jaman udah canggih kali."

"Iya sih. Terus dia percaya?"

"Tenang aja, Babe. Chan udah ada dibawah kendali gue, dia pasti nggak terima dan ngira kalo Changbin yang ngegoda gue duluan. Kita tinggal nunggu aja apa yang bakalan terjadi sama Felix setelah ini."

"Bagus deh. Seenggaknya untuk sekarang kita nggak perlu repot-repot ngotorin tangan kita buat nyelakain Kak Felix." Ucap Jeongin.

"Tapi gue masih nggak rela ya kalo harus liat lo telanjang di depan kak Chan. Harusnya lo nolak aja pas dia ngajak main. Cuma gue yang boleh liat badan lo dan denger desahan lo yang merdu itu." Lanjutnya.

"Ya mau gimana lagi. Cuma itu cara biar Chan percaya kalo gue beneran cinta sama dia."

"Yayaya."

"Gausah ngambek gitu, makin gemesin tau." Yang lebih tua menarik tengkuk Jeongin untuk menyatukan bibir mereka. Tangan satunya ia gunakan mengusap milik Jeongin yang masih tertidur dibalik celana Jeans yang digunakannya.

Jeongin menyudahi ciuman itu, ia menangkup pipi yang lebih tua menggunakan kedua tangannya. "Lo itu cuma punya gue, jadi jangan coba-coba berpaling dari gue, ngerti?"

"Iya iya. Seungmin cuma punya Jeongin yang gemesin ini."

Mendengar itu Jeongin lantas tersenyum puas. Ia kembali menyatukan bibirnya dan Seungmin. Keduanya saling menikmati bibir satu sama lain dibawah cahaya bulan yang semakin redup karena awan gelap yang mulai berkumpul pertanda hujan akan segera turun.

*****

Hyunjin terus mondar mandir di depan ruangan tertutup itu. Berkali-kali ia menggeram marah membuat orang-orang yang berada disekitarnya tidak berani mendekat kearahnya.

Saat ini Hyunjin benar-benar sedang sensitif. Ia bahkan tidak segan-segan untuk memukul siapa saja yang berani mendekatinya. Berkali-kali ia mengintip kedalam ruangan itu untuk memastikan jika orang yang berada didalam sana baik-baik saja.

Cklek

Hyunjin menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ia langsung mendatangi dokter yang baru keluar dari ruangan itu dan mencengkram kuat kerah bajunya hingga membuat dokter itu terbatuk.

"Gue nggak mau denger kabar buruk."

Dokter tersebut perlahan melepaskan cengkraman Hyunjin. "Pasien tidak mengalami luka fisik yang serius. Tapi yang saya khawatirkan adalah kemungkinan dia akan mengalami trauma setelah apa yang dialaminya."

"JAGA OMONGAN LO!!" Hyunjin memukul dokter tersebut hingga jatuh ke lantai.

"Maaf, saya hanya menyampaikan kekhawatiran saya. Saya akan mendatangkan psikolog untuk memeriksanya setelah dia sadar nanti. Untuk sekarang anda bisa melihatnya. Saya permisi." Dokter tersebut pergi meninggalkan Hyunjin sendirian di depan ruang rawat Felix.

Hello SweetyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang