Saat ini Changbin sedang berada di sebuah taman yang letaknya cukup jauh dari rumah sakit. Dia terlihat sedang mencari keberadaan seseorang di taman yang kosong tersebut.
Wajar saja, sekarang sudah pukul satu dini hari. Orang mana yang mau mengunjungi taman tengah malam seperti ini jika bukan Changbin.
Tadi, Changbin mendapat pesan dari nomor tidak di kenal dan memintanya untuk datang kesini. Karena penasaran, Changbin pun akhirnya mendatangi tempat ini untuk mencari tahu orang tersebut.
Dia bukan penakut. Kalau pun yang mengirim pesan padanya itu seorang penjahat, Changbin tidak takut. Dirinya bahkan bisa jauh lebih jahat dari mereka.
"Kasih tau gue dimana Felix sekarang."
Changbin membalikkan badannya saat mendengar suara seseorang di belakangnya. Ia berdecih, menatap tak suka pada orang tersebut. "Jangan mimpi."
"Bin, Gue mohon."
"Sampe lo nangis darah pun gue nggak akan pernah biarin Felix ngeliat wajah bajingan lo lagi."
"Gue kakaknya, gue berhak tau keadaannya."
"Apa lo bilang? Kakak?" Changbin mendekat kearah Chan dengan mata yang berkilat marah.
Bugh!
Changbin membogem wajah Chan hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah. "Lo bahkan nggak pantes dapet sebutan itu. Dan inget, Felix nggak punya kakak bajingan kaya lo!"
"Please, Izinin gue ketemu dia sekali aja." Chan memohon. Dia mengusap hidungnya yang berdarah akibat pukulan Changbin.
"Gue biarin lo tetep hidup bukan berarti gue kasihan sama lo. Jadi buang jauh-jauh harapan lo itu."
Changbin memperhatikan penampilan Chan, pria itu terlihat sangat berantakan. Bibir pucat, kantung mata yang terlihat sangat jelas juga pakaian seadanya yang sedikit kusut.
Changbin tidak tau apa yang terjadi pada si sulung Bang beberapa hari ini. Dan kalau boleh jujur, Changbin juga tidak mau tau tentang manusia itu.
Tidak penting.
"Please, Bin. Gue cuma pengen liat wajah adek gue."
"Lo pikir gue peduli?"
"Satu lagi, jangan pernah sebut Felix sebagai adek lo. Felix hak gue dan lo bukan siapa-siapanya dia lagi. Felix bukan lagi bagian dari keluarga Bang, Jadi lo nggak punya hak apapun buat maksa ketemu sama dia."
Changbin berjalan meninggalkan taman tersebut. Melihat wajah Chan saja sudah membuat Changbin muak dan dia tidak ingin sampai kelepasan membunuh pria itu.
Jika orang lain yang melihat, mereka pasti akan merasa iba pada Chan. Tapi sayangnya Changbin bukan orang lain, dan dia tidak semudah itu untuk bisa kasihan pada orang lain selain keluarganya dan tentunya Felix.
*****
"Pergi."
Jisung bersiap menutup pintu apartemennya namun ditahan oleh seseorang yang berdiri di depannya.
"Kali ini aja jangan ngehindar dari gue, Sung."
"Nggak ada yang perlu di bicarain lagi. Kita udah selesai."
"Nggak. Sampai kapanpun gue nggak akan pernah lepasin lo."
"Mau lo apa?" Jisung menatap lawan bicaranya.
"Ayo balik kayak dulu lagi. Gue kangen lo."
"Nggak bisa."
"Please, kasih gue kesempatan sekali lagi." Minho membuang jauh-jauh egonya. Dia bahkan tidak malu saat memohon di depan Jisung. Karena yang terpenting adalah Jisung mau memaafkannya dan kembali padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello Sweety
Ficção Adolescente"Jangan nangis." -Hj- "Selama ada gue, ga akan ada satu orang pun yang boleh nyakitin lo." "Tanpa seizin gue." -Cb- ⚠️HOMOPHOBIC DILARANG MENDEKAT⚠️ • NC🔞 • BxB Start : 12/1/22 End : 3/4/22 #1 in hyunlix 15/2/22 #2 in changlix 26/3/22 #1 in seungm...
