lima puluh satu

2.2K 362 85
                                        

Felix memejamkan matanya saat merasakan perih yang menjalar keseluruh tubuhnya.

"Akh!"

Lagi-lagi ujung gesper yang tajam itu kembali menggores tubuh mulusnya. Entah sudah berapa kali benda itu menyentuh kulit Felix dengan keras hingga meninggalkan jejak darah yang mulai menetes ke lantai.

Felix menggigit bibir bawahnya berusaha untuk tidak mengeluarkan rintihannya saat Jeongin kembali melontarkan sabuk itu kearahnya.

"Kok diem aja sih, Kak? Kurang kerasa ya?"

Lihatlah bajingan itu, dia bahkan masih bisa berucap lembut saat kedua tangannya sibuk menyiksa tubuh kecil Felix.

"Nggak asik ah. Kemaren aja Felicia nangis-nangis masa Kak Felix enggak."

Jeongin membuang sabuknya ke sembarang arah dan menatap Felix yang cukup mengenaskan. Badan pria manis itu dipenuhi lebam biru keunguan dan beberapa bagian yang juga mengeluarkan darah.

Jeongin menghampiri ponselnya yang terus bergetar diatas meja yang tak jauh darinya.  Sedangkan Felix berusaha menggerakkan badannya yang terasa remuk.

Felix mencoba untuk tidak merintih meski Badannya terasa seperti mati rasa karena cambukan yang Jeongin lontarkan padanya.

Felix menatap Jeongin yang juga menatapnya penuh arti. Pria itu melihat kearah ponselnya lalu melihat kearah Felix lagi. Terus seperti itu selama beberapa saat sampai akhirnya Jeongin keluar dari ruangan itu meninggalkan Felix sendirian tanpa sepatah kata pun.

*****

Seungmin menoleh kesana kemari sambil menunggu Jeongin yang akan menjemputnya sebentar lagi. Saat ini dia sedang berada dibandara setelah melakukan perjalanan dari Jeju ke Seoul.

Tak berselang lama, akhirnya orang yang ditunggunya pun tiba. Seungmin berjalan mendekati Jeongin dan langsung memeluknya manja.

"I miss you, baby."

"Me too."

Seungmin langsung menarik tengkuk Jeongin untuk menyatukan bibir mereka. Keduanya saling menyesap bibir satu sama lain untuk menyalurkan rindu yang mereka rasakan.

Mereka terus berciuman tanpa mempedulikan banyaknya orang yang berlalu-lalang disekitarnya.

"Mana hadiahnya?" Seungmin bertanya setelah Jeongin melepaskan ciuman mereka.

"Ada di suatu tempat. Mau liat sekarang?"

Seungmin mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya dia sedikit merasa aneh pada Jeongin. Pasalnya wajah pria itu terlihat sangat datar. Jika biasanya Jeongin akan selalu tersenyum saat bertemu dengannya, kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan senyum manisnya.

Seungmin membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Ia berpikir mungkin Jeongin hanya lelah.

Jeongin mengecup bibir Seungmin sekilas lalu membawanya masuk ke mobil. Ia segera melajukan mobilnya menuju ke tempat dimana dia menjanjikan sebuah hadian untuk kekasihnya itu.

Membutuhkan waktu sedikit lama untuk mereka sampai di tujuan. Letak tempat itu yang cukup jauh dari keramaian dengan jalanan yang cukup terjal sehingga mereka tidak bisa melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Seungmin turun lebih dulu dan menatap sebuah gedung tua yang sudah tidak terpakai di depannya.

"Disini?" Tanya Seungmin.

"Iya. Ada di dalam." Jeongin merengkuh pinggang ramping Seungmin lalu membawanya masuk ke gedung tua itu.

Jika dilihat dari luar, gedung tersebut masih terlihat bagus. Hanya saja karena sudah terlalu lama dibiarkan, jadi bagian dalamnya banyak yang rusak karena termakan usia. Lampu-lampu disana juga masih menyala meski tidak terlalu terang.

Hello SweetyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang