"Itu bukannya Kak Chan ya?"
"Nggak tau. Iya kali."
"Liat dulu kampret! Lama-lama gue buang juga tuh HP."
"Mana?" Minho akhirnya mengantongi kembali ponselnya setelah Jisung menggeplak kepalanya dengan tidak manusiawi.
"Itu yang lagi duduk sendirian di pinggir danau."
Minho menyipitkan matanya untuk melihat kearah yang Jisung tunjuk.
Jika dilihat dari postur tubuhnya, itu memang Chan, tapi untuk apa pemuda itu pergi ke danau malam-malam begini.
"Terus kenapa emangnya kalo itu beneran Chan?" Tanya Minho.
"Penasaran aja sih. Soalnya gue sering banget liat dia kesini malem-malem sendirian."
Jisung memang sering memergoki Chan yang sedang termenung di danau itu sendirian. Kebetulan letak danau itu tidak jauh dari apartemen tempat tinggalnya. Jadi setiap Jisung ingin keluar, dia pasti akan melewati danau tersebut.
"Lagi mancing kali." Jawab Minho asal.
"Serius, Ino!"
"Ya mana gue tau dia ngapain di situ. Tanya sendiri sono kalo mau."
Lihatlah pasangan abnormal ini. Padahal baru sehari mereka berdamai, namun sekarang kebiasaan mereka mendebatkan hal-hal yang tidak penting sudah kembali lagi.
"Udahlah, ngapain sih ngurusin dia." Minho memarik kedua tangan Jisung agar memeluknya.
"Dia kan temen lo, gimana sih."
"Gue nggak pernah nganggep dia temen tuh."
Ini penting. Orang seperti Minho tidak mungkin mau berteman dengan sembarang orang. Tapi jika orang itu bisa memberikan keuntungan atau timbal balik padanya, barulah Minho bisa mempertimbangkannya. Semacam simbiosis mutualisme.
Minho dan Chan memang dekat. Tapi sepertinya hanya Chan saja yang menganggap Minho sebagai temannya sedangkan Minho sendiri tidak pernah mengakui hal itu.
Siklus pertemanan itu sangat memuakkan. Mereka selalu datang dan pergi sesukanya. Oleh sebab itu hanya ada satu pilihan jika ingin memiliki teman, memanfaatkan atau dimanfaatkan. Itu adalah poin penting yang harus selalu diingat.
"Jahat banget lo." Jisung menjitak kepala Minho.
"Emang. Gue kan baiknya cuma sama lo doang." Minho melihat wajah Jisung lewat kaca spion. "Ini jadi ke minimarket nggak sih?"
"Ya jadi lah. Buruan. Lelet banget."
Minho cengo. Padahal tadi Jisung yang memintanya berhenti sebentar untuk mencari angin. Kenapa malah jadi dia yang disalahkan.
Daripada Jisung makin mengamuk seperti orang kesurupan, Minho memilih langsung melajukan motornya menuju minimarket terdekat.
*****
Seorang remaja terlihat sedang melamun sendirian di pinggir danau.
Chan, sudah sejak dua jam lalu dia hanya duduk termenung di danau itu. Tatapannya kosong. Dia terlihat seperti orang yang sedang putus asa dan tidak memiliki tujuan hidup.
Di pipinya terdapat jejak air mata yang hampir mengering menandakan jika dia baru saja menangis.
Di sebelah Chan ada sebuah bingkai berisikan foto dua anak kecil yang terlihat sangat bahagia. Wajah keduanya sedikit mirip terutama pada bagian mata.
Tangan Chan mengambil kembali bingkai tersebut dan menatapnya dalam.
"Maafin Kakak." Gumamnya lirih.
"Kakak kangen sama Lixie. Kakak pengen peluk kamu lagi kayak dulu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello Sweety
Novela Juvenil"Jangan nangis." -Hj- "Selama ada gue, ga akan ada satu orang pun yang boleh nyakitin lo." "Tanpa seizin gue." -Cb- ⚠️HOMOPHOBIC DILARANG MENDEKAT⚠️ • NC🔞 • BxB Start : 12/1/22 End : 3/4/22 #1 in hyunlix 15/2/22 #2 in changlix 26/3/22 #1 in seungm...
