"Sebentar bang, handphone Icung dari tadi bunyi. Tolong pegangin dulu belanjaannya." Jisung memberikan semua kantung belanjaan yang ia bawa pada Chenle.
"Bentar ya, Icung angkat telepon dulu." Jelas Jisung sambil merogoh ponsel di saku celananya.
"Siapa yang nelpon?"
Jisung menatap Chenle agak kaget, Jisung memperlihatkan layar ponselnya kepada Chenle.
"Tumben?"
Jisung menggeleng.
"Icung juga gak tau ada apa tiba tiba bang Renjun nelpon." Jisung menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Hallo bang?" Tanya Jisung agak hati hati sambil melihat ke arah Chenle.
"Loud speaker coba," bisik Chenle yang membuat Jisung menuruti permintaanya.
"Lo dimana cung?"
"A—em Icung masih di supermarket bang. Kenapa bang?"
"Kesana sama siapa?"
"Sama Chenle bang." Jawab Jisung hati hati.
"Oh,"
"Abang tumben telepon Icung, ada apa ya ba—"
"Nanti kita obrolin aja di rumah, cepet pulang! Udah malem juga," Sergah Renjun dengan cepat.
"Oh yaudah, Icung tutup telep—"
Tut...tut..t....
Jisung menatap layar ponselnya saat panggilan suaranya langsung dihentikan oleh Renjun, padahal Jisung belum menyelesaikan ucapannya.
"Aneh banget," Ucap Jisung sambil memasukan ponselnya ke saku dan mengambil alih kembali kantung kresek barang belanjaannya.
"Langsung dimatiin?"
"Iya, padahal Icung kan belum selesai ngomong."
"Yaudahlah biarin, tapi aneh gue. Gak biasanya kan bang Renjun telepon Lo?"
"Iya, Icung juga agak aneh. Kayaknya ada yang mau dia omongin, tapi gatau sih—"
"Semua barang udah kita beli kan?" Jisung yang sedang fokus membenarkan posisi belanjaannya pun langsung melirik Chenle.
"Kayaknya udah deh bang,"
"Barang bang Haechan udah di beli kan? Gue gak mau ya kalo dia ceramahin kita lagi!" Dengus Chenle dengan sebal.
"Udahhh,"
Sehabis itu hening kembali, Jisung kembali merapikan barang belanjaan pada motor sedangkan Chenle malah melamun, ia ingin bertanya sesuatu pada Jisung namun entah mengapa ia ragu untuk menanyakannya.
Chenle merasa jika Jisung akhir akhir ini agak aneh, bahkan sering kali Chenle mendapati Jisung yang tengah mengobrol sendiri dan itu terkadang terjadi saat tengah malam. Bahkan Jisung juga Sekarang lebih sering mengurung dirinya di kamar di banding mengobrol di luar kamar.
"Bang, helm Icung."
Chenle masih asik melamun, sedangkan Jisung menghela nafas.
"Malah ngelamun lagi," Gerutu Jisung dengan suara kecil.
"Bang!!!" Jisung memetikan jarinya tepat di depan wajah Chenle, sampai Chenle pun tersadar.
"Apasih?"
"Helm Icung!!! Abang tuh ya dari tadi ngelamun Mulu!" Jisung merebut helmnya dari tangan Chenle lalu memakainya.
"Dih, makannya jangan marah marah Mulu. Sini gue cetrekin helmnya." Jisung senyum ke arah Chenle saat Chenle peka padanya.
"Cung!"
Jisung yang sudah duduk di belakang Chenle pun menempelkan dagunya pada bahu Chenle.
"Apa??"
"Gue mau nanya sesuatu sama Lo," ucap Chenle sambil menyalakan mesin motornya.
"Tanya apa?"
Chenle diam saat Jisung melontarkan kata kata itu.
"Bang!!!"
"Nanti aja deh,"
Jisung menggerutu kesal dengan jawaban Chenle.
Keduanya sama sama hening tak ada yang mau memulai percakapan.
"BANG BANG!! STOP STOP!"
Chenle memberhentikan motornya secara mendadak, membuat Jisung langsung memeluk Chenle dengan refleks.