Chapter 22

270 36 140
                                        

Elliot terdiam memperhatikan layar ponselnya yang menampilkan seorang gadis berambut coklat gelap panjang terduduk di atas kursi taman dengan satu apel merah di salah satu tangannya tengah tersenyum lebar ke arah kamera.

"Gadis yang cantik."

Pria tersebut tersentak kaget mendengar suara tiba-tiba itu lalu mendongak menemukan Karleen yang langsung tertawa lantas terduduk di sampingnya sambil sesekali memperhatikan wajah gadis pada layar ponsel Elliot.

"Kekasihmu?" tanyanya membuat pria itu menggelengkan kepalanya lalu menunjukkan foto tersebut pada Karleen yang langsung mendekatkan wajah untuk meneliti wajah cantik gadis tersebut. "Dia... Terlihat cukup mirip denganmu."

"Tentu saja, dia Jane. Adik kandungku."

"Oh, kau punya saudara? Kenapa tak pernah membawanya ke sini? Aku juga ingin bertemu dengannya." ucap Karleen terlihat bersemangat yang mana hal itu berhasil membuat Elliot tersenyum miris lalu menunduk memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.

"Tentu, aku akan mengajakmu untuk menemuinya. Sayangnya kau hanya akan melihat tumpukan tanah yang ditumbuhi rumput hijau." ucapan gelap Elliot berhasil membuat Karleen bungkam lalu berdehem merasa tak enak akan perkataannya sendiri.

"Aku minta maaf, Elliot. Aku---"

"Bukan salahmu. Mengapa tak masuk ke rumah? Ini sudah malam." potong Elliot mengalihkan pembicaraan dan menoleh pada Karleen yang bersandar pada pilar di dekat teras tangga bangunan depan paviliun.

"Hanya bosan."

"Bosan atau tak enak karena kau melihat Allyson?" tanya Elliot mengejek Karleen yang langsung memutar bola mata kesal lalu menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.

"Hanya sedang kesal pada keadaan."

"Aku merasakannya." balas pria tersebut langsung tersenyum pada Benjamin yang melangkah mendekat lalu terduduk di samping Karleen seraya meletakkan dua botol alkohol di samping Elliot.

"Tidak bisakah pria mengobrol tanpa alkohol?"

"Sulit, Karleen." balas Benjamin mengeluarkan salah satu batang rokok dari dalam bungkusnya lalu membakar ujungnya menggunakan pematik.

"Apa yang hendak kalian lakukan? Berjudi?" tanya Karleen berhasil membuat Benjamin dan Elliot terbahak mendengar perkataan gadis tersebut.

"Kami tak perlu berjudi hanya untuk mendapatkan uang, nona Karl." balas Benjamin meraih satu botol alkohol lalu membuka tutup botolnya.

"Lalu? Kalian memang mau melakukan apa?"

"Kami hanya akan berkeliling rumah." ucap Elliot beringsut berdiri seraya merunduk mengambil botol alkohol yang tergeletak di samping kaki Karleen. "Aku akan ke kamar sebentar, Ben." lanjutnya sebelum melangkah memasuki pintu depan paviliun yang terbuka.

Karleen menoleh pada Benjamin yang sedang menghisap rokok miliknya sambil bersandar pada pilar memperhatikan langit malam yang kosong tanpa ada taburan bintang ataupun sinar bulan.

Merasa diperhatikan Benjamin menoleh menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap sebelum menjepit rokok di antara bibir tipisnya sambil memperhatikan Karleen dengan tatapan aneh.

"Apa?"

Mengerti ke mana arah pandangan Karleen membuat Benjamin menatap tak percaya ke arah gadis itu dan menunjuk bungkus rokok yang tergeletak di atas teras tangga paviliun.

"Boleh aku minta?"

"Serius? Kau seorang perokok?" tanya Benjamin menatap Karleen dengan tatapan tak percaya dan gadis itu memutar bola mata mendengar pertanyaan pria tersebut.

RICH MAN [H.S]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang