Chapter 43

323 42 114
                                        

Setelah menyelesaikan pekerjaannya hingga sore bahkan hingga menjelang malam hari kini Karleen melangkah memasuki kawasan rumah megah di pusat kota dan segera menekan bel rumah dengan perasaan yang tak karuan.

Kini wanita itu hanya berharap jika hanya pelayan Harrylah yang membuka pintu dan ternyata harapan Karleen hanyalah angan semata ketika menemukan si mata hijau yang ternyata membuka pintu rumah disertai senyuman miringnya.

"Di mana Adrien?" tanyanya penuh penekanan dan melayangkan tatapan penuh kebencian pada Harry yang langsung menampilkan wajah terkejut yang dibuat-buat.

"Seperti itukah caramu bertamu?" tanyanya penuh sindiran yang mana hal itu berhasil membuat Karleen menahan malu dan mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum kembali mendongak menatap Harry setelah mengumpulkan keberanian.

"Aku tidak akan meminta maaf."

"Baiklah, silakan masuk." ucap Harry memutar bola mata malas dan melebarkan pintu hingga membuat Karleen terpaksa melangkah masuk dan terduduk di atas sofa ruang tamu dengan perasaan kesal.

"Di mana Adrien?"

"Shh, mungkin kau butuh minum setelah pulang bekerja. Sebentar, akan ku ambilkan---" Karleen yang bergerak cepat untuk bangkit kini berhasil melayangkan tamparan keras pada Harry yang langsung mematung dan menatap wanita tersebut dengan tatapan terkejut.

"Apa yang baru saja kau lakukan? Menampar Tuan rumah?"

"Aku tak peduli dengan status kaya rayamu karena tujuanku ke sini hanya untuk menbawa Adrien pulang." Harry menahan tubuh Karleen yang hendak menerobos memasuki rumahnya dengan tatapan santai. Dia rupanya sama sekali tidak terpancing emosi.

"Adrien sedang tertidur, biarkan dia beristirahat."

"Minggir, ku pastikan ini terakhir kalinya kau bertemu dengan Adrien karena aku akan segera membawanya menjauh darimu." ucap Karleen mengerang kesal ketika Harry bergerak lebih cepat menahannya.

"Jika kau lelah pulanglah, aku akan mengantarnya pulang besok pagi."

"Tidak, tak akan kubiarkan kau kembali menginjak rumahku lagi setelah ini. Kau pikir apa yang kau lakukan setelah memaksaku aborsi dan sekarang kau bertingkah seolah memohon untuk mengambil hak asuhnya setelah tujuh tahun tak bertemu?" ucap Karleen berhasil membuat Harry terdiam dan menatap wanita tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Rumahmu? Maaf, aku sudah membeli rumah itu dari Elliot." ucapan Harry berhasil membuat Karleen mematung dan menatap pria tersebut dengan tatapan tak percaya. Apa dia bercanda?

"A-apa? Baiklah, kalau begitu aku akan dengan senang hati keluar dari rumah itu dan---"

"Dan kemana lagi kau akan membawa anakku sengsara?" ucapan Harry yang sensitif rupanya mampu membuat Karleen mengepalkan kedua tangan menahan rasa emosinya yang kembali menggebu.

"Setidaknya aku mampu untuk mendidik dan merawatnya hingga sebesar itu meski dengan keadaan ekonomi yang sangat rendah."

"Aku tidak membahas cara didikan ataupun ekonomimu." ucap Harry berhasil membuat Karleen mengalihkan pandangan dan menepis kasar tangan pria tersebut yang mencengkeram bahunya.

"Kau berengsek! Pria paling bajingan yang---"

"Harry?"

Karleen mematung mendengar suara asing itu dan menoleh menemukan seorang wanita berambut hitam sebahu kini berdiri tak jauh di depan mereka disertai senyumannya. Senyuman khas yang mampu menyadarkan Karl jika wanita tersebut merupakan seorang ibu dari pria bajingan yang berada di sampingnya.

"Apa kau Karleen?" tanya wanita asing itu terkejut disertai senyuman lebarnya dan dengan canggung Karl mengangguk disertai senyuman tipis. Tentu ia tak dapat menyiksa ataupun memarahi Harry di hadapan ibunya, bukan?

RICH MAN [H.S]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang